
"Main peluk dan cium sembarangan. Emangnya aku ini cewek apaan," ucap Ana dalam hati. Sembari mencoba melepaskan dirinya dari pelukan yang membelenggu raganya.
"Jangan takut, aku akan bertanggung jawab!"
"Bertanggung jawab .... Maksudmu?" tanya Ana cengo.
"Kita menikah malam ini! Sebagai bentuk rasa dari tanggung jawabku," ucapnya lugas.
"What .... Menikah, malam ini?" tanya Ana terkaget.
"Iya, kita menikah malam ini. Aku takkan melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikku!" Tegasnya.
"Tidak ... Tidak .... Oh, tidak ...."
"Kenapa?"
"Mendadak sekali, aku belum mengenalmu lebih jauh, dirimu pun begitu, kau tak tahu siapa aku. Dan aku sungguh sungguh terkejut akan hal ini. Masa baru ketemu sudah mau menikah saja. Apa kata dunia." ucap Ana surprise.
"Tidak mendadak, dan jangan pikirkan apa kata dunia. Kau tahu, bahkan aku telah menunggu peristiwa ini dari semenjak lima belas tahun yang silam. Aku telah mengenalmu sejak saat itu."
"Lima belas tahun yang silam." Beo Ana.
"Iya, lima belas tahun yang silam. Itu pertemuan kita yang pertama."
"Benarkah, kenapa aku tidak ingat ya.'
"Waktu itu kita masih sama sama kecil."
"Tunggu ...." Ana mencoba mengingat peristiwa apa saja yang terjadi lima belas tahun yang silam dalam hidupnya.
"Sepertinya tidak ada kejadian yang aneh lima belas tahun yang silam. Dalam memori otak ku ini tak menyimpan memori tentang perjumpaan diriku dengan dirimu. Kalau lima belas tahun yang lalu, pastinya dirimu masih anak anak kan, sama dengan diriku. Dan sepertinya saat itu aku tak pernah berjumpa dengan seorang anak kecil laki laki, selain teman teman ku sekarang yang ada di dunia manusia sana," terang Ana panjang lebar.
"Diriku berjumpa denganmu di pinggir sungai," ia memberi clue kepada Ana, untuk mengingat kembali kejadian yang terjadi lima belas tahun yang lalu.
"Di pinggir sungai .... Lima belas tahun yang lalu ...." Ana mencoba mengingat kejadian yang terjadi lima belas tahun yang lalu dari clue yang ia dengar. "Oiya, dipinggir sungai seingatku, saat itu aku sedang menolong seekor anak ular yang tersesat di antara sampah sampah yang hanyut di sungai. Saat itu aku mencoba membantunya, agar ia lebih bebas berenang mencapai tujuannya dengan selamat," ucap Ana setelah cukup lama terdiam dalam menggali ingatannya yang lalu.
"Iya... Betul sekali ..."
"Trus apa hubungannya dengan dirimu?" tanya Ana spontan.
__ADS_1
"Anak ular itu, adalah diriku. Saat itu diriku menjelma menjadi seekor anak ular untuk menjelajah dengan bebas di dunia manusia."
"Jadi anak ular itu jelmaan dirimu?" tanya Ana kembali.
"Iya, anak ular itu adalah diriku. Terima kasih telah menolong dan membantuku saat itu. Dan semenjak kejadian itu aku bersumpah akan selalu menjaga dan melindungimu dari mara bahaya. Dan semenjak itu pula ku putuskan bahwa dirimu lah yang kelak akan menjadi Ratuku. Kau milikku." Tegasnya dengan kembali memeluk raga ramping Ana dengan erat.
"Lepaskan, enggap tahu. Ga bisa napas nih. Mau aku hilang napas beneran ya?"
"Ha .... Ha .... Ha .... Kamu lucu Ratuku. Baiklah sekarang aku lepaskan. Tapi nanti nanti nya takkan pernah ku lepaskan lagi." Ia berucap sembari melepaskan pelukannya.
"Nah gitu dong, akhirnya aku bisa bernapas lega. Dan kau bilang aku Ratumu, kapan pelantikan dan ikrarnya. Tahu tahu sudah bergelar Ratu," ucap Ana.
"Ikrarnya sejak lima belas tahun yang lalu, saat kau memutuskan menolong ku. Saat itulah ikrar ku itu terucap. Pelantikkannya nanti setelah kita menikah."
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Kau harus mau. Karena tak ada pilihan lain lagi buat mu. Hanya itu pilihan satu satunya buatmu. Tak ada pilihan lainnya," ucapnya tegas.
"Menyesal aku menolongmu saat itu. Jika kejadiannya seperti ini."
"Tak ada kata penyesalan. Semua telah terjadi. Dan itu adalah takdirmu."
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya pada Ana.
Ana melihat keselilingnya. Ternyata ia berdiri di sebuah kastil, di atas menara tertinggi.
"Jika aku lompat dari sini. Mungkin takdirku akan berubah."
"Maksudmu dengan melompat dari menara ini, aku akan membatalkan pernikahan ini? Tentu tidak sayangku. Pernikahan itu akan tetap terlaksana. Dirimu mo melompat atau tidak, pernikahan itu akan tetap terjadi sesuai dengan apa yang telah ku rencanakan."
"Benarkah begitu?" tanya Ana yang telah mengambil ancang ancang akan segera melompat.
"Ya silahkan kalau ingin mencobanya, aku takkan melarangmu!"
"Baiklah ...." Seketika raga ramping Ana telah melompat dari atas balkon menara, meluncur dan menukik ke bawah dengan cepat.
Namun tanpa di sangka Ana, tubuhnya telah ada yang menangkapnya. Saat dirinya melayang di udara di atas ketinggian tiga ribu meter di atas permukaan laut.
"Kenapa kau, tak membiarkan diriku jatuh ke dasar bumi?" Dan hancur berkeping keping?"
__ADS_1
"Jangan ngigau, aku takkan membiarkan itu terjadi!" Tegasnya.
"Tapi kenapa kau biarkan aku melompat?"
"Aku tak ingin menghalangi niatmu. Tapi aku juga tak berjanji, jika akan menangkapmu kembali," jawabnya sambil tersenyum menyeringai.
"Jangan tertawa, jelek tahu!"
"Benarkah aku jelek?" tanyanya.
"Iya jelek. Sedikit," ucap Ana untuk menutupi rasa gugupnya yang tiba tiba datang saat itu. Di saat tak sengaja tatapan mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. "Kau bisa terbang?" tanya Ana kembali saat dirasa raga mereka terbang di udara.
"Kau jangan lupa, jika calon suamimu ini adalah Raja Jin. Jadi aku bisa terbang dan menghilang dalam waktu yang bersamaan."
"Benar sekali, kenapa pula aku melupakan fakta itu, bahwa dirimu adalah seorang Raja Jin," Ucap Ana saat sepasang kaki jenjangnya telah menapak kembali di lantai balkon menara kastil.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Berupa like, komen, vote, dan rating bintang limanya ya.
Makasih buat para readers yang masih setia dengan karya recehku ini. Lupyu All❤❤❤.
Oiya, mampir juga ya ke karya temanku. Moga kalian su
Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya dan ternyata pria yang akan di jodohkan dengan dia, tak lain adalah Dosen nya sendiri yang sikapnya teramat dingin. Namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan tentang rahasia jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apa sang Dosen akan menerima jika dia mengetahui tentang jati diri gadis itu yang sebenarnya?
Bersambung.
.
.
__ADS_1