
Dalam cinta, pria cenderung bertindak tanpa pertimbangan apapun. Karena bagi mereka, apa yang terlintas dalam pikiran mereka saat itulah yang akan mereka lakukan. Berbeda dengan wanita yang harus mempertimbangkan banyak hal dalam soal cinta, karena wanita membutuhkan cinta yang nyata dari seorang pria, sementara pria hanya membutuhkan kepercayaan. Karena bagi mereka itu sudah cukup.
Eda Sally
*****
Hari yang ditentukan untuk bertemu secara langsung dengan papa Sahndra, tuan Wilson sudah tiba.
Setelah menerima kabar, sang ayah langsung terbang menuju Jerman. Ia ingin mengunjungi putri semata wayangnya itu karena sudah rindu, ditambah lagi dengan informasi mengenai pernikahan putrinya.
Bagi Wilson, siapa pun yang akan menikahi putrinya, harus bisa diandalkan. Begitulah prinsip yang sudah tertanam dalam hati keluarga Dalmiro, walaupun Wilson sendiri memilih untuk tidak memakai Dalmiro di nama belakangnya.
"Katakan pada papa, pria seperti apa yang telah membuatmu jatuh cinta." Kata Wilson sambil memeluk dan mencium putrinya itu saat mereka sedang bercakap-cakap sambil menanti kedatangan John dan ayahnya.
"Pria seperti papa. Aku belum tahu aku sudah jatuh cinta padanya atau belum, tetapi aku melihat pribadi papa ada di dalam dirinya. Ia termasuk kejam, dan aku suka itu. Hanya ada satu kelemahannya yaitu ia masih memiliki belas kasihan, dan aku membenci itu." Jawab Shandra dengan lugas.
"Hmmm! Kau sudah dewasa, nak! Kau bebas memilih pria yang sesuai dengan keinginan hatimu. Tetapi ia harus bisa menjaga dan melindungimu. Jika tidak, maka aku yang akan membatalkan pernikahan kalian." Kata Wilson dengan tegas.
"Terserah papa saja. Sejak kapan aku ingin menikah. Kalian sendiri yang mengusulkan ini semua dengan alasan nama baik keluarga Dalmiro." Jawab Shandra dengan ketus.
"Hahahahha tentu saja kami menginginkan yang terbaik untukmu gadisku." Kata Wilson sambil kembali memeluk dan mencium kening putrinya.
Shandra diam dan tak mengatakan apapun karena di situ ada grandpa. Jika ia menyambung perkataan papanya, maka urusannya akan bertambah panjang. Karena itu ia memilih untuk diam.
Tak lama kemudian, nampak John Bruno dan ayahnya Alaric Bruno datang. Alaric yang melihat Wilson, segera berjalan ke arahnya dan menunduk memberi hormat.
"Tuan muda." Hanya itu yang dikatakan Alaric Bruno sambil masih tetap menunduk memberi hormat. Sementara itu John nampak gugup dan tidak berani mengatakan apapun selain menunduk dan memberi hormat seperti dadynya.
"Duduklah Bruno. Sampai kapan kamu akan seperti itu terus?" Kata Wilson kepada Alaric.
"Terima kasih tuan muda." Kata Alaric dengan sopan.
"Apakah ini putramu? Tak ku sangka ia lebih tampan darimu." Kata Wilson sambil tersenyum.
"Iya tuan muda. Ini putra saya." Jawab Alaric dengan sopan.
__ADS_1
"Oya! Apakah kau siap bertanding denganku?" Tanya Wilson sambil tersenyum ke arah John.
"Jika tuan tidak keberatan, izinkan saya belajar lebih banyak dari tuan." Jawab John merendah.
"Hmmmm! Aku suka pria yang tahu diri sepertimu. Dadymu pasti sudah mendidikmu dengan sangat baik." Kata Wilson.
"Yang lain boleh santai sambil minum. Aku ingin melihat kemampuan calon menantuku." Kata Wilson sambil berdiri.
Sebelum John berdiri, ia melihat ke arah Shandra yang tersenyum ke arahnya. John semakin memantapkan hatinya ketika melihat senyum itu yang dirasanya sangat mempesona.
