Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
51. Kembali ke Jerman


__ADS_3

Hidup adalah pilihan. Dan konsekuensi dengan pilihan hidup yang kita jalani adalah bukti sikap dan karakter yang kuat dalam menjalani hidup yang penuh dengan beragam warna. Pilihlah jalan yang akan membawamu menuju kepada sebuah perubahan, tidak hanya bagi dirimu, tetapi juga bagi orang lain.


Eda Sally


*****


Shandra dan John menghabiskan bulan madu yang masih tersisa beberapa hari. Shandra memilih untuk menghabiskan sisa waktu bulan madu di hotel saja. Alasannya karena ia tidak ingin terjebak lagi dengan perkelahian.


Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh John dengan memberikan serangan bertubi-tubi kepada Shandra setiap kali ia menginginkan istrinya itu.


Shandra yang sudah terbiasa dengan ulah John sudah tidak protes lagi. Namun jika moodnya tidak bagus, ia akan menghajar John jika John berani menyentuhnya.


Hari ini adalah hari terakhir mereka bulan madu. Sejak pagi John sudah membereskan barang-barang mereka saat Shandra masih tidur.


"Sayang, ayo bangun sebelum kita ketinggalan pesawat." Ujar John dengan lembut sambil membangunkan Shandra.


"Aku masih ingin tidur, John!" Jawab Shandra dari balik selimut.


"Aku tidak apa-apa kalau kita ketinggalan pesawat. Aku malah senang jika kita semakin lama di sini, karena aku bisa melakukan semua hal yang aku suka sampai puas." Ujar John menggoda Shandra.


Shandra langsung menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya dan segera duduk begitu mendengar apa yang dikatakan John.


"Tolong mandikan aku. Aku lagi malas bergerak." Ujar Shandra.


Tumben manja. Biasanya tidak seperti ini. John.


Mendengar perkataan Shandra, John segera menggendong tubuh Shandra dan membawanya ke kamar mandi. Ia dengan senang hati memandikan istrinya itu yang pagi ini bertingkah seperti bayi.


John yang sudah terpancing melihat tubuh polos istrinya, akhirnya menuntut jatahnya, yang mau tidak mau harus dipenuhi oleh Shandra.


Setelah selesai, mereka segera berangkat menuju bandara. Perjalanan kembali ke Jerman tidak mengalami kendala apapun.


*****


Saat mobil yang menjemput Shandra dan John memasuki mansion mewah milik keluarga Dalmiro, nampak Grandpa, Grandma, dan papanya Shandra serta Alaric Bruno sudah duduk dengan santai di depan rumah utama untuk menanti kedatangan mereka.


Begitu turun dari mobil, Grandma yang maju terlebih dahulu dan memeluk cucu kesayangannya itu.


"Kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya grandma dengan khawatir.


"Seperti yang grandma lihat." Jawab Shandra sambil melepaskan pelukannya dan mencium grandma.


Mereka kemudian memeluk dan mencium orang tua mereka satu persatu.


"Kapan kalian akan memberikan kami cicit?" Tanya Grandpa begitu Shandra dan John sudah duduk bergabung dengan mereka.


"Biarkan mereka istirahat dulu sayang?" Tegur Grandma pada Grandpa.


"Lagi pula, Grandma yakin dalam waktu dekat pasti sudah ada." Grandma menambahkan.


Shandra tidak menanggapi perkataan grandpa dan grandmanya. Ia bangun dan langsung berjalan ke kamar tanpa mempedulikan John.

__ADS_1


"Maafkan putri saya tuan Alaric. Putri saya memang cuek jika kita membicarakan hal yang tidak ia sukai." Ujar Wilson, papa Shandra.


"Tidak apa-apa, Tuan! Saya paham." Jawab Alaric Bruno.


"Segera susul istrimu. Jangan pernah biarkan istrimu memikul bebannya sendiri. Jika ia marah, kau orang pertama yang harus meredakan amarahnya." Ujar Alaric Bruno kepada John.


Tanpa menjawab lagi, langsung beranjak dan menyusul Shandra. Baretta mengantarkannya menuju kamar Shandra.


Begitu sampai di dalam kamar, John melihat Shandra baru saja selesai mandi. Tanpa banyak kata, John juga melakukan hal yang sama.


Selesai mandi, suami istri itu duduk saling berdampingan di sofa.


