Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Dia


__ADS_3

Ryan memasuki kamar sang bunda. Saat telah berada di dalam Ryan segera memindai keadaan di dalam sana. Terlihat sosok sang bunda sedang terbaring lemah di atas pembaringan. Langkahnya yang tegap membawa raganya mendekati raga bunda. Ryan mencium kening bundanya orang yang telah melahirkannya kedunia, malaikat hidupnya. Sejenak setelah ia dalam posisi duduk di samping bunda.


Dielusnya setiap lekuk wajah sayu tersebut. Yang mata nya masih terpejam. Bunda perlahan membuka kelopak matanya, saat merasakan ada yang mencium dan mengelus lembut wajahnya. Saat netranya mulai terbuka wajah sang putralah yang pertama tama ia lihat.


"Kamu sudah pulang Yan?" Tanya sang bunda dengan wajah sayu dan mata yang masih sedikit bengkak.


"Iya bun. Bunda kenapa?"


"Bunda tidak kenapa - kenapa. Bunda mungkin hanya kelelahan. Bentar lagi juga akan pulih kembali." Ucap bunda menenangkan Ryan. Ia mencoba bangun dari baringnya.


"Bunda mo ke mana?" Tanyanya kepada malaikat hidupnya, sembari membantu sang bunda duduk.


"Bunda mo ke belakang, mo nyiapin kamu makan. Dari pagi kamu belum makan Yan." Ucap bunda berusaha turun dari pembaringan.


"Bunda tidak usah ke mana - mana. Bunda istirahatlah. Ryan gak ingin lihat bunda sakit. Saat ini hanya bunda yang Ryan punya. Ryan mohon bunda istirahatlah. Ryan sudah besar. Ryan bisa mengurus diri Ryan sendiri. Kalo laper nanti Ryan bisa ambil sendiri. Sekarang bunda baring lagi ya.." Bujuk Ryan kepada sang bunda.


"Sombongnya anak bunda sekarang, mentang mentang sudah besar. Ga butuh bantuan bunda lagi. Bunda sedih lho." Ucapnya sembari membuang wajahnya ke samping pembaringan. Tak sadar netra bunda menangkap sosok tak jauh darinya dalam posisi tertidur. Kepalanya ia letakkan diatas kedua tangannya yang berada di pinggiran ranjang bunda. "Atau jangan jangan sekarang sudah ada yang bisa mengurus dirimu, hingga kau tak butuh bunda lagi." Ucap bunda masih menatap sosok yang tertidur pulas di pinggiran ranjangnya.


"Bukan begitu bunda." Elak Ryan. "Ryan hanya tak ingin bunda capek karna mengurus Ryan. Ryan hanya ingin bunda segera istirahat kembali. Agar kesehatan bunda segera pulih."


"Bukan karna hal lain kan?"


"Maksud bunda?" Ryan balik bertanya. Ia bingung apa sebenarnya maksud dari pertanyaan bunda nya barusan. Ia bingung harus menjawab apa.


"Apa karna dia." Tunjuk bunda pada sosok tersebut.


"Dia... Dia siapa bun?" Tanya Ryan sembari netranya mengikuti arah tunjuk jari sang bunda.


Sedari tadi Ryan tak menyadari jika ada sosok lain di dalam kamar sang bunda selain mereka berdua.


"Tolong kamu bantu pindahkan ia tidur disini!" Perintah bunda.


"Dia siapa bun?" Tanya Ryan kembali, namun tak ada jawaban dari bunda.


"Ayo Yan buruan pindahkan kemari. Kasihan melihatnya tidur dalam posisi tersebut. Nanti leher dan tubuhnya sakit." Ucap bunda tanpa menjawab pertanyaan putranya, sembari menepuk sisi pembaringannya.


"Baik bun." Ryan bergerak melangkah mendekati sosok tersebut. Yang sedang tertidur pulas. Saat Ryan membawa raga tersebut. Baru Ryan sadar siapa yang sedang ia bawa sekarang. Ryan membaringkan raga tersebut di samping bundanya.


"Kamu kenal kan sama dia?" Tanya bunda kala melihat putranya menatap raga tersebut dengan intens.


"Eh... " Ryan bingung mo meniawab apa, ucapannya menggantung di udara.

__ADS_1


"Yan, kamu kenal kan dengan nya. Dia kan datang bersamamu. Masak kamu ga kenal. Sembarang bawa anak orang. Lalu pura pura lupa, pura pura tidak kenal." Ucap bunda menyelidik ekspresi sang putra.


"Iya sih.. Dia kemari bersama Ryan bun." Jawab Ryan akhirnya pasrah mengakui.


