
Di sudut ruangan Chris tersenyum sembari menatap wajah cantik sang istri Kala mendengar ucapan sang istri.
"Iya honey..... Aku sudah tahu kalau dirimu adalah cucu kandung sang kakek, tapi tetap saja aku cemburu jika ada orang lain yang memeluk dirimu. Hanya aku yang boleh!" Seketika raga Chris telah berdiri di hadapan Ana dan memeluknya erat. Tuan Roberto tidak dapat melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya saat ini.
"Lepaskan ..... Enggap tahu!" Ana berusaha berontak saat sang suami memeluknya erat, tanpa memberi nya celah untuk bernapas.
"Kenapa sayang?" tanya tuan Roberto dengan nada cemas dan khawatir saat melihat wajah sang cucu tiba-tiba pucat dan pias.
Chris semakin mempererat pelukkannya Kala mendengar suara tuan Roberto, cemburunya semakin menjadi-jadi. Seketika raga Ana lunglai dalam peluknya.
"Honey, kamu kenapa?" tanya nya cemas saat melihat raga sang istri lunglai dalam peluknya. Chris lupa menjaga keseimbangan raga Ana, dan berakhir raga sang istri terlepas dari peluknya. Ingin ia segera menangkap raga tersebut yang hampir membentur lantai akibat ulahnya, namun ia takut tuan Roberto terkejut jika melihat raga istrinya tiba-tiba melayang di udara. jadi ia hanya membantu seperlunya saat tuan Roberto menangkap raga Ana yang hampir terjatuh ke lantai.
Tuan Roberto segera membawa raga Ana ke atas pembaringan yang pastinya dengan bantuan Chris, Chris tidak akan tinggal diam saat melihat raga sang pujaan hati pingsan akibat ulahnya. "Maafkan aku honey, cemburu membuatku lupa bahwa saat ini kau sedang berbadan dua. Dan aku juga lupa bahwasanya kehamilanmu ini membuat ragamu menjadi lemah hingga mempengaruhi kesehatan ragamu. Maafkan aku Honey," ucapnya penuh sesal yang hanya Mampu di dengar oleh sang angin.
Tuan Roberto segera memerintahkan kepala maid untuk memanggil dokter guna memeriksa keadaan Ana yang saat itu tiba-tiba pingsan.
Kepala maid segera menjalankan perintah dari sang majikan.
Di negara Zamrud Khatulistiwa, Tasya tiba-tiba mengalami sesak mendadak. Kak Cinta saat itu yang sedang berada bersamanya segera membantu Tasya.
"Ana, kamu kenapa?" tanya Cinta dengan nada cemas dan khawatir.
"Tidak tahu kak, kenapa aku tiba-tiba begini!" Beo Tasya sembari terus mengontrol laju napasnya.
Cinta segera membantu Tasya dengan memberinya Minyak kayu putih, semoga aroma minyak kayu putih dapat mengurangi sesak yang tiba-tiba menyerang Tasya, fikirnya Cinta.
Selang beberapa waktu akhirnya nafas Tasya kembali normal. Ada perasaan rindu menjalar dalam relung hatinya yang paling dalam pada sang kakek yang berada nun jauh di Sana. Tasya ingat, jika ia sakit maka orang yang pertama yang paling khawatir adalah kakeknya. Tak terasa buliran Kristal bening meluncur dari Netta indahnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Cinta.
"Tidak apa-apa kak!"
__ADS_1
"Kamu sudah baikan sekarang! "
"Iya kak, terima kasih!" ucap Tasya tulus.
"Y'all sudah, kamu istirahat saja ya. Jangan mikir yang macem-macem!"
"It's kak terima-kasih!"
"Sama-sama!" ucap Cinta lalu berlalu pergi dari kamar Ana.
Saat raga Cinta telah menghilang dibalik pintu. Tasya segera mengambil ponselnya. Dan segera menghubungi sang kakek.
Tuts.... Tuts.... Tuts.....
Panggilan terhubung, tuan Roberto segera menerima panggilan tellon yang masuk.
"Kakek ...," ucap Tasya dengan nada penuh kerinduan.
"Iya ada-apa sayang!" jawab tuan Roberto dengan nada datar. Saat ini ia tengah cemas dengan keadaan yang sedang menimpa Ana, hingga ia kurang menanggapi panggilan telpon dari Tasya cucu kesayangannya.
"Iya sayang, bagaimana kabarmu disana, baik-baik saja kan!" tanya tuan Roberto seperlunya.
"Ish da, kakek sudah tidak sayang Tasya. kakek sudah lupa dengan Tasya. Apakah Tasya masih cucumu? "
"Iya Tasya sayang. Kamu Masih Cucuku. Cucu kakek tersayang. Jadi jangan manja. Kakek tahu kamu baik-baik saja di sana. Sekarang kakek lagi ada masalah urgen. Lain kali Tasya telpon lagi ya. Kakek matikan telponnya sekarang."
Klik.... sambungan telpon segera terputus dengan sendirinya.
"Tasya maafkan kakek, bukan kakek tak mau lama-lama menerima telponmu, tapi saat ini kondisi Ana lebih penting. Semoga kamu baik-baik saja di sana!" tuan Roberto membatin dalam hatinya.
Selang beberapa menit kemudian datanglah sang dokter ke dalam kamar Tasya. Dokter segera memeriksa keadaan Ana.
__ADS_1
"Bagaimana dok, bagaimana keadaan cucu saya?" tanya tuan Roberto dengan nada cemas.
"Puji Tuhan, Nona baik-baik saja tuan. Hanya saja kehamilan sedikit mempengaruhi kesahatannya," jelas sang dokter.
"Cucuku Hamil!" Beo tuan Roberto.
"Iya tuan, cucu anda sedang berbadan dua saat ini."
"Jadi aku akan menjadi seorang kakek buyut! "
"Iya Tuan, anda akan menjadi seorang kakek buyut. Selamat ya Tuan. Tapi tolong diperhatikan bahwasanya Usia kandungannya baru menginjak trimester pertama. Pada masa ini sangat rentan bagi ibu hamil, tolong dijaga kesehatannya tuan, dia tidak boleh stress dan berfikir keras ataupun terkejut. Kalau sampai stress maka hal ini akan terjadi lagi." jelas sang dokter lebih lanjut.
"Baik dokter, kami akan selalu menjaga kesehatannya. Terimakasih atas saran Dan nasehatnya," ucap tuan Roberto.
"Iya Tuan sama-sama, saya mohon undur diri dulu. Kalau Ada hal-hal urgen lainnya tolong hubungi saya kembali. Untuk sementara keadaan Nona baik-baik saja. Dan sebentar lagi Dia juga akan segera siuman!"
"Iya Dok, terima kasih banyak."
"Sama-sama Tuan. saya permisi dulu!"
"Iya Dok, silahkan!"
Tuan Roberto segera mendekati raga Ana, saat sang dokter telah berlalu dari hadpannya. Dielusnya lembut penuh kasih sayang kepala sang cucu dengan rasa penyesalan yang mendalam.
"Tolong maafkan kakek! Kakek tidak tahu jika saat ini dirimu sedang berbadan dua. Mungkin kau terkejut dengan apa yang telah kakek ceritakan, hingga membuatmu pingsan mendadak. Sekali lagi tolong maafkan Kakek," ucap tuan Roberto penuh sesal.
Jangan lips tinggalkan jejaknya ya.
satu like, komen, rating bintang lima dari kalian sangat berarti bagi othor.
lupyu all.
__ADS_1
Bersambung.