Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Undangan


__ADS_3

"Do..." Panggil Ryan saat melihat siluet Edo melintas di depan ruangannya..


"Siap, komandan."


"Kemari kau." Ucapnya memberi perintah.


"Siap komandan..." Ucap Edo masih dalam posisi berdiri. "Ada apa komandan?" Tanya nya saat sudah berada di dalam ruangan Ryan.


"Ada info apa terkait buruan yang terborgol bersamaku kemarin. Sampai saat ini belum ada laporan darimu?" Tanya Ryan mengintimidasi Edo sang ajudan.


"Asiaap komandan. Maafkan saya.... Karna telat memberi Informasi tersebut...


"Iya, katakan saja, jangan bertele - tele!!" Perintah Ryan dengan raut wajah ditekuk.


"Menurut informasi yang saya peroleh. Nona tersebut tidak tergabung ke dalam jaringan yang sedang kita usut. Tapi kebiasaan nona itu suka ikut ajang balap liar. Malah dia Ratu nya jalanan. Setiap ada balap di situ ada dia. Sang nona selalu ikut andil dalam setiap balap liar. Itu saja info yang saya dapat. Dan juga catatan kejahatan dia tak punya. Dia bersih komandan."


"Ok, terima kasih. Sekarang kamu boleh keluar..!!! Perintah Ryan.


"Asiaap Komandan."



...//*******//...


...Tetaplah menjadi bintang di langit...


...Agar cinta kita akan abadi...


...Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini...


...Agar menjadi saksi cinta kita.....


...Berdua... Berduaaa........


...Sudah .... Terlambat sudah.......


...Ini semua harus berakhir...


...Mungkin inilah jalan yang terbaik...


...Dan kita mesti relakan kenyataan ini....


Ana berdiri di depan jendela kamarnya. Sembari mendengarkan penggalan bait bait syair lagu dari grup band yang ia suka.


Ia berdiri sembari tatapan matanya jauh menerawang menatap bintang bintang yang berkerlap kerlip di atas langit nun jauh di sana.

__ADS_1


Sudah beberapa pekan ini ia terkurung di dalam kamarnya. Ia tidak diperbolehkan oleh kak Cintanya untuk meninggalkan kamar. Jangan kan untuk keluar rumah, keluar dari kamarpun tak di bolehkan Cinta. Takut Ananya ikut balap liar lagi. Padahal sudah dijelaskan Ana bahwa ia tidak akan ikut balap liar lagi. Tapi Cinta tetap tak percaya dengan janji yang diucapkan Ana untuk berhenti mengikuti balap liar. Pikir Ana bagaimana mo ikut balap lagi, sedangkan kuda besinya saja masih di sita sang polisi edan itu.


Bukan tidak ada alasan Cinta melarang Ana keluar dari kamarnya. Cinta takut keadaan Ana akan memburuk jika banyak bergerak karna lukanya masihlah sangat basah.


Sekarang kondisi Ana sudah semakin membaik, lukanya sudah mengering. Dan berangsur angsur mulai tertutup rapat.


Selama ia dirawat di rumah, teman temannya banyak yang datang membesuk. Mulai dari Riki, Ken, Ivan, dan teman teman lainnya. Mereka bersyukur saat melihat keadaan Ana yang tidak apa apa. Hanya luka ringan dilengannya yang ia dapat. Ana tak menceritakan bahwa luka tersebut ia dapat dari hasil peluru yang bersemayam di dalam lengannya. Ana tak ingin Kak Cintanya dan teman temannya yang lain merasa khawatir akan keadaannya. Biarlah dia dan sang polisi edan yang tahu akan kejadian tersebut.


Dalam lamunan panjangnya tiba tiba Ana dikejutkan oleh sebuah tepukan halus di pundaknya.


"Hai, lagi ngelamunin apa. Jauh banget kayaknya?" Tanya Ivan yang telah berdiri di sampingnya.


""Kagak ada. Hanya menatap hamparan bintang bintang yang bertebaran di angkasa. Suka banget gua liatnya." Jawab Ana tanpa memalingkan pandanganya dari angkasa raya.


"An..." Ivan menjeda kalimatnya. Untuk mendapatkan sedikit perhatian dari Ana. "Keluar yuk. Kagak bosen apa, berkurung di kamar mulu. Mo mutihin badan ya?" Ucapnya dan tanyanya kemudian.


"Kemana?"


"Balap yuk..."


