
Saat tiba di kamar Tasya yang saat ini ditempati oleh Ana. Chris segera memeriksa keadaan dan kondisi sang pujaan hati. Terlihat di netra elangnya, Ana masih setia dalam tidurnya yang damai. Saat dirasa kondisi Ana baik-baik saja, Chris segera mengambil Wudhu dan menjalankan kewajibannya sebagai Muslim. Ia shalat dengan tertib dan tumakninah.
Di dalam sujudnya selalu memanjatkan doa untuk keselamatan sang buah hati dan istri tercinta. Tak ada yang lebih berharga baginya didunia ini selain Ana, calon buah hatinya, dan keluarganya saat ini.
Setelah selesai menjalankan kewajibannya sebagai Muslim, ia pun segera menyusul sang istri untuk beriatirahat barang sejenak. Jin juga butuh istirahat, untuk memulihkan kembali tenaganya.
Tasya dan Ivan telah sampai di arena balap liar.
Namun raut wajah Tasya tak sedikitpun terlihat cerah. Mendung masih menghias wajah cantiknya. Dan hal ini pun disadari oleh teman-teman nya.
"Lu kenapa An?" tanya Riko salah seorang sahabat balap Ana.
"Ga kenapa-napa," jawab Tasya lugas.
"Keknya penyakit dinginmu kambuh An?"
"Kambuh, maksudnya?" tanya Tasya bingung.
"Kamu tahu An, kami bahagia sekali sejak mengetahui dirimu masih hidup, dan bisa bersama kami lagi. Kamu yang sekarang terlihat lebih ceria, ga dingin kek kulkas. Tapi kenapa malam ini kulkas itu kembali menyelimuti jiwamu! Kau terlihat dingin sedingin salju! Apa ada masalah?'
"Tidak ada, biasa saja kok," ucap Tasya sembari mencoba tersenyum. Namun hasilnya terlihat jelek dimata teman-temannya.
"Ga usah senyum An, jika makin membuat wajahmu semakin menyeramkan!" ucap teman-temannya.
"Haissh, kalian ini. Gw diem dibilang dingin, gw senyum dibilang menyeramkan. Jadi mau kalian apa hah?"
__ADS_1
"Kita balapan?" jawab mereka serempak.
"Okay, siapa takut!" Tasya segera mengendarai kuda besinya yang terparkir tak jauh dari tempatnya duduk.
"Mungkin dengan begini akan membuat moodmu kembali baik An," ucap Ivan dalam hati.
Tasya dan teman-temannya telah berada dilintasan bersiap untuk memulai duel mereka.
Saat aba-aba mulai telah selesai diucapkan, mereka segera meluncur di jalanan sepi nan licin.
Terlihat tak ada satu pengendara kendaraan yang melintas saat itu. Hanya gerombolan mereka yang ada di sana.
Tasya segera melajukan kuda besinya, disusul oleh teman-teman nya. Mereka berusaha saling mengejar. Salip menyalippun tak terhindarkan.
Tasya semakin menambah kecepatan laju kendaraannya. Ia berhasil melewati teman-teman nya.
Duarrrr..... Kuda besi yang dikendarai Tasya membentur pembatas jalan, hasilnya tabrakan beruntun tak dapat dihindarkan. Tasya terlempar dari kuda besinya. Raga rampingnya melayang diudara, lalu jatuh terguling-guling di Aspal jalan yang licin dan dingin.
Dari kejauhan sepasang netra elang memperhatikan kejadian itu dengan degup jantung bertalu-talu, seperti genderang mau perang. "Apa yang kulihat saat ini? Apakah kejadian yang terjadi pada Ana tempo hari terulang kembali? Ya Allah, semoga saja bukan dia? Aku tak ingin kehilangan dia lagi!" Ia membatin dalam hatinya, antara cemas dan khawatir.
"Lapor komandan, ada kendaraan yang mencoba menerobos barikade patroli kita malam ini!" Lapor sang ajudan pada sang komandan. Yang keberadaan mereka tak jauh dari kejadian tersebut.
"Lalu?" tanya sang komandan.
"Siap Komandan, kendaraan tersebut malah menabrak pembatas jalan komandan, dan sekarang sedang diurus oleh teman-teman yang lain!" jawab sang ajudan.
"Kita ke sana sekarang!"
__ADS_1
"Siap komandan! "
Langkah kaki sang komandan membawa raganya mendekati raga yang saat itu sedang terbaring dijalanan dingin dan licin.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia pingsan komandan!"
"Sudah kalian hubungi pihak rumah sakit?" tanyanya pada para bawahannya.
"Siap komandan. Sudah komandan!"
"Bagus!" ia berkata sembari mendekat dan memeriksa keadaan raga tersebut.
Ia sangat terkejut kala melihat raut wajah siapa yang ada dihadapannya sekarang. Sungguh pertemuan tak terduga. Yang mempertemukannya kembali pada raut wajah itu.
"An, kenapa kita selalu bertemu disaat kondisimu seperti ini! Aku fikir kau telah berhenti ikut balap liar lagi, kala kejadian itu terjadi. Tapi sekarang apa yang kulihat. Kau kembali terbaring disini!" monolog nya dalam hati.
"Di mana Ambulance nya? kenapa belum datang juga?" tanyanya dengan panik sembari memeluk raga ramping tersebut.
"Sebentar lagi sampai Ndan, mereka sedang dalam perjalanan kemari!" jawab sang ajudan.
Beberapa pasang mata para bawahannya memandang dengan heran atas kelakuan sang komandan, tapi tak ada satupun yang berani berkomentar. Mereka hanya terlihat bingung dan heran tanpa berani berucap sepatah kata pun.
Bersambung
__ADS_1