
Terdiam terpaku, hanya itu yang mampu dilakukan oleh sang gadis. Ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini. Entah ia berada di mana, di negeri antah berantah yang masih asing baginya. Orang orang yang berada di sekelilingnya saat ini, tak ada satu pun dari mereka yang ia kenal. Namun ia berusaha untuk tetap tersenyum, saat mereka juga tersenyum padanya.
Hidup memang seperti lelucon baginya saat ini. Ia tak dapat merasakan antara yang nyata ataupun tidak nyata. Antara ada dan tiada, semuanya menyatu menjadi satu. Terdiam di antara dua sisi yang sama sama membingungkan bagi dirinya yang hanya insan biasa.
Lamunan panjangnya membawa dirinya kembali pada ingatan tentang kejadian sebelum dirinya berada di ruangan tersebut. Masih tersisa puing puing kebingungan pada dirinya. Memikirkan keadaannya saat ini.
"Maaf Yang Mulia, kami pamit undur diri dahulu," ucap para dayang yang membantu membersihkan dan melayani dirinya. Saat tugas utama mereka telah selesai, mereka pun pamit undur diri.
"Ya, silahkan. Terima kasih atas bantuannya.'
"Tidak masalah Yang Mulia, ini adalah tugas dan kewajiban kami sebagai abdimu yang Mulia."
"Oh ya, sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
"Iya sama sama Yang Mulia. Kami pamit undur diri."
"Hormat kepada Yang Mulia Ratu,' ucap mereka serentak sembari membungkukkan tubuhnya.
Ana mengganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada mereka. Setelah mendapat anggukan dari Ana, merekapun bergegas meninggalkan ruangan tersebut dengan teratur dan tertib.
Setelah kepergian orang orang yang diperintahkan untuk mengurus dan merawat dirinya. Ia kembali terpuruk si satu sisi ruang asing, sendirian tanpa ada satupun orang yang menemaninya.
Lima belas tahun yang lalu ....
Seorang gadis kecil sedang duduk di pinggir sungai.
"Kak, liat kak!" seru sang adik kepada sang kakak yang saat itu sedang mengumpulkan barang barang rongsokan, untuk di jual kembali kepada pengepul.
"Apa dek?" tanya sang kakak yang masih asyik dengan kegiataannya.
__ADS_1
"Kak, liat ke sana. Ada seekor anak ikan tersesat!" ucapnya dengan mata berbinar.
"Mana?" tanya sang kakak sembari mengalihkan perhatian dan arah netra nya menuju pada sesuatu yang ditunjukkan oleh sang adik.
"Itu kak, diantara sampah sampah yang hanyut di sana. Sepertinya ia terjebak di sana, karena arus air yang deras."
"Oh itu, bukan anak ikan dek. Tapi anak ular, hati hati dek jangan ke sana, nanti kamu digigitnya," jawab sang kakak dengan lugas. ( padahal anak ular kan ga bisa gigit, masih kecil iakan thor, aku bilang begitu biar si Ana ga ke sana, takut terpeleset, trus jatuh. Kalo jatuh ke sungai ntar saya juga yang repot. Thor, bener ga...?" Ayo thor dukung saya ya.😂)
"Anak ular kak?" tanyanya seolah tidak percaya dengan penjelasan sang kakak.
"Iya anak ular. Biarkan saja dia di sana. Jangan diganggu!" Perintah sang kakak.
"Tapi kak, kasihan dia. Dia terjebak diantara sampah itu!" tunjuk sang adik.
"Biarkan saja dek, diakan mahluk hidup. Bisa bergerak dan berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Ayo, sekarang bantuin kakak saja."
Si gadis kecil malah berjalan semakin mendekati titik fokus yang dia lihat sedari tadi. Dibanding kakaknya yang menyuruh untuk membantunya. Seolah olah ia tak mendengar apa yang sudah diperintahkan sang kakak kepada dirinya.
Gadis kecil tersebut tidak mengindahkan ucapan sang kakak, ia tetap berjalan, dan melangkahkan kakinya menuju objek yang menarik hatinya sedari tadi.
"Hai kamu tersesat ya, aku bantuin kamu ya. Biar kamu bisa bebas kembali." Ia berucap sembari membantu membebaskan tubuh kecil sang anak ular dari tumpukan sampah, menggunakan sebilah bambu yang tergeletak di sana. Tangan mungilnya mencoba mengais sampah yang membelenggu tubuh sang ular kecil.
