
Sunyi sepi sendiri. Tiada satupun yang menemaninya saat ini. Setelah kepergian para dayang dayang. Ana duduk di sisi pembaringan. Ia hanya melamun dan merenung menatap langit langit ruangan tersebut.
Ia merasa seolah menjadi seorang pesakitan sekarang. Terkurung seorang diri seolah sudah seperti seorang tahanan yang takut lepas. Dijaga dengan ketat, tanpa ada celah untuknya melarikan diri dari sana.
Sudah beberapa saat lamanya waktu berselang, namun Ana belum melihat lagi sosok tadi yang telah menolongnya. Ada saat ia terjaga. Wajah yang pertama tama ia lihat, saat tadi ia terjaga dari pingsannya atau lebih tepatnya tidur nya yang panjang.
"Sebenarnya siapa dirimu. Kenapa kau menolongku, dan membawaku ke duniamu," monolog Ana dalam hati, saat terlintas raut wajah yang tadi bersamanya saat pertama kali ia membuka matanya.
Ana berdiri dari duduknya. Ia sudah merasa penat, dengan hanya duduk, tidur, dan berbaring. Ana ingin melakukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang biasa ia lakukan. Balapan misalnya, atau hanya jalan jalan berkeliling tempat tersebut. Jiwa kepo dan penasarannya bangkit seketika, saat ia membayangkan berbagai kegiatan yang biasa ia lakukan untuk menguji adrenalinnya, menjadi sosok yang lebih tangguh.
Ana berjalan perlahan. Pertama tama langkahnya membawanya mengitari setiap sudut celah ruangan tersebut. Ia perhatikan dan lihat dengan lebih seksama. Gaya Arsitektur ruangan tersebut bergaya Klasik Modern. ( Di dunia Jin, ternyata segi Arsitektur sebuah bangunan sudah sangat maju, bahkan lebih maju dari dunia nyata manusia. Benerkah begitu thor? .... Krik ... Krik .... Jangan komen ya, ntar imajinasi othor ancur ... wakakakalaka😂 banyak PR nih 😎🤣).
Dan ternyata semua itu, tak ada yang menarik minatnya Ana. Semua terlihat monoton, walaupun pada kenyataannya setiap yang ia lihat terlihat wah bagi orang lain tapi tidak bagi Ana. Ia memandangnya hanya biasa dan sepintas lalu. Tak ada yang menarik hatinya, gaya ruangan yang super wah. Tak berarti apapun baginya. Saat ini kebebasannya yang lebih berarti.
Ana kembali berjalan hingga sampai ke sebuah pintu. Perlahan ia buka pintu tersebut. ( Bukan pintu Doraemon ya thor? .... Iya, bukan. Kalo pintu Doraemon, otomatis Ana bisa minggat😂🤣🤣). Saat pintu terbuka, pemandangan yang menakjubkan telah terpampang di hadapannya.
"It's Amazing ...." bisiknya. Langkahnya membawa raganya untuk berdiri di atas balkon ruangan tersebut. Sembari melihat ke arah pemandangan alam di hadapannya.
Di sana terhampar pemandangan yang indah bagaikan sebuah permadani hijau yang besar nan luas.
"Sungguh, membuat mataku akan selalu sehat. Jika melihat pemandangan hijau setiap hari, seperti ini," gumamnya takjub. Selama ini Ana selalu melihat hiruk pikuknya suasana kota, yang hanya di isi dengan pemandangan gedung gedung bertingkat. Penghijauan dan lahan hijau di daerah perkotaan manusia sangatlah minim. Bahkan mungkin hampir tidak ada. Hampir tidak ada, bukannya tidak ada sama sekali. Namun hanya sedikit ruang yang digunakan untuk lahan hijau. Karena semakin hari dan semakin waktu, daerah hijau tergusurkan dan tergantikan dengan gedung gedung pencakar langit. Ana semakin hanyut akan suasana tersebut. Perlahan matanya terpejam. Ana begitu menikmati keadaan itu.
"Kau suka?" tanya sebuah suara yang tiba tiba hadir bersamanya saat ini. Suara itu begitu dekat. Bahkan sangat dekat. Seolah bibir yang mengucapkan kata tersebut menempel di daun telinganya.
Ana tersentak, saat di rasa dua buah tangan kekar telah melingkar di pinggang rampingnya.
