Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
07. Mengawasi perusahaan


__ADS_3

Jika kamu setia dalam perkara-perkara kecil, maka kamu akan memerima tanggung jawab dalam hal-hal besar yang tidak pernah kamu pikirkan. Karena kesetiaan dan kualitas seseorang dapat dilihat ketika ia berhasil dalam menyelesaikan hal-hal kecil.


Semua hal yang kita kerjakan, tidak akan maksimal jika kita sendiri tidak konsekuen dan setia dengan apa yang kita geluti. Karena itu dibutuhkan totalitas dalam semua yang kita kerjakan.


Eda Sally


*****


Shandra pagi ini menjenguk Renan di Rumah Sakit yang sudah berangsur-angsur membaik. Bekas luka di wajahnnya juga tidak kelihatan lagi karena Shandra sudah memerintahkan Sakti untuk membayar Dokter kulit yang dikhususkan untuk merawat Renan agar menghilangkan bekas luka di wajahnya.


"Ndra!" Sapa Renan dengan suara yang lemah dan berusaha duduk.


"Sudah! Tidur saja. Aku cuma sebentar!" Kata Shandra dingin.


"Thank you Ndra, sudah datang jenguk aku."


"Hmmmmm." Gumam Shandra


"Oya terima kasih juga atas perawatan khusus dari dokter kulit. Wajahku sudah pulih." Kata Renan sungguh-sungguh dengan mata yang berbinar.


"Ya! Jangan lagi mengandalkan wajah yang tampan untuk menaklukan wanita. Taklukanlah wanita dengan cara yang terhormat. Karena di luar sana masih banyak yang lebih tampan dari kamu, tapi tidak pernah pamer apalagi menyombongkan diri." Kata Shandra panjang lebar.


Renan hanya terdiam mendengarkan perkataan Shandra tanpa berniat mengiyakan atau membantah. Karena baginya itu hanya akan menguras tenaga. Apalagi ia sendiri sudah merasakan penyiksaan yang luar biasa dari Shandra. Dikasihani dan diberi perawatan khusus saja ia sudah sangat bersyukur.


"Oya! Kata Dokter, lusa kamu sudah boleh pulang. Nanti anak buahku yang akan mengantar kamu." Kata Shandra.


"Ok Ndra! Terima kasih. Tapi, biar anak buahku yang jemput aku saja." Kata Renan menolak.


"Aku nggak suka ditolak atau dibantah. Karena aku menyukai totalitas. Jadi jangan membantah. Tidur yang manis, dan bersikaplah yang manis. Agar aku memperlakukanmu dengan baik."


Renan mengangguk lemah mendengarkan kalimat terakhir dari Shandra.


Hmmmm dasar perempuan gila.

__ADS_1


Tentu saja ia tidak berani berkata seperti itu, karena ia masih merinding membayangkan luka sayatan yang ia alami.


"Aku pulang dulu ya?" Kata Shandra membuyarkan lamunan Renan.


"Kalau kamu butuh apa-apa, nanti kamu bilang aja ke anak buahku. Dan satu lagi, lusa kamu akan diantar anak buahku." Kata Shandra keluar dari ruang perawatan tanpa menunggu respon Renan.


Shandra segera memacu mobilnya menuju perusahaan papanya. Pagi tadi papanya meminta agar hari ini ia menggantikan papanya mengurus beberapa dokumen dan membantu melihat laporan keuangan karena papanya sedang tidak enak badan.


Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, Shandra sudah tiba di perusahaan milik papanya, yang tentu saja miliknya karena ia adalah pewaris tunggal.


Sekretaris papanya, bu Laela, sudah diberitahu tentang kedatangan Shandra. Ia sudah memerintahkan orang suruhannya untuk menjemput Shandra di lantai satu. Namun, orang tersebut tidak mengenali Shandra sehingga setelah menunggu lebih dari satu jam ia menelpon dan menginformasikan kepada bu Laela. Bu Laela mengatakan bahwa Shandra sudah ada di ruangannya.


Sementara itu, Shandra yang mengenakan pakaian semi formal (celana panjang jeans dipadukan dengan blazer ) sudah sampai di ruangan papanya.


