Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Kepergiaan Sang Panutan


__ADS_3

Ryan selalu berada di sisi brangkar sang Ayah. Lisannya tak pernah berhenti mengucapkan kalimat Tauhid. Laa ila haillah... Laa ila haillah... Laa ila haillah Muhammadar Rasulullah...


Allahu..Allahu..Allahu... Begitu seterusnya lisan Ryan berucap di netra pendengaran sang ayah. Sejak kehadirannya. Tak sedetikpun Ryan berusaha menjauh dari sisi sang ayah. Ryan dengan setia berada di sisi beliau. Di lihatnya sang bunda juga sudah sedikit terlelap dalam.posisi duduk diujung kaki sang ayah.


Tiba tiba Ryan nerasakan pergerakan jari jemari sang ayah. Dan perlahan netra itu terbuka.


"Yan..." Ucapnya lirih.


"Alhamdulillah, akhirnya ayah bangun juga." Ucap Ryan saat mendengar suara dan melihat sang ayah kelopak netranya sudah terbuka.


"Bunda, Ayah telah sadar.." Ucap Ryan kepada sang bunda. Sang bunda refleks terjaga dari lelapnya. Dan mendekat ke posisi samping sang suami.


"Alhamdulillah, ayah sudah sadar." Ucapnya dengan terharu.


"Yan, maafkan ayah.. Mungkin ayah ga lama lagi... Jika ayah pergi, ayah titip bundamu. Jaga dan sayangilah beliau..." Ucap sang ayah dengan terbata. Dari sudut netranya mengalir setetes kristal bening.


"Iya ayah.. Ryan akan selalu berjanji untuk selalu menyayangi, membahagiakan bunda. Takkan Ryan biarkan setetespun airmata kesedihan menetes dari matanya." Ucap Ryan sembari memencet tombol untuk memberitahu pihak medis, bahwa ayahnya telah sadar.


"Ayah jangan banyak bicara dulu. Ayahkan baru sadar." Ucap bunda yang berada di samping sebelah kirinya. Sedangkan Ryan berada di samping sebelah kanannya.


Ayah memperhatikan raut wajah orang orang terkasihnya. "Maafkan ayah ya bunda, tak bisa lagi menemani bunda untuk selanjutnya." Ucap ayah kembali dengan terbata.


"Ayah.. Ryan mohon jangan berbicara seperti itu, Ayah akan sehat, dan bahagia selalu.." Ucap Ryan.


"Maafkan ayah juga ya Ryan, jika selama ayah hidup ayah selalu bersikap keras kepadamu..." Nafas ayah mulai tersengal sengal disaat beliau berkata kata. "Ryan tolong jaga bundamu ya... Laa ila haillah..." Ucap sang ayah.


Tiiit....Tiiit...Tiiit... Terdengar suara nyaring, dari alat merekam detak jantung, yang menandakan telah berhentinya jantung ayah berdetak.


"Innalihai Wainna ilahi rojiun.:. Selamat jalan Ayah." Ucap Ryan terbata. Ryan segera mengusap wajah sang ayah sembari membaca doa.


Sang bunda pun tak kuasa menahan isak tangisnya. Melihat kekasih hatinya pergi menghadap Yang Kuasa.. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiu. Selamat jalan ayah, moga kita bertemu kembali di jannah-Nya..." Ucap sang bunda seraya mencium kening ayah.


...///*****///...


Ryan segera mengabari pihak keluarga dan handai taulannya. Kepada atasannya, dan ke media sosial, kabar tentang berita kepergian sang ayah.


Bebagai ucapan berbela sungkawa dan turut berduka cita berdatangan dan silih berganti masuk ke gawai tipisnya. Sesaat setelah Ryan mengabarkan kepergian sang ayah menghadap sang Ilahi Rabbi.

__ADS_1


Banyak notifikasi yang masuk di beranda grup chat dan media sosialnya.


Mereka semua turut berduka cita dan mengirimkan berbagai ucapan dan doa untuk ayahnya Ryan. Ryan tak sempat membalas semua pesan yang masuk. Membacanya pun ia hanya sepintas lalu.


Saat jenazah telah siap untuk pulang ke rumah duka. Jenazah ayah segera di bawa memasuki mobil jenazah. Sang bunda dan beberapa kerabatnya yang menemani di dalam mobil jenazah. Ryan segera menghampiri kendaraannya dan mulai meninggalkan parkiran rumah sakit. Mengikuti iring iringan mobil jenazah yang membawa jenazah ayah.


