Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
22. Berbicara dengan Hangat


__ADS_3

Terkadang hal yang sederhana dan terjadi secara kebetulan bisa mengubah seluruh hidupmu yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.


Perubahan mungkin terjadi karena kau yang mengusahakannya, namun ada yang mengalir begitu saja seolah nasib baik sedang berpihak padamu.


Eda Sally


*****


Shandra terlihat kaget dengan apa yang dilakukan oleh John barusan. Ia salut dengan kecepatan John dalam menangani orang yang hampir saja mencelakai dirinya. Namun, egonya memaksanya untuk tidak tersenyum.


Branden dan John segera membereskan orang-orang yang sudah tak bernyawa itu dan memasukkan mereka ke dalam mobil mereka masing-masing.


"Terima kasih atas bantuannya." Kata Shandra tanpa senyum sama sekali.


"Tidak perlu berterima kasih. Itu hal yang harus aku lakukan untuk selalu melindungimu."


Cihhh! Melindungiku. Kau akan menghadapi banyak hal ke depan, jadi jangan sombong dulu. Shandra


Shandra hanya mengangguk, sementara Branden menjabat tangan John dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.


"Terima kasih tuan Bruno atas bantuannya."


"Sama-sama. Tidak usah sungkan."


"Oya! Kami akan langsung pulang." Kata Shandra yang memang tidak suka menghabiskan waktu untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting, apalagi hanya basa basi.


"Bagaimana kalau kita makan dan mengobrol sebentar di restorant keluargaku?" John menawarkan.


Tidak baik menolak niat baik orang. Sementara dia sudah menolongku hari ini. Shandra


"Hmmm! Baiklah." Shandra menyetujui.


"Terima kasih."


Tanpa berkata lagi, John langsung menuju mobilnya dan langsung membawanya berada di depan mobil Shandra.


Branden tidak berbicara dan langsung menuju mobil lalu membukakan pintu bagi Shandra.


"Kita akan kemana nona muda?"


"Aku tidak tahu restorant yang dimaksud karena tidak disebutkan. Kau hanya perlu mengikuti dari belakang."


"Baik nona muda."


Branden kemudian mulai menjalankan mobil mengikuti John dari belakang.


Sementara John yang di depan tersenyum sendiri membayangkan wajah Shandra yang cantik semakin cantik ketika berbicara padanya.


Hmmmmm! Walaupun tomboy, dia terlihat sangat menggemaskan. Memandang wajahnya saja membuat jantungku hampir copot.


Karena jalan sambil menghayal, John hampir melewati restorant yang di maksud. Untung ia segera sadar dan langsung mengarahkan mobilnya masuk ke dalam parkiran restorant.


Branden mengikuti apa yang dilakukan John. Ia juga hampir melewati restorant tersebut karena John memberikan lampu sein yang tiba-tiba dan membuatnya kaget.


Setelah selesai memarkirkan mobil, mereka turun dan masuk ke dalam. Semua karyawan yang melihat tuan mereka John Bruno, segera membukakan pintu menuju ruang privat yang sering dipakai oleh John dan dadynya jika ingin makan di situ.

__ADS_1


Branden yang paham dengan situasi tersebut langsung mohon diri untuk makan di luar bersama dengan pengunjung lain. Ia tidak mau mengganggu kedua orang yang sedang jatuh cinta itu.


"Ini terlalu privat. Kenapa kita tidak makan di luar saja!"


"Karena aku ingim berbicara berdua denganmu."


"Tapi aku tidak nyaman jika hanya berdua seperti ini."


"Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin mengobrol. Lagi pula kamu bisa beladiri dan kamu bisa memukulku jika aku melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai."


Setelah mendengar penjelasan John, Shandra mulai tenang.


Waduh! Apa yang harus aku bicarakan. Aku benar-benar sangat gugup. Shandra


Dia terlihat semakin cantik jika gugup seperti ini. Dadaku bisa meledak jika dia terus memperlihatkan wajah imutnya. John.


Mereka masing-masing sibuk dengan pikirannya sehingga tidak sadar ketika pelayan mengantarkan makanan.


"Selamat menikmati, tuan dan nona!" Kata pelayan dengan sopan.