"Hey, apa yang kau lakukan," ingin rasanya kata kata itu terlontar dari bibir mungilnya. Namun lidahnya tak kuasa mengucapkan kata itu. Lidahnya terasa keluh dan seolah terpaku. Kata kata itu hanya mampu terucap di benaknya. Begitupun dengan raganya. Seolah tak ada daya untuk menolak dan menyingkirkan kedua lengan kekar dan kokoh tersebut dari pinggangnya yang ramping. Hembusan nafasnya menerpa dan menyapu leher jenjang Ana.
Sang empunya suara menyeringai, saat membaca isi hati sang pujaan. Ia malah semakin mengeratkan pelukkannya.
"Hem .... Kau suka kan!" Hembusan nafasnya kembali menyapu leher jenjang Ana.
Tak ada jawaban ataupun sahutan dari Ana, namun ia tahu, Telah terjadi pergolakan batin dalam diri sang pujaan hati. Akibat dari perbuatan dan tindakkannya saat ini.
__ADS_1
"Baguskan Pemandangannya!" ucapnya kembali. Dan mendapat respon sebuah anggukan dari raga yang sedang berada dalam pelukkannya saat ini.
"Eh.... Nih kepala kenapa malah menggangguk sih," kembali batin Ana berkata.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" akhirnya Ana bisa mengeluarkan suaranya. Yang terdengar seperti alunan Symponi yang mengalun merdu menusuk sanubari di gendang telinga sang pemeluk raga ramping Ana.
"Sudah dari tadi aku ada di sini, namun kau tak menyadarinya. Kau malah asyik dengan duniamu sendiri. Hingga membuat ku cemburu akan hal itu."
"Benarkah, kenapa aku tak menyadarinya?"
"Sudah ku katakan dari tadi, dirimu hanya asyik dengan duniamu sendiri tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Dan aku cemburu akan hal itu. Aku ingin dirimu itu hanya memikirkan diriku saja bukan yang lainnya."
"Kenapa bisa begitu? Dan lagi aku tak mengenalmu bagaimana mungkin aku bisa hanya memikirkanmu saja. Sedangkan aku tak tahu siapa dirimu?"
Seketika ia membalik raga ramping Ana menghadap dirinya.
"Bukalah matamu, dan Lihat, serta perhatikan baik baik wajahku," ucapnya arogan.
"Lihat dan perhatikan baik baik, hanya wajah ini yang boleh kau ingat!" Perintahnya kepada Ana dengan sorot mata yang tajam.
Ana mencoba menghindar dari tatapan matanya. Namun tangan kokohnya telah menahan pergerakkan leher Ana. Dan saat ini wajah Ana hanya menatap lurus ke wajah dan matanya saja.
"Lihatlah dan ingat baik baik, camkan dalam ingatan dan pikiranmu, juga hatimu."
"Iya .... Iya .... Iya .... Aku ingat, dasar pemaksa." Ana berucap lirih.
"Bagus ... Gadis baik .... My Queen ...." ucapnya sembari tersenyum.
"Dih dia tersenyum, sebegitu senangkah dia saat ini," Ana berucap dalam hatinya.
"Iya aku sangat senang saat ini," ucapnya lirih. Seraya menyatukan kening mereka.
"Kau bisa membaca pikiranku?" tanya Ana spontan.
__ADS_1
"Ya, makanya jangan berfikir jelek dan berkata yang jelek tentang aku, walaupu hanya di dalam hatimu saja, aku bisa mengetahuinya," ucapnya dengan tersenyum.
"Waduh, untung saja tidak. Dan selanjutnya juga tidak, apalagi jika tahu dirimu yang bisa membaca pikiranku," ucap Ana seraya berusaha menjauhkan wajahnya. Ana sudah tak nyaman dengan keadaan tersebut. Bukannya menjauh malah sekarang raganya berada dalam pelukkannya.
"Apa apaan si dia, main peluk peluk sembarangan. Hadew, menang banyak dia," ucap Ana dalam hati.
"Ingat, aku bisa membaca pikiranmu!" Peringatnya.
"Ups, lupa," ucap Ana sembari menutup mulutnya.
Dan hal itu sukses membuatnya semakin terlihat imut.
Cup ....
Sebuah kecupan mendarat dengan sempurna di kening Ana.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya man teman semuanya, berupa like, komen, vote, favorit, dan rating bintang limanya ya.
Bunga dan kopinya juga boleh jika berkenan.
Oiya jangan lupa mampir ke karya temanku ya sesama author, moga kalian suka.
Bersambung.
.
.
.
__ADS_1