
"Kak, adik adik di mana ?" Tanya Ana, saat melihat sang kakak telah berlalu dari hadapannya.
"Mereka sudah tidur dari tadi. Tidak seperti kakaknya yang kelayapan, ga pulang pulang. Tahu tahu baru sekarang pulangnya." Jawab Cinta dengan tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan Ana.
Selain dirinya dan kak Cinta, dirumah mungil itu juga ada dua penghuni lainya. Yang merupakan adik asuh Ana dan Cinta. Satu berusia 4 tahun, satu nya lagi berusia 7 tahun. Yang usia empat tahun berjenis kelamin laki laki dan mereka memberinya nama Bayu Saputra. Sedangkan yang berusia tujuh tahun berjenis kelamin perempuan. Mereka memberinya nama Mutiara. Karna matanya yang jernih seperti mutiara. Kulitnya putih seputih susu. Bayu di temukan di pinggir sungai. Mutiara ditemukan di dalam bak sampah, saat Cinta dan Ana sedang membuang sampah.
Kedua adik asuh nya itu membawa keberuntungan buat Ana. Semenjak mereka hadir bersama Ana dan Cinta, kehidupan mereka bertambah baik. Ana selalu menang saat mengikuti balap liar. Hingga saat ini kehidupan mereka semakin baik. Ana tak membiarkan dan mengizinkan kak Cinta nya bekerja di luar. Cukup berada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah saja dan mengasuh adik adik mereka. Tugas Ana adalah mencari nafkah buat dirinya, kak Cinta, dan kedua adik mereka.
Karna mereka telah memiliki tempat tinggal tetap, tidak berpindah pindah lagi. Maka Cinta dan kak Ana segera mengurus Kartu Keluarga (KK) pada pemerintah setempat. Setelah KK selesai, mereka juga mengurus kartu tanda penduduk (KTP). Setelah itu rencananya Ana dan Cinta akan memasukkan Bayu ke taman kanak kanak, dan Mutiara ke sekolah dasar. Ana dan Cinta ingin agar adik adik asuh mereka mendapat pendidikan yang layak. Hingga hidup Bayu dan Mutiara nantinya di masa depan akan lebih cerah di banding hidup mereka. Yang tak pernah dapat merasakan nikmatnya belajar pada pendidikan formal.
Walaupun Ana tak pernah mengecap bangku pendidikan formal. Namun otaknya terbilang sedikit genius. Ia mampu menguasai tiga bahasa hasil belajar nya secara otodidak. Begitupun dengan pelajaran lainnya yang ada di bangku sekolah formal, dapat ia kuasai dengan baik. Terbukti saat ia mengikuti Ujian paket A, paket B, dan paket C, Ana dapat menyelesaikannya dengan nilai sempurna. Latar belakangnya yang hanya seorang anak jalanan tidak menutup kemungkinan untuk Ana memiliki otak yang cemerlang oleh karena itu Ana dapat menyelesaikan paketnya dengan hasil yang sangat baik.
...*****...
Sang fajar telah menyingsing. Sahut sahutan suara ayam jantan berkokok menandakan akan segera berakhirnya sang malam. Dan akan segera digantikan oleh sang mentari yang mulai mengambil celah, untuk bersiap siap muncul ke permukaan upuk timur.
Kemilau jingga mulai menyusup melalui celah celah. Merambat lurus mengikuti hembusan udara. Pancaran radiasi berwarna jingga dari sang mentari mulai memenuhi ruangan. Perlahan lahan, ruangan pun menjadi lebih terang dari sebelumnya. Menghapus hitam pekat nya malam.
Waktu nya para insan untuk memulai segala aktifitasnya. Dan menanggalkan dinginnya selimut malam.
Seorang gadis masih setia bergelut dengan selimutnya. Berbeda dengan kebanyakan orang yang bila pagi menjelang telah bersiap beraktifitas. Sang gadis malah semakin menarik selimutnya. Terlalu capek dengan rutinitas malamnya. