Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Kembar


__ADS_3

"Sudah nariknya?" tanya Ryan kala Sosok Tasya keluar dari kubikel dimana tempat mesin Anjungan Tunai Mandiri ( ATM ) berada.


"Sudah," ucap Tasya sembari memperlihatkan sejumlah uang yang barusan ia tarik.


"Banyak sekali, pantesan lama," ucap Ryan saat melihat gepokkan uang yang di bawa Tasya.


"Kenapa ga langsung narik di teller, jadi ga repot dan lama. Bisa mempersingkat waktu dan lebih aman," ucap Ryan lebih lanjut.


"Lupa ya, jika saya hanya pendatang di negara ini. Saya lupa bawa buku tabungannya. Kelamaan mencarinya, ntar keburu ketahuan kakek," ucap Tasya tanpa sadar. "Lagian saya sekarang juga sedang bersama petugas yang berwajib. Jadi aman buat saya narik banyak ya ga," ucapnya sembari mengerlingkan matanya kepada Ryan.


Deg ...


Seketika jantung Ryan berdetak kala melihat kerling netra Tasya. "Nih cewek, ga da jaim jaimnya," Ryan membatin.


"Hei, kok diem saja?" ucap Tasya sembari menepuklan kedua tangannya di depan wajah Ryan yang sedang setia dalam heningnya.


"Eh iya," ucapnya.


"Ha .... Ha..... Ha .... Ternyata seorang petugas keamanan bisa gagal fokus juga ya!" ucapnya sembari tertawa lebar.


Ryan gemas ingin rasanya ia cubit hidung mancung pemilik raga cantik itu, saat melihat kelakuannya.


"Petugas keamanan juga manusia, Sayangku!"


Sekarang giliran Tasya yang terpaku dalam hening, kala mendengar kalimat akhir Ryan.


"Eh, kenapa sekarang giliran dirimu yang terdiam?" tanya Ryan. "Apa ada yang salah?" tanya Ryan kembali.


"Tidak ada, ayo kita pulang sekarang!" Tasya segera berlalu dari hadapan Ryan. Tasya berusaha menetralkan degup jantungnya kala mendengar ucapan akhir Ryan. "Ah, mungkin hanya pendengaranku saja. Ga mungkinkan kalo dia bilang sayang ke aku!" Ana mencoba menepis kenyataan dan kebenaran ucapan Ryan barusan.


"Ga mau jalan jalan dulu, sebelum pulang!" Tawar Ryan.


"Ga, kamu juga kan mau kerja, ntar di cari atasanmu. Masa dirimu absen!" Peringat Tasya.


"Okelah kalau begitu. Sesuai inginnya tuanku putri yang cantik dan ngegemesin!"

__ADS_1


"Apaan sih. Ayo pulang sekarang. Ntar dirimu telat apel pagi!"


"Asiaap. Siap laksanakan tugas!" Tasya tertawa kala melihat kelakuan Ryan yang memberi hormat padanya, ala ala bawahan dengan atasannya.


Mereka melangkah bersama dan segera meninggalkan tempat tersebut. Ryan mengantarkan Tasya terlebih dahulu, tiba hingga selamat sampai rumahnya. Saat raga itu telah menghilang di balik pintu rumahnya. Ryan segera menjalankan kendaraannya menuju tempat tugasnya.



Di negara A, sang ajudan tergopoh gopoh menghadap tuannya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?: tanya tuan Robert alias kakek Ana dan Tasya pada sang ajudan.


"Lapor tuan, terjadi transaksi penarikan sejumlah uang yang cukup besar, dari kartu yang dimiliki nona Tasya terhadap rekening anda. Terjadi di Negara Zamrud Khatulistiwa, pada saat ini." Lapor sang ajudan.


"Bukankah Tasya ada di sini! Kenapa dia bisa melakukan penarikan tunai di negara Zamrud Khatulistiwa sana?" tanya kakek Roberto berang. Dia telah merasa sangat bahagia kala melihat cucunya telah kembali dengan selamat.


Lalu sekarang ia mendapat laporan bahwasanya telah terjadi penarikan tunai di negara Zamrud Khatulistiwa, dari ATM milik Tasya yang pernah ia berikan. Jika itu terjadi, berarti Tasya masih ada di negara Zamrud Khatulistiwa. Trus raga siapa yang bersama nya beberapa hari ini. Tak mungkin ia tak mengenali cucunya sendiri. Jelas jelas yang ia lihat saat ini raga tersebut benar cucunya. Hanya saja sifat dan tingkahnya yang sedikit agak berbeda dengan tingkah lakunya sebelum kabur. Apakah benar cucunya Tasya belum pulang, dan masih ada di sana. Trus siapa yang ada bersamanya sekarang? Apakah para bawahan dan orang suruhannya menangkap dan membawa orang yang salah? Tapi tidak mungkin! Karna ia yakin yang bersamanya saat ini adalah benar cucunya. Batinnya membenarkan hal itu.


