Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
48. Keinginan Espen


__ADS_3

Seringkali keinginan membuat kita menghalalkan berbagai cara untuk memuaskannya. Kita mungkin lupa bahwa semakin kita ingin memuaskan keinginan kita, kita akan semakin serakah untuk memiliki banyak hal dengan berbagai cara, tidak peduli cara itu baik atau tidak. Padahal, tidak setiap keinginan kita itu mendatangkan kebaikan.


Eda Sally


*****


Shandra memandang pintu itu dengan tatapan menaksir. Ia sedang memikirkan cara untuk membuka pintu itu. Lalu dengan sigap ia berjongkok dan mengamati lantai tempat kakinya berpijak dengan teliti.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" Tanya John ketika ia melihat Shandra berjongkok dan mengamati sesuatu.


"Bantu aku mencari tombol atau apapun untuk membuka pintu ini." Jawab Shandra.


John tidak berjongkok tetapi mengamati tembok dekat pintu itu dengan teliti.


"Tidak mungkin pintu bisa terbuka dan tertutup dengan otomatis jika tidak ada tombol atau apapun yang akan menggerakkannya." Ujar John pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba, mata Shandra menangkap sebuah tombol yang sangat kecil. Bahkan jari keingking pun masih terlihat besar dibandingkan dengan tombol itu.


"Ah, akhirnya ketemu juga." Ujar Shandra.


Tanpa pertimbangan lagi, Shandra segera memencet tombol itu dengan hati-hati sekali. Baru saja jari Shandra menyentuh tombol itu, pintu langsung terbuka.


"Terima kasih, sayang." Ujar John sambil memeluk tubuh Shandra dengan erat kemudian mengecup bibir mungil itu dengan lembut.


"Ayo segera keatas. Aku sudah tidak sabar untuk membunuh manusia sialan itu." Ujar Shandra sambil menarik tangan John.


Shandra dan John segera memasuki lift dan memencet tombol serta nomer lantai. Ketika mereka sudah berhasil sampai di lantai atas dan baru saja pintu terbuka, lima orang pria yang sudah menunggu langsung menyemprotkan obat kepada Shandra dan John yang membuat keduanya langsung pingsan.


Ternyata di gudang itu ada cctv, dan sejak tadi Espen mengawasi kelakuan Shandra dan John.


"Segera ikat mereka dan bawa mereka kembali ke bawah, ke gudang eksekusi. Jangan biarkan kaki dan tangan mereka bebas." Perintah Espen kepada anak buahnya.


Anak buah Espen segera melakukan seperti yang diperintahkan Espen. Mereka menyeret Shandra dan John kembali ke bawah.


Shandra dan John didudukkan dengan posisi saling membelakangi, kemudian orang-orang itu meminggalkan mereka dalam keadaan terikat.


Tak lama kemudian, Espen segera turun ke gudang eksekusi karena sudah tidak sabar untuk menikmati tubuh Shandra. Namun, ia ingin melakukannnya saat Shandra dan John sadar.

__ADS_1


Menurut perkiraannya, obat yang disemprotkan itu hanya akan membuat keduanya pingsan selama lima belas menit.


Shandra akan membuka mata, namun ia merasakan langkah kaki orang masuk. Karena itu ia pura-pura kembali menutup mata. Dan John pun tanpa komando melakukan hal yang sama seperti Shandra.


Espen duduk bersandar di kursi sambil mengamati keduanya.


Shandra dan John karena didudukkan dengan saling membelakangi, maka hal itu menguntungkan mereka untuk saling membuka simpul tali yang mengikat tangan mereka. Mereka melakukan itu sambil terus menutup mata tanpa disadari oleh Espen.


Begitu simpul terakhir hampir terbuka, Espen segera menyadari sesuatu yang tidak beres, karena ekor matanya menangkap tangan kedua orang itu yang bergerak.


"Rupanya kalian ingin mempermainkan aku, hah?" Bentak Espen sambil mendekat ke arah Shandra dan John.


Shandra dan John langsung membuka mata begitu mendapat bentakan dari Espen, dan dengan cepat melepaskan simpul tali terakhir.