"Kagak bisa ikut, pasti kak Cinta ngelarang gua keluar kalo alasannya kek gitu."


"Jangan bilang la, kalo kita mo balapan." Ucap Ivan bernegosiasi.


"Gua kagak bisa ikut. kuda besi gua ilang. Jatuh ke jurang."


"Kagaklah, gua gak mau melanggar perintah kak Cinta lagi. Kemarin saja pas gua dilarang tapi gua masih kekeh mo pergi. Akhirnya kejadian naas itu terjadi. Kena karma kan gua."


"Ya, sudah kalo ga mau ikut balap. Bagaimana kalo kita pergi ke tempat lain."


"Kemana?"


"Ada undangan acara perayaan ultah nya si Alex." Jawab Ivan.


"Kapan?" Tanya Ana, fokusnya masih tetap menatap kerlap kerlip bintang di langit. Yang terlihat sangat mempesona di indera penglihatannya


"Malam ini." Jawab Ivan


"Malam ini." Ucap Ana mengulang perkataan Ivan.


"Iya, malam ini."


"Kakak Cinta gak kasih izin gua buat keluar."


"Sudah kok, kak Cinta sudah kasih izin lu keluar. Asal pulangnya jangan terlalu malam. Dan syaratnya gua harus selalu ada di samping lu, buat jagain lu."

__ADS_1


"Beneran... Kak Cinta sudah ngasih izin?" Tanya Ana dengan raut wajah tak percaya. Ana menatap tajam ke arah Ivan. Ivan sukses mengalihkan perhatiannya dari menatap bintang di langit. Saat mendengar ucapan yang dilontarkan Ivan.


"Serius... Beneran lho... Kak Cinta sudah ngasih izin. Kalo ga percaya, gih tanya sendiri, biar lu tambah yakin."


"Ok, gua percaya. Sekarang Lu keluar dulu dari kamar gua. Gua mo bersiap siap dulu. Mo ganti baju."


"Lho kok diusir keluar sih. Kenapa kalo misalnya gua tetap disini. Dan lu silahkan ganti baju."


"Eh dodol, lu itu laki laki, la gua perempuan, masak lu mau liat gua ganti baju. Enak banget lu mo lihat aset yang gua punya." Hardik Ana gusar.


"Ha...Ha...Ha... Lu ya.. Yakin banget kalo lu itu perempuan, kirain kita sesama jenis. Kutilang darat kayak lu. Kurus tinggi langsing Dada rata kek gitu."


"Sialan lu... Keluar ga dari kamar gua, sekarang...!!! Perintah Ana. "Kalau ga, gua gak akan ikut lu pergi...!!!" Ancam Ana.


"Ok...Ok... Siap sang Ratu. Siap Laksanakan perintahmu..." Ucap Ivan sembari melangkah keluar kamar Ana.


Tak berapa lama Ana telah selesai dari bersiap siapnya. Ana melangkah keluar dari kamarnya.


Ia menghampiri sang kakak dan berpamitan.


"Inget jangan pulang terlalu malam ya An.. Ivan tolong jaga keselamatan Ana ya." Ucap Cinta, ia tak tega melihat sang adik terus terkurung dikamarnya beberapa pekan ini tanpa melakukan apapun. Saat Ivan meminta izin untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Cinta memberi izin, mungkin dengan begitu kondisi Ana akan semakin membaik.


"Siap kak." Jawab Ana dan Ivan serempak.


"Hati hati di jalan ya.. Jangan ngebut." Pesan Cinta kembali.


"Ia kak, kami pamit dulu."


"Ya silahkan." Ucap Cinta sembari berdiri di depan pintu melepas kepergian sang adik. Ada rasa was was melintas sejenak dalam kalbunya. Namun ia tepiskan semua itu saat melihat senyum merekah di wajah sang adik. Cinta tak ingin menghancurkan senyum tersebut.


Setelah Ana dan Ivan tak terlihat lagi dinetra nya. Barulah Cinta beranjak masuk. Karna angin malam mulai berhembus dingin menerpa permukaaan kulitnya.


...///*******///...


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, Votennya ya. Rating bintang lima nya juga.


Bunga dan kopinya juga boleh buat kak Cinta biar anget.😂


Terima kasih semuanya. Lupyu all.


Ohya mampir juga ya guys ke karya temanku. Moga kalian suka.



Bersambung..

__ADS_1


.


.


__ADS_2