
"Lu ga ikut luncuran di atas sirkuit?" tanya Ana.
"Bentar lagi gua turun," jawab Alex.
"Ga mo persiapan dulu, sebelum luncuran?" tanya Ana kembali.
"Kayaknya, lu mo ngusir gua ya?" tanya Alex balik.
"Kagak, bukan begitu. Maksud gua, lu kagak mo periksa kesiapan kendaraan lu, gitu?"
"Ya... Ya.... Ya.... Gua turun sekarang." Alex segera berdiri dari tempatnya duduk, lalu mulai beranjak pergi menuju arena sirkuit.
"Gua benci dengan situasi ini. Gua benci liat cewek j*l*ng itu dekat dengan Alex. Awas ya, lu akan tahu pembalasan dari gua. Gara gara lu Alex jadi menjauhi gua. Tunggu pembalasan gua." Tatapan mata seseorang begitu tajam penuh aura kebencian menatap ke arah Alex dan Ana.
Setelah kepergian Alex, Ana pun beranjak dari tempat duduknya.
"Mo ke mana An?" tanya Ivan yang saat itu berada tak jauh dari Ana.
"Mo ke toilet, lu mo ikut?" tanya Ana balik.
"Kagak, gua barusan balik dari toilet, masak mo ke toilet lagi."
"Syukur dah, kalo ga mo ikut." Ana langsung melenggang dari hadapan Ivan, langkah nya ia ayunkan menuju toilet perempuan.
Bruuk .... Ana menabrak raga tegap seseorang.
"Maaf," ucap Ana. Namun Ana terkejut saat tahu raga siapa yang ia tabrak. "Kamu, lagi lagi kamu! ngapain kamu di sini?" tanya Ana berusaha menahan tubuhnya yang tak seimbang akibat menabrak raga tegap tersebut.
"Kenapa memangnya, kalo aku ada di sini? dan kamu juga, ngapain di sini?"
"Apa perdulimu, minggir! jangan menghalangi jalanku. Aku mo lewat."
"Siapa juga yang menghalangimu. Kalo mo lewat ya lewat saja."
"Bagaimana aku mo lewat jika kau berdiri di situ."
"Emang kenapa kalo aku berdiri di sini."
"Haish.... Minggir, gua udah ga tahan nih." Ana berkata sembari tangannya berusaha mendorong raga tersebut ke samping. Hingga ada cela buat ia meloloskan diri. Ana segera berlari menuju toilet.
"Ada ada saja gadis itu." Monolog nya dalam hati.
...////******////...
Ana menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. "Uh, nyamannya kalo tidur di kamar sendiri." Ana baru saja pulang dari Mandalika setelah beberapa hari berada di sana.
Aku titipkan dia, lanjutkan perjuanganku untuk nya, bahagiakan dia, kau sayangi dia, sepertiku menyayanginya....
__ADS_1
Nada panggilan di ponselnya berbunyi. Dengan malas Ana mendekati ponselnya yang terletak di atas nakas.
"Iya, halo. Ada apa Van lu nelpon gua malam malam kek gini?" tanya nya saat melihat siapa yang menelpon.
"Lu, kagak keluar. Biasanya lu udah stand by di tempat," jawab Ivan di seberang panggilan telpon masuk.
"Males gua. Gua lagi mo menikmati kasur gua yang udah ditinggalin beberapa hari ini."
"Ayolah An, di sini sepi tanpa kehadiran lu." Ivan mencoba membujuk Ana.
"Okelah, gua luncuran sekarang." Ana segera menutup panggilan telponnya secara sepihak.
"Ampun dah, tu anak tanpa basa basi langsung main tutup saja. Siapa juga yang nelpon duluan. Dan siapa juga yang duluan nutup telpon. Untung cantik." Di seberang panggilan telpon Ivan mengumpat sendiri akan kelakuan Ana.
Tak berapa lama Ana telah sampai di tempat biasa mereka mangkal.
"Hai An. Apa kabar, denger kabar lu baru pulang dari Mandalika. Bawa oleh oleh apa nih buat kita kita," ujar boy salah satu anggota gang mereka.
"Gua kagak bawa apa-apa, hanya bawa nyawa gua pulang," jawab Ana.
"Ya iyalah bawa nyawa, masa juga nyawa lu, lu tinggal di sana. Kalo lu tinggal nyawa lu. artinya lu itu koid," ucap Andre menimpali.
"Ha .... Ha .... Ha .... Iya juga ya." Ana dan teman temannya yang laim tertawa bersama mendengar perkataan Andre.
"Hei teman teman, gua minta maaf ya kalo gua pernah ada salah ama lu - lu semua," ucap Ana kepada teman temannya.