"Tuhkan bener. Dia pacar mu ya?"


"Bukan bun. Ryan ga sengaja ketemu dia. Dia bukan siapa siapanya Ryan."


"Trus kenapa bisa ada di sini, kalau bukan siapa siapamu?"


"Ryan juga ga tahu bun. Waktu bunda ngabari ayah masuk IGD, Ryan langsung pulang. Dan tidak sengaja membawa dia."


"Pake ga sengaja bawa anak orang. Bagaimana kalau keluarganya mencari. Pasti keluarganya khawatir. Kamu ini sembarangan bawa anak orang."


"Ryan bener bener ga sengaja bun. Ryan kan sudah suruh dia pulang. Dia juga sudah biasa kabur dari Ryan."


"Kabur darimu?" Beo bunda.


"Ehm... Maksudnya dia bisa pulang sendiri bun."


"Lho, kok pulang sendiri?" Tanya bunda heran.


"Iya, Ryan sudah suruh dia pulang. Tapi ga tahu kok masih disini."


"Aduh bun, sakit." Ucapnya sembari mengelus kepalanya.


"Kau harus tanggung jawab."


"Memangnya apa yang sudah Ryan lakukan bun. Kenapa Ryan mesti tanggungjawab." Ucap Ryan prustasi.


"Memang apa yang sudah kalian lakukan ha.." Tiba tiba bunda menjadi berang mendengar jawaban sang putra. Bunda sudah berfikir yang tidak tidak.


"Kami tidak melakukan apapun bun. Demi Allah, .."


"Alhamdulillah jika kalian tidak melakukan apapun yang melanggar norma hukum dan agama. Kalau sampai itu terjadi, saat ini juga kalian bunda nikahkan. Biarlah tanah kuburan ayahmu yang masih basah itu saksinya."


"Astaghfirullah bunda. Anakmu ini masih bisa menjaga diri. Apalagi menjaga anak orang bun."


"Trus, kenapa dia disini."


"Bunda, kan dari tadi sudah Ryan jelaskan. Ryan ga sengaja membawa dia kemari."

__ADS_1


"Kalau begitu kau bertanggung jawab membawanya kembali. Masak petugas keamanan tidak bertanggung jawab. Kau yang sudah membawanya kemari. Maka kau juga yang harus mengembalikannya nanti."


"Baik bun, tapi tidak sekarang. Mungkin setelah tiga hari atau tujuh hari ayah." Jawab Ryan.


"Pulangkan secepatnya!!!" Perintah bunda.


"Bun, baju siapa yang ia pakai?" Tanya Ryan mengalihkan fokus sang bunda.


"Baju bunda, bagus ya. Tapi agak cantung sih. Tapi tidak terlalu kelihatan kan." Ucap bunda mengagumi hasil karyanya.


"Lucu bun. Lihatnya pake daster kek begitu. Biasanya dia ga pake pakaian yang seperti itu."


"Yang seperti apa biasanya ia pakai?" Tanya bunda kembali menyelidik.


"Biasanya dia pake... " Ryan tersadar akan pertanyaan jebakan sang bunda. "Ehm...Bagus bun, biasanya juga dia pake daster...He..He.. " Ryan tertawa canggung. " Bun, Ryan keluar bentar. Kayaknya nih perut sudah minta diisi." Ucapnya menghindari tatapan menyelidik sang bunda.


"Kamu mo menghindar ya."


"Tidak bun, mana berani Ryan menghindar, ntar kualat. Ryan beneran laper bun." Ucap Ryan dengan wajah memelas.


"Baiklah. Bunda bantu siapkan ya."


"Tidak usah bun. Bunda disini saja istirahat. Ryan bisa sendiri kok." Ucap Ryan sembari membantu ibu nya berbaring kembali.


Ryan segera keluar dari kamar sang bunda secepat mungkin. Setelah mendapat izin dari beliau. Jika tidak segera keluar dari kamar tersebut. Sang bunda pasti bertanya yang aneh aneh lagi padanya. Daripada salah menjawab, lebih baik menghindar. Karna insting seorang ibu itu sangat lah kuat. Apalagi menyangkut putranya.


Bunda menatap punggung sang putra yang berlalu pergi dari hadapannya. Bunda sadar Ryan menghindari menjawab pertanyaannya. Dan hal itu semakin membuat bunda yakin akan suatu hal. Dan hal itu hanya bunda dan Tuhanlah yang tahu. (Author ga ikut ikut ya.😂)


...///******///...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, komen dan votenya yang banyak ya... Lupyu😍😘


Bunga dan kopinya juga boleh ya guys...😍😍😍


Oh ya mampir juga ke karya temanku ya. Moga kalian suka.



Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2