
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya'buduun
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ana saat ia mulai terjaga dari tidurnya. Dan tak sengaja sedang melihat Chris sedang melakukan sesuatu.
"Habis shalat!" jawabnya singkat.
"Shalat apa dilakukan dini hari di sepertiga malam?"
"Shalat sunnah Tahajjud, lanjut Hajat, Tasbih, lalu di tutup dengan Shalat sunnah Witir." Chris menjawab sembari melipat sajadahnya.
"Banyak sekali?"
"Tidak banyak, itu hanya sedikit yang kulakukan. Biasanya lebih dari itu," ucap Chris seraya berjalan mendekati sebuah meja yang di atasnya telah terhidang berbagai masakan nusantara.
"Sekarang apa pula yang akan kau lakukan?" ucap Ana sembari berjalan mendekat, dan duduk di kursi tak jauh dari Chris.
Saat ini Ana telah mulai terbiasa dengan kehadiran Chris yang beberapa hari ini telah menemani dan mewarnai hari harinya. Sosoknya yang humbel, perhatian, dan selalu berkata dan memperlakukannya dengan baik, bahkan sangat baik. Membuat Ana lama lama mulai terbiasa dengan sendirinya akan kehadiran sosok tersebut. Ana belum menyadari hal itu, jika saat ini dirinya mulai tergantung pada sang suami yang berasal dari bangsa Jin tersebut. Ana seolah lupa jika sang suami adalah sosok yang berasal dari bangsa Jin. Ana merasa seakan akan mereka berdua berasal dari golongan yang sama, seolah tak ada beda antara manusia dan Jin.
Mode waspada seolah telah berangsur angsur menghilang dari dirinya. Bahkan ia merasa kehilangan kala raga tersebut tak nampak di hadapannya dalam jangka waktu yang lama.
"Makan!"
"Malam malam begini makan?"
"Iya, ini namanya makan sahur sayangku. Sebelum memulai ritual puasaku esok hari."
"Makan sahur?" Ana membeo.
"Iya makan sahur yaitu makan yang dilakukan pada malam hari sebelum masuk waktu Imsyak dan waktu subuh, atau batas waktu dimulainya berpuasa." jelas Chris.
"Kau makan semua makanan ini?" Apa muat isi kantong lambungmu kalo nampung nih semua makanan?"
"Enggaklah, aku mo ngajak dirimu makan bareng, bersamamu. Sebab nanti jika pas jadwal makanmu, aku tidak bisa menemanimu. Karena aku sedang berpuasa."
__ADS_1
"Oh begitu ya... Kalo begitu aku mo ikut berpuasa juga. Apa boleh?"
"Yakin .... Kau mau ikut berpuasa?"
"Iya... " jawab Ana sembari mengganggukkan kepalanya.
"Boleh kalau sayangku juga ingin ikut berpuasa. Tapi apakah dirimu sanggup. Kaukan bukan muslim. Tak ada kewajibanmu untuk melakukan ibadah puasa?"
"Emangnya ada larangannya gitu, kalo aku yang bukan muslim juga ikut berpuasa?"
"Ga ada larangannya. Aku hanya takut sayangku ga sanggup menjalankan ibadah ini, nanti kau lemas, letih, lesu, loyo. Kan seharian ga bisa makan dan minum, hingga menjelang waktu berbuka. Dan waktu berbuka itu masih lama, menjelang maghrib nanti. Apakah sayangku sanggup, nanti sayangku sakit karena berpuasa?"
"Dirimu saja sanggup berpuasa. Dan kulihat malah tambah bugar, ga mati tuh hanya karena berpuasa. Jadi mana mungkin aku ga sanggup?"
"Ok, aku yakin sayangku sanggup. Mari sekarang kita makan sahur bersama. Ntar keburu imsyak." Chris mengajak Ana duduk di sampingnya.
Mereka pun mulai makan bersama. "Jangan lupa berniat sebelum mulai berpuasanya, sebagai motivasi dan penguat dalam menjalankan ibadah puasanya esok hari!" ucap Chris mengingatkan.
Ana mengikuti setiap rangkaian doa yang dilafazkan oleh Chris.
"Mau ku suapi?" tanya Chris narsis.