"Selamat datang nona muda." Sapa bu Laela sambil membungkuk memberi hormat.


"Terima kasih atas sambutannya. Tolong bacakan jadwalku pagi ini." Kata Shandra tanpa basa basi dan to the point.


Bu Laela segera membacakan jadwal tuan Wilson yang akan diambil alih oleh Shandra hari ini. Shandra mendengarkan dengan seksama dan setelah itu berkata:


"Baik nona muda. Akan saya lakukan sesuai perintah anda." Kata bu Laela sambil menelpon bendahara umum.


Shandra segera pindah dan memilih duduk di ruangan bu Laela yang berseberangan dengan ruangan papanya yang hanya dibatasi oleh sebuah pintu. Tuan Wilson memang memisahkan ruangannya dengan sekretarisnya.


Begitu bendahara yang dipanggil masuk, Shandra segera melihatnya dengan tatapan dingin, dan kemudian memberi isyarat kepada bu Laela untuk menjelaskan.


"Jadi begini pak Hendra. Ini adalah nona muda kita, anaknya tuan Wilson."


Kata bu Laela sambil menunjuk Shandra. Tapi tolong jangan memberitahukan kepada semua karyawan tentang keberadaan nona muda.


"Ma,,maafkan aku yang tidak mengenali nona muda. Selamat datang." Kata pak Hendra sambil berdiri dan memberi hormat.


"Silahkan duduk pak. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan bapak. Tolong bapak berikan semua laporan keuangan enam bulan terakhir. Aku tunggu sekarang."

__ADS_1


"Baik nona muda." Kata pak Hendra sambil beranjak ke ruangannya. Ia segera meng-copy semua laporan keuangan seperti yang diminta dan segera dibawa kepada Shandra.


Shandra segera memeriksa laporan keuangan dan terlihat menganggukan kepala. Ia mulai paham bahwa yang melakukan kesalahan dan menggelapkan keuangan bukan pak Hendra, tapi bawahannya di bagian divisi marketing.


Shandra memerintahkan agar setelah meting nanti diatur pertemuan khusus dengan bendahara tersebut.


Waktu cepat berlalu. Shandra segera bertemu dengan klien dan semua berjalan sesuai keinginannya. Mereka tidak bisa menolak untuk bekerja sama karena pesona dan cara Shandra memaparkan kerja samanya sangat bagus. Meting pun berjalan dengan baik sesuai keinginannya. Bu Laela diam-diam kagum dengan kecerdasan Shandra.


N**ona muda ini lebih pintar dari tuan Wilson. Pantas saja tuan Wilson mempercayainya untuk bertemu klien dan meting. Padahal usianya masih sangat muda.


Setelah selesai, Shandra segera bertemu dengan bendahara yang sudah dibicarakan pagi tadi. Bendahara tersebut terlihat menganggap remeh karena ia berpikir bahwa ini hanyalah gadis kecil yang masih ingusan. Tapi siapa sangka setelah dihujani dengan berbagai pertanyaan dan bukti-bukti yang sudah di print oleh Shandra, bendahara tersebut tidak berkutik dan keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya.


"Mulai hari ini dan seterusnya, ibu aku pecat. Jangan pernah muncul lagi di tempat ini." Kata Shandra.


"Ingat! Jangan berniat merencanakan sesuatu yang buruk pada papa. Karena jika tidak, anda akan berurusan dengan saya." Kata Shandra dengan wajah dingin.


Orang tersebut terlihat gemetar dan dan tidak berani mengangkat wajahnya.


"Dan untuk pak Hendra, kalau bapak menemukan sesuatu yang ganjil dalam laporan keuangan dari bendahara yang lain, segera hubungi saya! Jangan sampaikan kepada papa. Saya tidak mau papa terbeban. Bapak bisa ambil nomor telepon saya di bu Laela untuk berkoordinasi jika ada kesulitan." Kata Shandra.


"Baik nona muda. Terima kasih atas kepercayaannya." Kata pak Hendra.


Setelah dirasa semuanya sudah selesai, Shandra mempersilahkan pak Hendra dan bu Laela untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Sementara ia memilih pulang ke rumah karena menurutnya tugasnya sudah selesai.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍


__ADS_2