Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
49. Keadaan yang Terbalik


__ADS_3

Tidaklah salah memuji diri sendiri jika itu masih dalam batasan yang wajar. Karena terkadang sikap tinggi hati membuat kita memandang orang lain lebih rendah dan tidak memiliki apa-apa dibandingkan dengan kita. Bangga itu hal yang wajar dan sah-sah saja, tetapi terlalu membanggakan diri juga bisa menjadi jerat untuk diri kita sendiri ketika kita tidak dapat melakukan seperti yang kita katakan.


Eda Sally


*****


Espen memelototkan matanya melihat apa yang dilakukan John. Ia sangat marah saat menyadari bahwa musuhnya bukan orang biasa seperti yang ia sangka.


"Cepat bunuh mereka berdua! Kalian tunggu apalagi?" Hardik Espen kepada sembilan orang anak buahnya.


Tanpa ampun lagi, keempat orang itu langsung bergerak ke arah John. Melihat John diserang secara ramai-ramai, Shandra segera membantu John. Ia langsung bergerak dan menghajar dua orang sekaligus karena geram.


Dua orang yang dihajar memandang Shandra dengan tatapan penuh nafsu ketika mereka hampir terjungkal karena tendangan Shandra.


"Hmmmm! Singa betina yang liar. Aku semakin menyukaimu dan ingin bermain-main denganmu." Kata salah satu yang berkepala botak itu kepada Shandra


"Tunjukkan bahwa kau benar-benar jantan. Hadapi aku dengan tangan kosong jika kau mampu. Jangan hanya bersembunyi di balik pelatuk senjata." Jawab Shandra memanasi orang itu.


"Aku pastikan aku akan mencabik-cabik tubuhmu jika aku telah mengalahkanmu. Dan setiap hari aku akan menjadikanmu teman penyalur hasratku." Ujar orang itu dengan geram.


Plak! Plak! Plak!


Shandra bergerak dengan terlalu cepat dan memberikan tamparan plus kepada kedua orang itu.


"Akan ku bunuh kau betina sial*n." Ujar salah satunya yang berambut merah dan langsung membalas menghajar Shandra.


Melihat temannya menyerang Shandra dengan bertubi-tubi, temannya tidak mau ketinggalan. Dari tadi ia juga gemas melihat kelakuan Shandra, apalagi setelah merasakan tamparan Shandra yang membuat pipinya dan telinganya panas plus perih.


Shandra tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyentuhnya saat ia mengingat ikatan di tangannya yang masih memberikan rasa sakit hingga sekarang. Karena itu ia memukul dan menghajar tanpa ampun.


"Boleh juga si siala* betina ini. Rupanya aku telah meremehkanmu." Ujar si rambut merah.


"Aku benci orang yang terlalu banyak bicara." Kata Shandra sambil terus menghajar tanpa memberikan kesempatan.


Shandra melompat dan menendang yang berkepala botak tepat di matanya. Matanya langsung mengeluarkan darah.


Terdengar teriakan dari si botak karena matanya yang perih dan sudah berdarah. Ia nampak kesakitan dan terus memegang matanya sambil meraung-raung.


Shandra yang sudah tersulut emosinya, segera menyelesaikan si pria berkepala botak. Dengan menambahkan satu tendangan lagi ke bagian telinga, si botak langsung tumbang tak berdaya.


Melihat temannya si botak yang sudah tumbang, si rambut merah tak ingin melepaskan Shandra. Ia terus mendesak Shandra dengan berbagai pukulan.

__ADS_1


Shandra yang pada dasarnya sudah terlalu marah, segera memberikan pukulan mematikan tepat di pinggang si rambut merah.


Shandra segera berlari ke arah John yang masih menyisakan tiga orang. Terlihat mereka sudah menjadi bulan-bulanan John.


Tanpa membuang waktu lagi, Shandra langsung menendang pria itu tepat di selangkangannya. Orang itu berteriak-teriak kesakitan sambil memegangi selangkangannya.


"Wanita gila! Kau merusak masa depanku!" Teriak orang itu.


"Aku tidak hanya akan merusak masa depanmu, tetapi akan membuatmu hilang selamanya dan tidak akan memiliki masa depan." Ujar Shandra sambil mendaratkan satu tendangan lagi ke pinggangnya.


Orang itu langsung rubuh dengan tangan yang masih memegang selangkangannya.