Kepala tuan Roberto tiba tiba pusing mendadak kala memikirkan hal tersebut.


"Sebenarnya kalian itu membawa siapa kemari?" tuan Roberto balas bertanya.


"Nona Tasya tuan.' ucapnya gugup.


"Lalu kenapa sekarang hal ini bisa terjadi. Tak mungkinkan Kartu ATM Tasya tertinggal dan dicuri orang di sana?"


"Itu mungkin saja terjadi tuan," jawab sang ajudan dengan penuh hati hati, takut membangunkan singa yang sedang tertidur.


"Lalu kenapa cucuku tak berkata apa apa? biasanya ia paling suka berceloteh tentang semua hal yang terjadi padanya diluaran sana. Sekarang kau lihat sendiri, cucuku itu malah terkesan dingin, cuek, acuh, dengan ekspresi datarnya! Jika ia kehilangan semua ATM dan kartu nya otomatis ia akan lapor padaku dan akan meminta kartu baru. Lha ini diam saja semenjak ia datang hingga sekarang. Bahkan saat ini ia terkesan menjaga jarak padaku, kakeknya!" Tuan Roberto.menumpahkan keluhan hatinya.


"Iya juga ya tuan," Sang ajudan mengikuti dan membenarkan ucapan tuannya.


Hening melanda mereka saat itu. Memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi.


"Jika non Tasya ada di negara Zamrud Khatulistiwa sana. Dan nona di sini juga cucu tuan. Karna ikatan batin antara cucu dan kakek kuat. Apalagi tuan yang telah membesarkan non Tasya dari bayi hingga sekarang. Tak mungkin tuan tak mengenali cucu tuan," ucap sang Ajudan dan mendapat anggukan dari sang tuan.

__ADS_1


"Apakah mereka kembar tuan?" Pertanyaan sang ajudan menggagetkan tuan Roberto.


"KEMBAR .... "Beo tuan Roberto.


"Iya tuan, bisa jadi mereka kembar! Mungkin benar non Tasya masih ada di negara Zamrud Khatulistiwa. Dan yang ada di sini adalah cucu tuan yang lainnya. Alias kembarannya non Tasya!" Sang ajudan mencoba mencari pembenaran dari perkataannya, agar tidak disalahkan sang tuan karna salah membawa orang.


"Iya tuan, ambil hikmahnya saja. Dengan begitu secara tidak langsung tuan telah bertemu kembali dengan cucu tuan yang satu nya lagi, tanpa repot tuan mencarinya," ucap kepala maid yang tiba tiba telah hadir di sana. Sedari tadi ia menyimak pembicaraan sang tuan dengan orang suruhannya untuk membawa kembali nona Tasyanya.


"Di mana dia sekarang. Aku ingin memeluknya erat. Selama ini tak terpikirkan bahwa mereka kembar. Sehingga tak ada niat aku untuk mencarinya Mungkin ia hidup selama ini penuh penderitaaan tanpa perhatian dan perlindungan dariku. Lihatlah kelakuannya yang cuek, datar, dingin dan tanpa ekspresi. Sikapnya selalu waspada terhadap semua orang. Aku sungguh berdosa karena telah menelantarkannya!" ucap tuan Roberto penuh penyesaan.


"Nona ada di kamarnya tuan. Mungkin beratnya hidup dan penderitaan yang telah merubahnya jadi seperti itu, tuan jangan bersedih. Sekaranglah waktunya jika tuan ingin memperbaiki keadaan, dan mencoba berdamai dengannya," ucap kepala Maid menimpali perkataan sang tuan.


"Ia kau benar. Aku ingin menemui cucuku sekarang!" ucap Tuan Roberto lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Tasya yang saat ini ditempati oleh Ana.


"Trus, bagaimana dengan non Tasya tuan. Apa perlu kami membawanya pulang kembali sekarang?" tanya sang ajudan menghentikan langkah tuan Roberto.


"Biarkan saja dulu dia bersenang senang di sana. Aku yakin ia bisa memjaga dirinya disana. Aku yakin itu." Setelah berucap tuan Roberto kembali melangkahkan kakinya. Ia sudah tak sabar ingin memeluk raga sang cucu yang selama ini terlupakan olehnya.


"Baik tuan!," ucap sang ajudan lalu berlalu pergi.


...❤@@@@@@❤...



Jangan lupa tinggalkan jejak ya, berupa like, komen, rating bintang lima, vote nya ya.


Satu like dan komen dari kalian sangat berarti buat saya. ❤❤❤


Gifnya juga boleh. Lupyu all.😍😂


Bersambung.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2