"Eh An, lu mo pergi ke mana. Pake minta maaf segala ama kita kita. Mo koid beneran ya?" tanya Boy pada Ana.
"Udah ah, bahas masalah koid. Gua jadi merinding disko nih. Mending kita nikmati saja hidup ini, jangan mikir yang macem macem. Kuy langsung luncuran yok ah,' ucap Andre menimpali ucapan para sahabatnya.
"Eh teman teman tunggu dulu," ucapan Ana menghentikan langkah para sahabatnya untuk beranjak dari sana. "Kalian, tahu Ivan ga, di mana dia? gua udah ada di sini, ternyata dia kagak ada?"
"Tadi sih ada. Entah sekarang ke mana tuh orang," jawab Andre.
"Baiklah, mari kita langsung cabut saja yok," ucap Ana akhirnya.
"Kuy la ...." Mereka pun beranjak dari sana menaiki kuda besinya masing masing, menstarternya lalu melaju di jalanan menembus hitam pekatnya malam. Tujuan mereka adalah arena balap.
...////*******////...
Di Mabes Polri seseorang sedang duduk melepas lelahnya setelah beberapa hari mengawal Bapak Presiden pada acara pembukaan perhelatan MotoGP di Mandalika.
"Asiap komandan, bagaimana planning kita malam ini. Apakah masih melanjutkan schedule yang telah lalu?" tanya sang ajudan kepada sang komandan.
"Yap, malam ini operasi patroli seperti biasanya," jawab sang komandan.
"Siap komandan. Siap laksanakan."
__ADS_1
"Laksanakan!"
"Laksanakan."
...////*********////...
"Hei Van, Lu udah ada di sini ya?" tanya Ana saat telah berada di Arena balap. Ia tinggalkan kuda besinya dengan sembarangan. Lalu bergegas mendekati Ivan yang saat itu tertangkap sosoknya oleh netra matanya.
""Eh, iya An. Maaf gua ga bilang kalo gua langsung luncuran ke mari," jawab Ivan.
"Haish, lu ada ada saja. Gua kira lu tadi ngumpul bareng ama teman teman kita di tempat biasa kita mangkal,"
"Maaf An, gua tadi juga sempat di sana. Rencananya tadi abis nelpon lu, gua mo jemput lu. Tapi lu main matiin saja tuh ponsel. Jadi gua ga sempat bilang ama lu, kalo gua mo jemput lu,, pas gua udah nyampe di rumah lu. Eh ternyata lu udah pergi. Jadi gua langsung cabut ke mari," ucap Ivan panjang lebar.
"Haish, gua kan udah bilang kalo gua langsung OTW. Lu nya aja yang Telmi alias telat mikir," ucap Ana sembari tertawa simpul.
"Hei An, selamat malam." Sapaan seseorang berhasil mengalihkan perhatian Ana padanya.
"Hei Lex, ngapain lu di sini. Katanya lu mo ke Qatar?"
"Besok gua berangkat," jawab Alex singkat.
"Oh, jadi nih malem balap perpisahan toh?" tanya Ivan dan itu berhasil membuat semburat merah di wajah Alex. Tapi untungnya saat itu suasana malam jadi tak ada yang dapat melihat perubahan rona muka Alex. Sedangkan Ana hanya membalas dengan dehemannya saja. Dan sorot mata yang tajam terhadap Ivan.
"Eh An, matanya biasa aja kali. Jangan kek gitu, udah kek tatapan Ratu Penguasa Malam," ucap Ivan sambil nyengir kuda.
"Kan emang gitu," jawab Ana jutek.
Saat mereka sedang asik mengobrol sebelum balap dimulai. Seseorang dengan diam diam mendekati kuda besi milik Ana.
"Lihatlah apa yang akan terjadi padamu mslam ini gadis j*l*ng. Gua udah muak liat muka lu, yang sok manis, sok baik kepada Alex. Sampai ketemu di akhirat."
Seseorang memandang penuh kebencian dan angkara murka kepada Ana, akibat iri hati, hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sang pujaan hati. Ia rela menyingkirkan seseorang dengan cara tak sehat. Ia tak berfikir dampak apa di kemudian hari akan ia dapatkan hasil dari perbuataannya hari ini. Syetan telah berhasil menghasut dan mengadu domba pikirannya. Hingga pikirannya tak lagi dapat berfikir dengan jernih dan sehat. Satu tujuan yang pasti ia harus melenyapkan Ana karena ia fikir dengan begitu ia akan mendapatkan Alexnya kembali.
...////*******////...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, komen, vote, rating bintang limanya. Yang BUANYAK yach... Lupyu allππ
Kopi dan bunganya juga boleh ya... ya... ya...πππ
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
.
.