"Sabar ya, sebentar lagi dirimu, akan terbebas dari sampah ini," ucapnya sembari terus menghalau sampah.
"Kenapa pula para manusia itu, membuang sampah sembarangan. Apa mereka tidak tahu jika sampah yang mereka buang dapat menyebabkan banjir, mengotori sungai, dan membahayakan hewan hewan kecil, seperti dirimu ya ular kecil," celoteh bibir mungilnya.
"Yeah... Akhirnya berhasil," ucapnya setelah berhasil membantu membebaskan sang ular kecil.
Setelah berhasil terbebas dari jeratan sampah tersebut. Sang anak ular terus berenang menjauh. Netra mungilnya, menatap intens kepada sang dewi penolong, yang telah membantu menyelamatkan dirinya, sehingga ia terbebas dari insiden yang mengerikan bagi tubuh mungilnya.
"Aku takkan melupakan dirimu, wahai dewi penolongku. Aku akan selalu membalas semua jasa yang telah kau lakukan kepadaku. Hatimu sungguh mulia, walaupun kau tahu aku adalah seeokor ular, kau tetap menolongku. Terima kasih dewiku. Mulai saat ini aku bersumpah akan selalu menjaga dan melindungimu dari marabahaya yang akan menghampirimu." Sang ular kecil membatin dalam hatinya sembari terus berenang menjauh. Netranya mempotret raut wajah sang dewi penolong. Hingga terpatri erat di jantung hatinya yang terdalam.
__ADS_1
"Selamat jalan ular kecil, jaga dirimu selalu ya. Moga dirimu selalu selamat," ucap sang gadis kecil mengiringi kepergian sang ular kecil yang terus berenang menjauh, dan semakin jauh dari dirinya. Hingga tak terlihat lagi di netra mungilnya.
"Ana ayo kemari!" Perintah sang kakak mengagetkannya dari adegan perpisahan dengan sang anak ular.
"Iya kak, sebentar. Ana akan segera menemui kakak," ucapnya. Netra mungilnya masih setia menatap ke arah anak ular, yang sudah tak terlihat lagi.
"Semoga di lain waktu kita dapat berjumpa lagi. Dan tentunya saat itu kau sudah besar ya," ucapnya kembali. Hanya angin yang menerima ucapannya.
Setelah berucap, sang gadis kecilpun mendekati kakaknya kembali, dengan berlari kecil membawa tubuh mungilnya. Setelah selesai pekerjaannya. Mereka pun mulai beranjak dari tempat tersebut, sembari terus melangkah menjauh.
Sang anak ularpun kembali menjelma menjadi sosoknya yang asli, seorang anak kecil laki laki.
Netranya menatap kepergian sang gadis kecil dan kakaknya.
"Mulai saat ini aku akan selalu ada di sampingmu, wahai dewi penolongku. Dan di masa mendatang hanya kau lah yang akan menjadi ratu. Ratuku ...." Monolognya sambil tersenyum sembari membayangkan raut wajah sang dewi penolong.
"Ana, ternyata itu nama dirimu. Ratuku."
Semenjak kejadian itu, sang anak ular yang merupakan jelmaan dari seorang anak laki laki dari bangsa Jin. Selalu ngikuti gerak dan langkah sang dewi penolong. Ia selalu berusaha melindungi dan menjaga keselamatan sang calon Ratunya di masa mendatang. Dari kecil hingga dewasa, ia selalu berada di samping sang dewi penolong. Tanpa diketahui oleh sang empunya raga. Sampai kejadiaan naas itu pun terjadi. Di saat Jenny berusaha mencelakai calon ratunya, ia telah ingin membalaskan setiap perbuatan Jenny kepada Ana namun ia urungkan niatnya. Karna fokus utamanya saat ini hanyalah tentang keselamatan sang dewi penolong, Ana Sang Ratunya di Masa mendatang.
Biarlah urusan dengan Jenny nantinya akan ia serahkan kepada sang pemilik hatinya. Menentukan tindakan apa yang akan ia dan Ana lakukan kepada Jenny selanjutnya.
...///********///...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, vote, komen, favorit, dan rating bintang limanya ya..
Lupyu All.
oiya jangan lupa mampir juga ke karya temanku sesama Author, moga kalian suka ya.
__ADS_1
Bersambung..