"Apa rencanamu setelah ini?" Tanya John kepada Shandra.


"Apa kita masih punya waktu libur lagi?" Shandra tidak


menjawab dan malah balik bertanya.


"Masih empat hari lagi. Ada apa sayang?" Tanya John sambil membelai rambut Shandra dengan lembut.


"Aku ingin sisa waktu ini kita pakai untuk ke Indonesia. Aku akan meminta tambahan waktu dari grandpa jika perlu." Jawab Shandra.


"Wah! Aku sangat setuju sayang. Terima kasih." Ujar John sambil meraih wajah Shandra dan menciumnya.


"Lalu kapan rencanamu untuk ke Indonesia?" Tanya John setelah menyelesaikan ciumannya.


"Besok pagi." Jawab Shandra enteng.


"Apa kau keberatan? Aku akan pergi sendiri kalau begitu." Jawab Shandra.


"Aku sama sekali tidak keberatan sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan." Ujar John memberikan alasannya.


"Jangan khawatirkan diriku. Pikirkan dirimu sendiri." Ujar Shandra sambil berdiri dan menuju ke tempat tidur.


"Mau kemana sayang?" Tanya John saat melihat Shandra bangun.


"Mau tidur." Jawab Shandra sambil membuang diri di tempat tidur.


John yang juga merasa kelelahan, segera mengikuti Shandra dan berbaring di samping tubuh sang istri.


"Aku menginginkan dirimu." Bisik John dengan lembut di telinga Shandra.


"Aku lagi tidak mood, John! Aku hanya ingin tidur." Pinta Shandra.


"Please! Aku akan melakukannya dengan cepat." Rengek John.


"Awas saja kalau lama!" Tegas Shandra.


"Aku janji sayang." Jawab John dengan cepat.


Karena sudah mendapat kode dari Shandra, John tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung melancarkan serangan pembuka yang membuat Shandra terlena.

__ADS_1


Shandra yang sudah dibuat terlena oleh John, segera melupakan ancamannya yang menyuruh John untuk melakukannya dengan cepat.


John sangat menikmati permainannya dan fokus dengan aktifitasnya, yang membuat istri kecilnya meronta-ronta. Ia melepaskan semua tenaganya, seolah rasa lelah yang tadi masih dirasakannya tidak ada sama sekali.


John bahkan merasakan tenaganya makin bertambah. Shandra pun tidak protes dengan apa yang dilakukan John. Keduanya sama-sama hanyut dalam permainan mereka sendiri.


Tak lama kemudian John menjatuhkan tubuhnya dengan napas yang memburu. Tak lupa ia memeluk tubuh wanitanya dengan erat yang juga kelelahan akibat perbuatannya.


"Tadi katanya tidak akan lama." Protes Shandra.


"Maaf sayang. Aku terlalu semangat sampai lupa janji. Tetapi kamu juga menyukainya kan?" Goda John sambil mengeratkan pelukannya dan mencium wajah Shandra berulang kali.


"Tadi katanya mau istirahat. Kenapa masih menciumku?" Tanya Shandra dengan protes.


"Ini juga pemanasan sebelum masuk dalam tahap istirahat." Jawab John dengan enteng.


Shandra yang merasa gemas dengan jawaban John, segera memberikan sebuah pukulan di lengan John yang langsung berteriak kesakitan.


"Kenapa kau memukulku sayang?" Tanya John


"Aku hanya memberikan pemanasan." Jawab Shandra.


"Kamu masih ingin mencoba ronde berikutnya?" Goda John sambil menindih tubuh Shandra.


"Aku tidak mau lagi, John! Jangan memaksaku." Jawab Shandra.


"Tetapi aku masih mau." Jawab John.


"Kenapa kau sangat rakus seperti ini, John?" Tanya Shandra.


"Kenapa kamu juga sangat menggemaskan istriku tersayang. Aku tidak bisa menahan diri jika berada di dekatmu. Aku ingin melakukannya terus." Jawab John sambil kembali melakukan aktifitas yang tidak disetujui Shandra.


Matanya shandra melotot dengan sempurna ketika ia merasakan bibir John sudah berpindah ke tempat favoritnya.


Shandra hanya mampu mencambak rambut John tanpa ampun akibat ulah sang suami yang membuatnya seperti cacing kepanasan.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2