"Oh! Ok, terima kasih." John menjawab tapi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


John kemudian mempersilahkan Shandra untuk makan. Shandra hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Ia sendiri bingung harus berbicara apa.


Baginya pria di hadapannya benar-benar tampan dan sopan. Tidak seperti kebanyakan pria yang mengejarnya.


"Maafkan aku jika tidak bisa menahan diri dan mengikutimu."


"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Aku hanya terkejut ketika kamu sudah ikut berkelahi. Tapi aku sangat berterima kasih."


"Apakah boleh jika aku menemuimu di kantor?" John was-was ketika menanyakan hal itu.


"Aku tidak mau mencampur aduk urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. Jika kamu ingin bertemu, kamu bisa datang ke rumah grandpa."


"Jadi...Aku boleh datang ke rumahmu?" Tanya John tidak percaya dengan jawaban Shandra.


"Ya! Tentu! Tapi harus sesuaikan dengan waktuku."


"Apakah aku boleh meminta nomor teleponmu?"


"Boleh." Kata Shandra sambil menyodorkan sebuah kartu nama.


Ini kesempatan yang selalu aku tunggu-tunggu. Akhirnya diizinkan untuk datang ke rumah dan juga mendapatkan nomor teleponnya.


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu?"


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan." Jawab Shandra mantap dan tegas.


"Maafkan aku jika lancang. Aku sangat berharap agar kamu membalas perasaanku padamu. Aku tidak perlu mengatakannya lagi karena aku tahu kamu sudah tahu tentang perasaanku."


"Untuk hal itu, aku belum bisa mengatakan apapun. Tetapi aku akan berusaha."


"Terima kasih. Itu jawaban yang sudah cukup menurutku."


Mereka kembali melanjutkan makannya. John bingung harus memulai dari mana lagi. Karena kalau ia tidak bicara maka Shandra akan diam.

__ADS_1


"Bolehkan aku mengajakmu dinner berdua di weekend yang akan datang?"


"Baik. Aku akan melihat jadwalku dan mengosongkannya untuk itu."


"Oya! Aku harap kamu tidak bosan karena aku akan selalu mengirimkan makan siang untukmu."


"Ahmm... Tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih untuk itu."


"Baiklah. Aku ingin kamu menanyakan sesuatu tentangku, dan aku akan menjawabnya."


"Aku hanya membutuhkan jawaban yang jujur jika kamu ingin aku bertanya."


"Aku akan menjawabnya dengan jujur."


"Apakah kamu pernah pacaran? Maksudku, apa kamu pernah punya cewek sebelumnya?"


"Aku akan menjawabnya dengan jujur. Aku belum pernah pacaran, dan kamu adalah satu-satunya wanita yang sudah membuatku jatuh cinta."


"Apakah selama ini kamu belum pernah jatuh cinta?"


"Iya! Belum pernah, dan ini pertama kalinya aku jatuh cinta."


"Hmm! Menarik juga, karena aku baru temukan pria yang terlambat jatuh cinta."


"Mungkin kamu berpikir bahwa aku membual, tetapi itulah kenyataannya. Kamu bisa mengecek akun sosmedku atau mencari tahu dengan cara lain."


"Tidak perlu! Aku lebih suka mendengarnya langsung dari mulutmu."


John tersenyum dengan jawaban Shandra. Ia bingung bagaimana harus bersikap romantis, karena Shandra sangat susah terbawa emosi dan itu membuatnya kehilangan cara dan kata-kata.


Ingin sekali John menyentuh tangan mungil itu, tapi ia takut suasana hangat yang sudah di bangunnya dengan susah payah akan berubah menjadi duel yang akan memporak porandakan ruang privat itu mengingat Shandra jago beladiri.


Akhirnya John memilih tersenyum dengan menahan gejolak yang sementara berkecambuk di dalam dadanya.


"Aku sudah selesai. Ayo kita pulang."


"Ahm, baiklah! Terima kasih atas waktu nya."


Shandra hanya mengangguk dengan wajah datarnya tanpa tersenyum sama sekali.


Bagaimana caranya meluluhkan hatinya agar sedikit romantis. Aku bisa gila kalau dia kaku terus seperti ini.


John menjerit dalam hatinya.


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2