Saat Ryan berada di dalam kendaraannya. Ia baru menyadari jika ada sosok yang terbaring lemah di jok belakang kendaraannya. Terlihat sosok tersebut masih belum terjaga.


Tiba di rumah duka, Ryan segera memarkir kendaraannya. Ia keluar dari kendaraannya dengan membawa kunci borgol dan segelas air mineral.


Ryan membuka pintu belakang mobilnya, lalu membuka borgol yang masih berada ditangan sang nona. Memercikkan beberapa air ke wajah sang nona. Sembari menepuk wajahnya pelan.


"Hei.. Bangun... Kenapa masih belum sadar juga, obat apa yang kau minum, efeknya bisa seperti ini. Hampir dua puluh empat jam, nasih belum sadar juga." Ucapnya sembari masih memercikkan air mineral ke wajah sang nona.


"Aish... Masih ga mau bangun juga, atau ku tinggalkan lagi kau sendirian di sini." Ucap Ryan bermonolog.


"Ayo.. Bangun... Gak capek apa pingsan mulu." Ucapnya sembari masih memercikkan air ke wajah cantik itu.


"Haish... Mo ku siram satu ember ya, biar kau bangun... " Ucap Ryan akhirnya. Sebenarnya sang nona sudah sadar dari pertama Ryan memercikkan air ke wajahnya. Namun ia enggan membuka kelopak netranya. Mungkin masih efek obat dalam dirinya.


"Akhirnya bangun juga." Ucap Ryan saat melihat netra itu mulai terbuka. Ia segera terduduk dari baringnya.


"Aku dimana..??!!" Tanya nya dengan sok polosnya.


"Kau tak sengaja ikut pulang ke kediamanku." Jawab Ryan yang berdiri di luar mobil.


"Aku... Di rumahmu?"


"Ya.. Kau di rumahku. Dan sekarang kau ku bebaskan. Silahkan pergi dari sini. Aku banyak pekerjaan yang harus aku urus sekarang." Ucap Ryan.


"Aku... Aku... Harus pergi ke mana, aku tak tahu ini di mana?"


"Terserah kau mau pergi ke mana saja. Kau bebas sekarang. Kau kan juga sudah terbiasa kabur. Jadi sekarang silahkan pergi. Aku membebaskanmu." Ucap Ryan. " Oiya, kemarikan jaketku. Dan jangan lupa tutup kembali tu pintu mobil." Ucap Ryan mengambil jaketnya, memakainya kembali, dan berlalu pergi dari hadapan Ana.



Ana segera keluar dari mobil. Dan melangkah mengikuti langkah Ryan yang lebar lebar memasuki rumah duka. Ana tak tahu dia harus kemana. Karna daerah yang ia lihat saat ini asing baginya. Uang pun ia tak punya bagaimana mo pergi. Akhirnya ia hanya mengikuti langkah Ryan. Hanya Ryan yang ia kenal di daerah yang masih asing baginya.

__ADS_1


Ryan segera membantu menggangkat Jenazah ayah saat mobil jenazah telah sampai. Jenazah segera di bawa masuk ke dalam rumah duka.


"Siapa yang bersamamu Yan?" Tanya sang bunda saat menyadari ada sosok yang selalu mengikuti langkah putranya.


"Siapa bun?" Tanya Ryan heran. Ia belum menyadari keadaan sekitar, karena terlalu fokus dengan jenazah sang ayah.


"Itu.. " tunjuk sang bunda, menunjukkan sosok yang selalu mengikuti Ryan. Netra Ryan mengikuti arah tunjuk sang bunda.


"Astaghfirullah hal azim.. Kan sudah ku suruh pergi, kok masih di sini sih." Ucap Ryan membatin.


"Itu bun."


"Iya, yang itu. Gadis itu dari tadi selalu mengikuti langkahmu. Kemana pun kau pergi dia ngikut. Siapa Dia Yan?" Tanya sang bunda dengan netra mata yang masih membengkak.


"Dia bukan siapa siapa bun..!!"


"Tapi kenapa ngikutin dirimu terus. Apa dia pacarmu, calon mantu Bunda?"Tanya sang Bunda.


Ryan terdiam tak bisa menjawab pertanyaan sang bunda. Fokusnya saat ini adalah mengurus jenazah sang ayah.


...///*****///...


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen dan votenya nya.


Rating bintang lima nya juga ya.


Kopi dan bunga nya juga boleh. Buat Ana, kayaknya kelaparan ga di kasih makan oleh Ryan.πŸ˜‚


Mampir juga ya ke karya temanku, moga suka... Lupyu all😍.



Bersambung.


.


.

__ADS_1


__ADS_2