"Emang anak kecil. Aku bisa sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Selamat makan sayangnya Chris." ucapnya sembari memulai ritual makannya.
Di Negara A, sang kakek mengerahkan seluruh kekuatan dan kekuasaannya untuk menemukan di mana keberadaan sang cucu saat ini.
"Tuanku, ada infotmasi yang kita dapat dari mata mata yang telah disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Bahwasanya Tiitik Koordinat nona muda saat ini terlihat di negara Zamrud Khatulistiwa."
"Baiklah temukan cucuku sekarang. Dan bawa ia kembali secepatnya dengan selamat tanpa kurang sesuatu apapun itu." Perintah kakek tegas.
"Baiklah tuanku. Kami akan membawa nona muda kembali dengan selamat. Nyawa sebagai taruhan nya."
"Pergilah."
"Siap tuanku, kami pamit undur diri."
"Silahkan." ucap kakek sembari menatap kepergiaan para ajudan dan bawahannya
"Ku mohon An, ikutlah bersama kami secara sukarela untuk bertemu kak Cinta. Setelah itu silahkan jika kau ingin pergi lagi. Tapi kali ini kami mohon ikutlah bersama kami!" Ivan memcoba membujuk raga ramping yang sekarang sedang mereka kepung dari segala arah.
__ADS_1
"Aku tak tahu kalian itu orang baik atau orang jahat. Apa jaminannya, jika aku mengikuti kalian dengan sukarela maka aku akan selamat." ucap Tasya penuh waspada terhadap keadaan disekelilingnya.
"Nyawa kami taruhannya jika kau tak percaya!"
"Bagaimana aku bisa mempercayainya jika jaminannya hanya itu!"
Ivan mengeluarkan gawai tipisnya, membuka galeri fotonya. Setelah terbuka Ivan melemparkan gawai tipisnya kepada Tasya.
"Semoga ia bisa menangkapnya dengan tepat. Kalo tidak hancur ponselku. Tapi jika dia benar Ana, ia akan mampu menangkap lemparanku ini." Ivan membatin dalam hatinya.
Hap... Tasya menangkap lemparan yang diberikan oleh Ivan. Tasya sudah terbiasa berlatih lempar tangkap senjata bersama para ajudan sang kakek. Ia terlatih harus siap menghadapi kondisi apapun.
Di saat Ivan melemparkan gawai tipisnya. Tasya dengan mudah dapat menangkapnya.
Setelah berada si tangannya, Tasya mulai melihat apa yang ada di dalam galeri gawai tipisnya Ivan. Terlihat di sana foto dua orang perempuan. Yang satunya bertubuh mungil, dengam senyumnya yang terlihat cantik Netra Tasya mengunci sosok yang berdiri disebelah tubuh mungil tersebut. Terlihat ia sedang memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
"Ini.... !" ucap Tasya kaget saat melihat wajah siapa yang ada di foto tersebut.
"Iya itu foto dirimu bersama kak Cinta, An," jawab Ivan. Ivan berjalan perlahan mendekat ke arah Tasya.
"Berhenti .... Jangan mendekat!" Perintah Tasya.
"Tenanglah An, percayalah kepada kami. Kami tidak akan menyakitimu. Kami semua adalah sahabatmu. Bahkan kita sudah seperti saudara," ucap Ivan menyakinkan Tasya.
Setelah lama dengan keheningannya, Tasya akhirnya bersuara. Setelah menimbang beberapa hal yang masuk ke nalarnya. Akhirnya ia berani mengambil keputusan.
Kira kira apa keputisan yang akan Tasya ambil ?
Terima kasih buat para readers yang masih setia dengan karya recehku ini. Lupyu all❤❤❤
Aku menulis bab ini di ruang rawat inap ayah, yang sedang dirawat untuk persiapan operasi prostatnya. Mohon doanya untuk semuanya moga kondisi ayah stabil hingga operasinya lancar dan selesai. Karena beliau hari ini drop, jadi operasinya di undur. Moga esok ada harapan yang pasti. Aamiinnn.
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya, like, komen, vote, rating bintang limanya ya.
Oiya, jangan lupa mampir juga ya ke karya temanku. Moga kalian suka.
Bersambung.
.
.
__ADS_1
.