Sang Mafia Jatuh Cinta

Sang Mafia Jatuh Cinta
41. Kecemburuan John Bruno


__ADS_3

Cemburu adalah dinding antara cinta dan benci. Ia seperti sebuah dinding tebal yang berdiri kokoh ditengah-tengah rasa cinta dan benci. Cemburu juga bukti bahwa kita tidak ingin orang lain mendekati pasangan kita. Tetapi rasa cemburu yang berlebihan juga bisa membuat hubungan menjadi retak. Jangan pernah memelihara rasa cemburu dalam hatimu.


Eda Sally


*****


John Bruno tidak mengatakan apapun lagi. Ia segera meraih buku menu dan memesankan sarapan untuk mereka.


Selesai memesan sarapan, John kembali duduk di sisi Shandra dan memeluknya dengan mesra sambil tak lupa memberikan kecupan manis di wajah istrinya.


"Kita pindah ke sofa saja ya. Aku akan menelpon room servis untuk mengganti sprei itu." Ujar John.


Shandra menganggukkan kepala menanggapi perkataan John.


John dengan gesit menggendong tubuh Shandra dan mendudukkannya dengan hati-hati sekali. Ia juga segera mendaratkan ciuman di wajah Shandra.


Tak lama kemudian, sarapan pagi yang mereka pesan diantar oleh petugas. Mereka segera menikmati sarapan. John yang ingin memanjakan Shandra mencoba menyuapi Shandra.


"John, jangan membuatku marah. Aku tidak bisa jalan, bukan berarti tanganku juga tidak bisa bergerak." Protes Shandra.


"Maaf! Aku terlalu bahagia dan ingin sekali memanjakanmu. Tolong jangan halangi niatku. Apa kamu lupa pesan papamu?" Jawab John.


"Sayangnya aku bukan cewek manja John. Aku sangat menghormatimu sebagai suami, tapi ada hal-hal yang mungkin aku tidak suka."


"Aku sudah dilatih sejak kecil untuk bersikap dingin, jadi jangan memanjakan aku jika aku bisa melakukan sesuatu." Jelas Shandra panjang lebar.


"Ok, aku mengerti. Habiskan sarapanmu. Setelah itu kita berjemur di taman." Jawab John.


Shandra tidak mengatakan apapun lagi. Ia segera menghabiskan sarapannya.


"Apa kamu bisa jalan sendiri ke taman?" Tanya John dengan khawatir.


"Akan aku coba." Ujar Shandra sambil berdiri.


Shandra segera mengayunkan kakinya dengan perlahan. Satu langkah, dua langkah, akhirnya ia bisa jalan, walau masih sedikit perih.


John segera menyusul Shandra dan langsung merangkul Shandra yang tidak protes dengan kelakuan John.


Mereka jalan dengan lamban sekali. John tidak ingin Shandra kesakitan. Karena itu ia merangkul Shandra sambil berjalan dengan lamban.


Mereka kemudian berjemur sambil membicarakan beberapa hal.

__ADS_1


"Apa rencanamu setelah bulan madu kita selesai?" Tanya John.


"Aku akan kembali bekerja. Apa kamu tidak keberatan?" Jawab Shandra kemudian balik bertanya.


"Ok! Aku akan mendukung apapun yang kamu lakukan. Aku tidak keberatan, tapi aku takut kamu kelelahan. Itu yang membuatku khawatir.


"Aku sudah biasa dengan hal-hal seperti itu, John! Kamu tidak usah khawatir." Jawab Shandra.


"Walaupun kerja, kita harus selalu makan siang bersama. Untuk yang ini aku tidak perlu menawar. Kamu harus ikut apa yang aku putuskan, karena aku tidak bisa jika sehari penuh aku tidak memandang wajahmu." Ujar John dengan tegas.


"Hmmmm! Terserah kamu saja." Jawab Shandra pelan.


"Terima kasih, sayang!" Balas John sambil menggenggam tangan Shandra.


"Aku haus, John!" Ujar Shandra.


"Aku akan mengambilkan minum. Kamu mau minum apa?" Tanya John.


"Terima kasih, John. Terserah kamu saja." Jawab Shandra.


Ok! Tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Jika ada yang menggodamu, jangan lupa bilang padaku. Ok?" Ujar John sambil mendaratkan satu kecupan di bibir Shandra, kemudian bergegas pergi.


