
Ana melajukan kuda besinya dengan kecepatan maksimal. Raga ramping tersebut meliuk liuk di jalanan ibukota. Membelah hitam pekatnya malam. Sebelum menuju area balap liarnya. Ia melajukan kuda besinya terlebih dahulu menuju ke arah taman kota. Di mana di sana biasanya mereka nongki nongki. Sebelum balap di mulai.
"Hai... Apa kabar semuanya?" Sapa Ana kepada sahabat sahabat nya yang terlebih dahulu telah hadir di sana, saat ia telah memarkirkan kuda besinya dengan sempurna.
"Baik..." Jawab sahabat sahabatnya serempak.
"Oh ya guys. Maaf gue ga bisa ikut gabung ya." Ucap Ana kepada sahabat sahabatnya. "Bang Riki, nitip bentar ya." Ucap Ana kepada Riki sembari menunjuk kuda besinya. Riki merupakan ketua preman di sekitaran taman kota. Taman kota adalah daerah kekuasaan Riki, Jagaannya.
"Mo kemana kamu?" Tanya Riki, saat melihat Ana akan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.
"Mo menghadang angkot bang Ken. Ana mo ikut bang Ken naksi." Ucapnya.
""Kayaknya tadi Ken sudah lewat. Kamu tunggu saja dulu. Nanti dia muter lagi di sini." Ucap Riki menghentikan langkah Ana.
"Asiaap bang." Ana melangkahkan kakinya mendekati bang Riki dan para sahabatnya yang sedang bergitar dan bernyanyi bersama. Ana mulai menyanyikan sebuah lagu yang ia sukai berasal dari salah satu band terkenal di tanah air.
Resah jiwaku menanti
Mengingat semua yang terlewati
Saat kau masih ada di sisi
Mendekapku dalam hangatnya Cintamu.
Lambat sang waktu berganti.
Endapkan laraku disini.
Coba tuk lupakan bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa tuk merindumu.
Reff. Sekian lama aku mencoba.
Menepikan diriku, diredupnya hatiku.
Letih menahan perih yang kurasakan.
Walau ku tahu ku masih mendambamu..
__ADS_1
Lihatlah aku di sini.
Melawan getirnya takdirku sendiri.
Tanpamu... Aku lemah..
Dan tiada berarti...
Back to Reffren...
Sambil bernyanyi netra Ana berkeliling, mengabsen setiap sudut. Banyak terlihat pasangan berlainan jenis yang mojok di sana. Entah apa yang mereka lakukan Ana tak petduli dan tak ambil pusing.
Terlihat beberapa pedagang asongan yang menjajakan dagangan mereka. Ana teringat saat kecil dulu, ia juga membantu kak Cinta dengan berjualan asongan untuk memperoleh sesuap nasi buat mereka makan.
Beberapa pengamen mengidar, mengitari taman kota menyanyikan lagu lagu kepada setiap orang yang hadir di sana.
Tak berapa lama, kendaraan ken pun terlihat akan melintas.melewati mereka.
"Ana, itu Ken kayaknya." Ucap Riki menunjuk kendaraan yang dikemudikan oleh Ken sudah terlihat dari sudut pandang mereka.
"Ia bang. Aku ke sana dulu ya semuanya." Ucap Ana sembari meninggalkan rombongan dan bergegas menghampiri kendaraan yang dikemudikan Ken.
Ken nama panjangnya adalah Kennedy. Mungkin waktu orang tua nya memberi nama terinspirasi dari nama almarhum Presiden Amerika Serikat yaitu Jhon F Kennedy.
Walaupun mereka sejatinya adalah preman dan berandalan. Tapi hati mereka baik. Tak pernah sekalipun mereka melakukan perbuatan yang tidak terpuji terhadap Ana. Bahkan sebaliknya mereka akan selalu menjaga Ana, layaknya adik kecil mereka. Tak ada yang berani mengganggu Ana karena pamor dari kedua nama tersebut yaitu Ken dan Riki.Mereka berdua adalah penguasaan di daerah tersebut.
Ckriet... Terdengar suara roda ban bergesekan dengan jalan aspal. Ken Ngerem mendadak. Karna Ana menghadang jalan dan laju kendaraannya.
"Apa apan sih kamu An, kalo ketabrak gimana coba?" Tanya Ken saat Ana telah berhasil duduk di jok depan, di samping nya yang sedang menyetir.