Shandra dan John langsung berdiri tegak dengan kaki yang masih terikat.


Espen segera melayangkan tendangan dan tinju bertubi-tubi ke arah John. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Shandra untuk membuka simpul tali di kakinya.


"Giliranmu, John!" Ujar Shandra setelah selesai membuka simpul tali di kakinya dan langsung menghajar Espen tanpa ampun.


Shandra melayangkan tendangan dan pukulan bertubi-tubi yang membuat Espen kewalahan. Sementara John sibuk membuka simpul tali di kakinya.


"Angkat tangan! Jika tidak, maka aku akan membocorkan kepala wanita jala** ini." Ujar salah satu diantara mereka sambil menodongkan senjata ke arah Shandra.


Shandra segera menghentikan serangannya pada Espen, karena pria itu juga sudah babak belur akibat pukulan dan tendangan Shandra.


"Sekarang aku akan melakukan apa yang aku inginkan, jadi bersiaplah nona manis." Ujar Espen sambil menyeka darah segara yang keluar dari kedua ujung bibirnya.


Ia berjalan ke arah meja dan mengambil tissue kemudian membersihkan seluruh wajahnya, karena darah yang tidak hanya keluar dari kedua sudut bibirnya, tetapi juga dari pelipis kirinya.


Shandra dan John berdiri dengan saling berdempetan. Sementara kesembilan anak buah Espen tetap mengarahkan senjata ke arah mereka.


"Apapun yang terjadi, jika ia berani mendekat, aku akan menghajarnya. Tidak peduli aku akan mati atau tidak. Tetapi tepat ketika aku menyerang mereka, kau harus segera keluar dari sini. Aku tidak ingin pria menjijikkan itu menyentuhmu." Bisik John pada Shandra.


"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Mati atau hidup harus tetap sama-sama. Untuk apa aku keluar jika harus tanpamu. Aku tidak mau!" Jawab Shandra bersikeras.


"Please! Tolong dengarkan aku. Ini demi kebaikanmu." Balas John.

__ADS_1


"Aku tidak mau." Ujar Shandra ketus.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Apakah kalian sudah siap dengan apa yang akan aku lakukan? Aku sudah cukup beristirahat, dan aku juga sudah tidak sabar untuk merasakan tubuh wanita yang telah membuatku babak belur."


"Rupanya aku salah, karena wanita yang terlihat manis ternyata lebih sadis dari yang aku pikirkan." Ujar Espen sambil berjalan ke arah Shandra, yang membuat Shandra dan John semakin mundur.


"Apa kau sudah siap honey?" Tanya Espen sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Shandra.


"Puuiiiihhhhh." Shandra meludahi wajah Espen.


"Melihat wajahmu saja aku sudah jijik. Apa kau pikir gampang untuk mendapatkan tubuhku? Lawan aku dulu kalau kau bisa. Jika aku kalah, aku akan dengan sukarela menyerahkan diri untuk kau tiduri." Ujar Shandra


"Bagaimana kalau aku dan anak buahku melawanmu berdua dengan suamimu? Karena sembilan orang ini adalah pengawal terbaikku. Dan setelah mengalahkanmu dan suamimu, maka aku dan kesembilan pengawalku akan mencabik-cabik tubuhmu." Ujar Espen dengan nada bangga.


"Kita lihat saja. Tetapi tidak boleh menggunakan senjata." Jawab Shandra.


"Oh, mereka memang tidak akan memakai senjata, karena mereka juga lebih ahli jika tidak memakai senjata." Balas Espen.


"Segera buang senjata kalian dan beri pelajaran pada perempuan sombong ini." Perintah Espen kepada sembilan pengawalnya.


Ini yang aku suka Espen. Kita akan segera bermain. Akan aku tunjukkan kepadamu siapan Shandra Wiliam yang sebenarnya. Berhentilah berlagak di depanku pria banci. Shandra.


Baru saja kesembilan orang itu membuang senjatanya, dan tanpa mereka sadari, John sudah bergerak dengan sangat cepat dan kakinya langsung mengenai leher salah satu dari sembilan orang itu yang langsung tumbang tak berdaya.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2