Melihat John sudah membereskan dua orang itu, Shandra langsung menghajar Espen yang tidak menyangka bahwa Shandra akan menyerangnya dengan tiba-tiba. Espen membelalakkan matanya karena tendangan Shandra yang membuatnya tak berdaya.


Espen tak menyangka wanita yang terlihat manis dan lembut itu seganas ini. Ia sudah payah menahan tubuhnya untuk bangun.


"John! Bantu aku ikat tangan pria bodoh ini. Aku ingin bermain-main dengannya." Perintah John kepada Shandra.


Tanpa mengatakan apapun, John segera mengambil tali yang dipakai untuk mengikatnya dan segera mengikat tubuh Espen tanpa perlawanan karena sudah tidak memiliki tenaga lagi.


"Kamu ingin bermain denganku kan? Tenang! Kamu tidak perlu mengikatku. Aku yang akan bermain denganmu. Aku jamin kamu pasti suka dengan permainanku."


"Aku juga tipe orang yang tidak suka dipaksa jika bermain. Aku suka sesuatu yang suka rela. Iya kan sayang?" Ujar Shandra sambil menatap ke arah John.


"Bantu aku carikan alat bantu di meja itu sayang." Pinta Shandra pada John.


Dengan gesit John bergerak ke arah meja yang ditunjuk Shandra.


"Kamu ingin alat yang seperti apa honey? Di sini alatnya juga lengkap." Ujar John.


"Aku ingin sesuatu sebagai pemanasan sebelum masuk dalam permainan inti." Jawab Shandra.


"Baiklah. Aku akan membawakannya untukmu." Balas John sambil mengambil sebuah pisau dan sebuah tang.


Espen memelototkan matanya ketika melihat apa yang ada di tangan John.


"Apa yang mau kau lakukan jala**?" Tanya Espen dengan kasar.


"Bermain denganmu seperti yang kamu inginkan. Aku akan memuaskanmu." Jawab Shandra sambil menerima pisau dan tang itu kemudian memainkannya di tangannya.


"Kamu gila!" Hardik Espen.

__ADS_1


"Aku benci pria banci yang terlalu banyak bicara. Kamu telah membuatku banyak kehilangan waktu karena harus meladeni sifat serakahmu."


"Dosamu sudah terlalu banyak tertimbun. Kamu telah banyak merusak anak orang dengan menjadikan rumahmu sarang pesta menjijikkan. Dan aku benci pria yang suka mengobral tubuhnya untuk banyak wanita." Ujar Shandra sambil menjepit ibu jari Espen dengan tang.


Espen berteriak dengan suara yang memilukan.


"Apa itu nikmat tuan Espen? Aku harap kamu menikmati permainan selanjutnya." Shandra berkata sambil memindahkan tang ke jari berikutnya.


"Wanita iblis! Aku akan menjadikanmu pelac*r di rumahku." Teriak Espen dengan wajah yang sudah penuh keringat.


"Coba saja kalau berani. Tetapi tuan Espen perlu tahu, karena tuan Espen tidak akan hidup untuk melakukan hal itu kepadaku." Ujar Shandra.


Setelah berkata demikian, Shandra memberikan jepitan pada semua jari tangan Espen, diakhiri dengan memberikan sayatan pada badan Espen dengan pisau.


"Terima kasih karena tidak memakai baju dan memudahkanku untuk bermain dengan bebas. Apa kau suka permainanku tuan Espen?" Tanya Shandra yang terus memberikan sayatan di seluruh tubuh Espen.


"Hentikan! Bunuh aku saja. Aku sudah tidak kuat!" Teriak Espen dengan suara memilukan.


"Bukankah tuan Espen menyukai permainan yang lama? Aku akan menunjukkan kepada tuan Espen permainan yang memuaskan dan tahan lama, yang akan tuan ingat!"


"Tetapi tuan hanya akan mengingatnya di menit ini. Karena beberapa menit ke depan, tuan tidak akan mengingat apa-apa lagi." Ujar Shandra sambil meraih sebuah senjata dan menyerahkannya pada John.


"Selesaikan sayang! Aku sudah bosan dan jijik melihat tubuhnya.


"Dengan senang hati honey!" Ujar John sambil menarik pelatuk.


Dor..! Dor..! Dor..!


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, ratr bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2