
Ryan telah siap dengan seragam lengkapnya. Saat ia melangkah mendekati Edo. Raga ramping yang di jaga Edo masih belum bergerak dari posisinya. Ia masih dalam keadaan terlelap.
"Do, saya ada pertemuan hari ini. Kau juga ikut." Ucap Ryan sambil berlalu.
"Trus, ini gimana ndan?" Ucap Edo sembari menunjuk raga yang masih terlelap di atas shofa.
"Biarkan saja. Toh dia juga takkan bisa kemana mana dengan keadaannya yang demikian." Ucap Ryan masih terus melanjutkan langkahnya. "Ayo do, buruan. Atau kau mau saya tinggal. Dan mendapat SP dari saya!" Perintah Ryan.
"Asiaap.. Komandan..." Edo mengikuti langkah Ryan keluar dari apartemen.
Mereka memasuki kendaraannya masing masing, lalu melajukan menuju tempat pertemuan.
"Ndan, saya permisi mo bersih bersih dahulu, setelah itu saya akan menyusul ke ruang pertemuan." Ucap Edo.
"Baiklah. Silahkan." Ucap Ryan melangkah menuju ballroom.
...********...
Setelah beberapa saat kepergian Ryan dan Edo pergi meninggalkan apartemennya. Raga cantik itu mulai membuka kelopak matanya.
"Raga ku rasanya remuk redam. Kemana kira kira polisi edan itu. Mengeluarkan peluru tanpa aba aba dan obat bius. Dia pikir aku boneka, yang tak bisa merasakan apa apa." Ucapnya bermonolog sendiri. Netra nya mulai memindai setiap sudut ruangan yang ada di apartemen tersebut. Mencari sosok yang beberapa waktu lalu terborgol bersamanya. "Kemana dia, kok sepi?" Tanya nya pada diri nya sendiri.
Ia mencoba bangkit dari baringnya. Mencoba melangkah dengan perlahan. Ia menyusuri setiap sudut, mencari keberadaan Ryan. Tapi setelah lama mencari. Ia tak menemukan seseorang pun. Ternyata ia ditinggalkan sendirian. Dalam keadaan terluka, dan tak ada makanan.
"Sepertinya ia tak ada. Aku harus pergi dari sini, secepat mungkin. Mumpung polisi edan itu ga ada. Ini kesempatan baik buatku untuk melarikan diri dari sini. Sebelum ia menjebloskan ku ke dalam penjara. Aku sudah harus pergi. Sebelum ia pulang." Raga itu membatin.
Ia mencari cari peluang untuk melarikan diri. Saat matanya tertuju pada pintu balkon. Ia pun melangkah ke sana. Dengan tertatih ia melangkah, ia berusaha membuka pintu tersebut dengan sisa sisa tenaganya. Akhirnya ia bisa membuka pintu tersebut. Ia berdiri dari atas balkon. Saat menatap ke bawah lumayan agak tinggi.
"Aku harus melompat ke bawah." Ucapnya. Setelah berkata, ia pun langsung melompat. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, yang pasti ia harus pergi dari tempat itu bagaimanapun caranya. Tanpa pikir panjang ia langsung melompat.
Buk... Tubuhnya membentur tanah berumput.
"Untunglah, ada tanah dan rumput." Ucapnya. Ia lalu berdiri dan melangkah meninggalkan tempat itu dengan langkah terseok menahan perih luka dilengannya. Ia melangkah dengan sisa sisa tenaga yang ia miliki.
...🌼******🌼...
__ADS_1
Ivan kembali menghadap Riki, di sana juga sudah ada Ken bersama mereka.
"Bagaimana, informasi apa yang kau dapat?" Tanya Riki dan Ken serempak. Saat melihat kedatangan Ivan.
"Dari informasi yang saya dapat. Sepertinya Ana tidak ada di markas polisi bang. Hanya ada kuda besinya saja di sana." Ucap Ivan menjelaskan informasi yang ia dapat.
"Kalau Ana tidak ada di sana, lalu Ana ada di mana sekarang?" Tanya Riki.
"Kalau masalah itu, saya kurang tahu bang. Tapi akan saya cari informasi kembali tentang dimana keberadaan Ana sekarang." Ucap Ivan.
"Baiklah, kalau begitu, kita cari bersama sama. Semoga saja Ana tidak kenapa kenapa. Dan semoga Ana cepat ditemukan." Ucap Ken.
"Semoga saja begitu." Ucap Riki dan Ivan serempak.
...🌼*********🌼...