Shandra tersenyum menatap kepergian John. Karena terlalu asyik menatap kepergian sang suami, Shandra tidak sadar ketika ada seorang pria yang mendekatinya sambil tersenyum penuh keinginan.


Sebagai jawaban, Shandra hanya menganggukkan kepala menanggapi orang itu yang langsung duduk ketika melihat anggukan kepala Shandra.


"Kenalkan! Namaku Brian!" Ujar Brian sambil menyodorkan tangan.


"Shandra! Jawab Shandra sambil melihat ke arah lain dan tidak menatap wajah Brian, bahkan tidak merespon uluran tangan Brian.


Aku suka wanita yang cantik, galak, dan cuek seperti ini. Aku akan mengejar walau harus sampai ke ujung langit. Brian.


Sambil memandang Shandra dengan penuh keinginan, Brian tersenyum sendiri menatap wanita cantik di depannya yang membuat dadanya bergetar. Sementara yang ditatap melihat ke tempat lain seolah tidak ada orang di depannya.


Karena lama menatap Shandra tetapi Shandra tidak membalasnya, Brian nekat pindah tempat dan duduk di tempat dimana tatapan Shandra terarah.


Shandra kaget dengan kelakuan Brian, namun ia memilih cuek dan mengalihkan tatapannya. Brian tersenyum senang melihat Shandra mengganti arah tatapannya. Ia kemudian pindah lagi mengikuti arah tatapan Shandra. Hal itu berlangsung beberapa kali sampai kesabaran Shandra habis.


Jika saja aku tidak kesakitan, maka aku sudah mematahkan lehermu sejak tadi. Kamu menggodaku di waktu yang sangat tidak tepat. Aku muak melihat pria yang terlalu agresif. Jika aku bertemu lagi denganmu, maka kamu akan mati di tanganku. Shandra.


John yang telah membawakan minum untuk dirinya dan istrinya, dari jauh melihat ada pria asing yang menatap istrinya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Rupanya kau ingin bermain-main denganku, tikus." Ujar John dengan geram sambil mempercepat langkahnya.


Setelah sampai, ia langsung mendaratkan ciuman lembut di bibir Shandra.


"Maafkan aku sayang, telah meninggalkanmu terlalu lama sehingga ada yang mencoba menggodamu." Ujar John dengan penuh tekanan sambil melirik Brian.


Brian sampai memelototkan matanya ketika John mengecup bibir Shandra dan Shandra hanya diam.


"Hei nona! Apa kelebihan dia dibandingkan denganku? Aku tidak kalah tampan darinya. Kenapa kau cuek denganku?" Protes Brian.


Dengan menahan emosi, John berjalan ke arah Brian dan langsung mencekiknya. Ia bahkan semakin mengeratkan cengkramannya pada Brian sampai wajah Brian sudah terlihat sangat merah.


"Jangan pernah menggoda istriku lagi. Jika aku melihatmu lagi melakukan hal seperti yang kamu lakukan tadi, maka aku tidak akan pernah menyesal untuk membunuhmu. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." Ujar John sambil melepaskan cengkramannya yang membuat Brian batuk-batuk.


Setelah melihat batuk Brian sudah reda, John segera melayangkan sebuah pukulan di wajah Brian, yang membuat Brian langsung jatuh tersungkur.


"Stop, John! Aku tidak ingin melihat perkelahian untuk sekarang." Teriak Shandra dengan keras ketika ia melihat John hendak menendang Brian.


"Kenapa kau membelanya? Apa kau lebih menyukainya dibandingkan diriku yang adalah suamimu? Aku cemburu jika ia mendekatimu. Apa kau tak memikirkan perasaanku?" Protes John.


"Apa kau pikir sejak tadi aku menanggapinya. Jangan pernah samakan aku dengan kebanyakan wanita di luar sana yang suka tebar pesona sana sini. Aku sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal murahan seperti itu."


"Jadi, jika kamu tidak mempercayaiku, kamu boleh pergi sekarang! Jika kamu tidak pergi, maka aku yang akan pergi."


"Dan untuk kamu (sambil menunjuk Brian), jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Karena saat mataku melihatmu lagi, maka aku akan membunuhmu." Ujar Shandra sambil bangkit dan pergi meninggalkan John dan Brian.


"Ini semua gara-gara kamu." Ujar John sambil melayangkan satu tendangan ke wajah Brian, kemudian berlari mengejar Shandra, dan meninggalkan minuman mereka begitu saja.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2