"He... He... He... Maaf bang. Kayaknya ga bakal ke tabrak. Buktinya sekarang Ana baik baik saja kan." Jawab Ana asal, sembari tersenyum menunjukkan gigi gingsulnya.
"Jangan takabbur ya kamu. Untung rem nya pakem. Coba kalo blong. Abis lu, jadi rempeyek." Ucap Ken sembari trus melajukan laju kendaraannya.
"Liat bang, itu ada penumpang!" Ucap Ana sembari menunjuk seseorang yang berdiri di pinggir jalan, tangannya melambai memberi isyarat agar kendaraan roda empatnya Ken berhanti melaju.
"Bang gue pindah ke belakang ya, biar tu cewek ada temennya." Ucap Ana saat Ken menghentikan laju kendaraannya. Ana bergegas turun. Dan membuka kan pintu mobil untuk sang penumpang yang berjenis kelamin perempuan. Setelah penumpang naik dan duduk dengan manis. Ana juga ikut naik, dan duduk di dekat sang penumpang tersebut sembari menutup pintu mobil.
Ken mulai melajukan kembali laju kendaraannya dengan kecepatan sedang. Saat dirasa Ana dan sang penumpang telah duduk dengan aman.
__ADS_1
Setiap kali Ken naksi, maka Ana akan selalu jadi umpan buat penumpang perempuan. Jika ada Ana, maka para penumpang perempuan akan ikut di kendaraan Ken. Mereka tidak akan takut dan tidak akan merasa sendirian. Karena merasa ada Ana bersama mereka sesama perempuan. Karena suasana malam jadi mereka tidak ragu jika dilihatnya ada penumpang lain yang berjenis kelamin perempuan.
Satu persatu penumpang mulai banyak yang naik. pada kendaraan yang dilajukan Ken. Saat telah sampai tujuan mereka pun satu persatu mulai turun kembali dan membayar ongkos sesuai tarif ke pada bang sopir yaitu Ken. Ana tetap duduk manis di tempatnya.
Saat di rasa penumpang telah habis. Ana pun kembali pindah duduknya ke dekat Ken kembali.
"Gimana hasilnya bang. Kayaknya rame penumpang hari ini?" Tanya Ana.
"Alhamdulillah, cukup buat bayar setoran dan cukup buat isi bensin besok. Hari ini bensin sudah diisi full tank tadi di pom bensin." Ucap Ken sembari menghitung jumlah pendapatannya hari ini. Memyisihkan uang setoran dan uang bensin. Sisanya ia bagi dua dengan Ana.
"Gak ke banyakkan ini bang? Ana kan hanya ikut bentar tadi bang." Ucap Ana.
"Kagak.... Itu buat Lu, rezeki jangan ditolak. Ga mau ya. Kalau ga mau, sini kembalikan!" Perintah Ken sembari akan mengambil kembali uang yang telah diberikannya kepada Ana.
"Eits, ga bisa. Sudah dikasih ga boleh di ambil lagi. Nanti busuk tu sikutnya." Ucap Ana menyetop laju tangan Ken yang akan mengambil kembali uang yang sudah diberikan Ken dengan tangan kanannya. Sembari tangan kirinya memasukkan dengan cepat uang yang Ken beri ke dalam saku jaketnya.
"Katanya tadi ga mau!" Sindir Ken.
"Siapa juga yang ga mau. Lumayan buat isi kuota internet." Ucap Ana dengan tersenyum.
"Kamu mo kemana lagi. Abang mo mulangin nih mobil. Lu mo turun di mana?" Tanya Ken kembali.
"Turun di taman kota saja bang. Abis ini mo lanjut ke arena balap. Gue liat tadi kayaknya udah ramai." Jawab Ana.
"Ok baiklah nona manis. Siap meluncur." Ucap Ken lalu kembali melajukan kendaraannya nenuju taman kota. Setelah Ana turun ia kembali melajukan kendaraannya pada tujuan awalnya yaitu mengembalikan mobilnya.
Malampun semakin larut saat Ana kembali ke taman kota.
...******....
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like, komentar, vote, dan rating bintang lima nya ya..
Bunga dan kopinya juga boleh buat mengusir dinginnya angin malam. wkwkwk😂
Tetima kasih, lupyu all💓
.
.
__ADS_1
Betsambung.
.