Cinta sedang dalam lamunannya. Cinta gelisah memikirkan keadaan sang adik. Yang sampai saat itu juga belum tetlihat batang hidungnya. Biasanya sebelum azan Subuh berkumandang Ana telah pulang. Namun hari ini, disana matahari telah meninggi, Ana belum juga pulang.
Beberapa saat kemudian pintu rumahnya terdengar ada yang mengetuk.
Tok....Tok....Tok....
Tok... Tok.... Tok....
Pintu rumah kembali terdengar diketuk. Suaranya mulai terdengar lebih keras lagi dari sebelumnya. Cinta tersentak dari lamunannya. Ia bergegas melangkah menuju pintu.
Tok..... Tok..... Tok.... Suara ketukan di pintu kembali terdengar di indra pendengaran Cinta.
"Ya tunggu sebentar." Ucapnya sembari mempercepat langkahnya.
Kriet.... Suara pintu terdengar terbuka.
"Siapa ya....?" Belum selesai Cinta berucap. Raga ramping sang adik telah menabraknya. Sedikit terhuyung, saat Cinta menerima beban yang lebih berat dari raga mungilnya. Cinta berusaha mempertahan posisinya agar tidak terjatuh saat menerima raga sang adik secara mendadak. "Ana, kamu kenapa?" Tanyanya dengan raut wajah cemas.
"Kakak..." Belum sempat Ana menyelesaikan ucapannya, raganya telah ambruk dalam pelukkan sang kakak. Setengah sadar, Ana berusaha melangkah dengan dibantu oleh Cinta
Cinta berusaha sekuat tenaga membawa raga sang adik menuju pembaringann. Saat tiba di pembaringan tak kuasa lagi Ana menahan beban kesakitannya. Hilang sudah kesadarannya. Saat Cinta membaringkannya di atas kasur. Tubuhnya tergeletak lemah tanpa daya upaya.
"Apa yang telah terjadi padamu Ana. Kenapa kondisimu bisa jadi seperti ini." Cinta berucap lirih saat melihat keadaan sang adik. Tak terasa setetes kristal bening jatuh dari netra sayunya.
__ADS_1
...🌼*******'🌼...
Sedikit bergegas, Ryan meninggalkan ruangan pertemuan. Saat acara telah selesai Ryan segera menghambur keluar dari ruangan. Entah mengapa ada rasa risau menyelimuti sanubarinya. Saat bayangan sosok yang terbaring lemah, melintas dalam benaknya.
Secepat kilat, Ryan telah berada dalam kendaraannya. Satu tujuan yang pasti, saat ini akan ia tuju, yaitu kembali ke apartemen nya sesegera mungkin. Ryan mulai menstarter kendaraan roda empatnya, melajukan nya meninggalkan area parkir.
Di tengah perjalanan Ryan mampir terlebih dahulu ke sebuah resto cepat saji. Ia membeli bebarapa makanan cepat saji di drive thru dan beberapa air mineral, untuk sosok yang ditinggalkannya di dalam apartemen. Mungkin saja sosok tersebut telah sadar dan kelaparan. Karena tak ada bahan makanan yang bisa sosok tersebut makan, saat Ryan meninggalkannya sendirian dalam apartemennya.
Dari resto makanan cepat saji, Ryan beralih mampir ke sebuah apotek untuk membeli beberapa obat demam, antibiotik, dan obat penghilang nyeri serta beberapa vitamin, yang berfungsi untuk menanbah darah dan mempercepat perbaikan sel sel yang rusak.
Setelah dirasa semua yang ia butuhkan telah ia dapatkan. Ryan segera memacu kembali kendaraannya menuju apartemennya. Ryan berpikir ini semua mungkin karna rasa solidaritas dan perikemanusiaan yang tinggi hingga ia harus melakukan semua ini.
Tiba di area parkir apartemennya. Ryan mematikan mesin kendaraannya. Ryan segera turun dari kendaraannya. Serta membawa semua perlengkapan yang telah ia beli.
Sesegera mungkin ia melangkah menuju apartemen. Langkah nya yang lebar lebar mempercepat ia tiba di depan apartemen. Di depan pintu, Ryan mulai memasukkan pasword apartemennya. Pintu pun terbuka. Ryan melangkah kan kakinya masuk ke dalam.
...🌼********🌼...
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, vote, rating bintang limanya juga ya.
Mohon maaf jika banyak Typo. Author hanyalah insan biasa tempat salah dan lupa.
Terima kasih telah sudi mampir di karya receh author. Apalah arti author ini tanpa dukungan dan support dari kalian para readers semuanya. Lupyu all.💓
Oiya mampir juga ya ke karya temanku.
.
.
.
Bersambung.
.
.
__ADS_1