Aku tidak boleh kalah. Jika aku kalah, perjuangan untuk mendapatkan wanita ini akan sia-sia, dan aku tidak menginginkan hal itu. John.
John segera berjalan dan mendekati Wilson yang sudah berdiri dengan gagah di dalam arena. Gayanya benar-benar menunjukkan seorang petarung sejati dan itu membuat John sedikit gugup.
Wilson tersenyum ke arah John dan segera menunduk memberi hormat. John pun melakukan hal yang sama. Ia langsung was-was melihat senyum yang penuh makna itu.
John baru saja mengangkat kepala ketika sebuah tendangan mengenai pinggangnya yang membuatnya langsung terlempar. Dengan cepat ia bangkit dan mengambil posisi kuda-kuda walaupun pinggangnya seperti ditusuk dengan ribuan jarum.
Ketika Wilson kembali melancarkan pukulan dan tendangan, John bergerak ke samping untuk menghindar, dan dengan sangat cepat tanpa di sadari oleh Wilson, ia melayangkan satu pukulan persis di paha Wilson.
John yang merasa terancam, segera berdiri kembali dan bersiap karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menikahi wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.
Ketika Wilson kembali melakukan serangan, John melayani dengan sekuat tenaga. Mereka saling menyerang dan membalas pukulan dan tendangan. Wajah John sudah babak belur, namun semangatnya membuatnya tidak merasakan sakit akibat pukulan dari calon mertuanya itu.
Pada satu kesempatan, kaki John dengan cepat menyambar leher Wilson dengan sangat keras yang membuat Wilson langsung terhuyung ke belakang.
John yang tidak ingin melanjutkan pertandingan itu berdiri mematung melihat calon mertuanya terhuyung akibat tendangannya.
Tanpa disangka-sangka, Wilson berjalan ke arah John dan memeluknya.
"Tendanganmu mematikan persis seperti dadymu. Jika tadi yang kau tendang itu bukan aku, orang itu tentu akan langsung meninggal."
"Kau layak menikahi putriku." Kata Wilson sambil memeluk John dengan erat.
"Terima kasih tuan." Jawab John sambil berlutut setelah Wilson melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Bangunlah. Sekarang kau adalah anakku. Jadi tidak perlu berlutut seperti itu." Kata Wilson sambil memegang pundak John.
John segera bangun dan berlari ke arah ayahnya dan memeluknya. Tanpa disadari, air matanya menetes. Alaric Bruno memeluk putranya dengan bangga.
"Terima kasih atas kesempatan yang tuan muda berikan kepada putra saya untuk menikahi putri tuan muda." Kata Alaric Bruno sambil membungkuk memberi hormat.
"Sudahlah. Sekarang kita adalah satu keluarga. Aku harap tuan Bruno dan John tidak mengecewakan aku dan putriku." Kata Wilson.
"Tentu saja tuan muda. Aku akan ingat apa yang tuan muda katakan." Jawab Alaric Bruno dengan cepat.
Andre Dalmiro hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Walaupun ia bisa melakukan apa saja, namun karena ada putranya Wilson, ia ingin agar orang-orang menghormati putranya sebagaimana mereka menghormati dirinya. Karena itu sejak tadi ia memilih untuk diam dan tidak mengatakan apapun karena ia percaya kepada putranya.
"Hmmmm! Untuk John, karena minggu depan adalah pernikahan kalian, maka selama seminggu kau tidak diperbolehkan menghubungi Shandra atau bertemu dengannya dalam bentuk apapun."
"Itu aturan bagi keluarga Dalmiro yang akan menikah. Untuk lebih detailnya, aku akan menyuruh pelayan khusus untuk menjelaskannya."
"Baik tuan. Akan saya ingat apa yang tuan katakan. Lalu, apa kami tidak akan melakukan fitting baju pengantin?" Tanya John dengan heran.
"Tidak perlu. Segalanya akan dipersiapkan. Kau hanya perlu datang di hari pernikahan. Nanti sebentar pelayan khusus untuk hal itu akan mengukur badanmu dan mempersiapkan setelan jas pengantin yang pas untukmu dan akan diantarkan jika sudah siap." Wilson menjelaskan panjang lebar.
"Terima kasih tuan." Jawab John.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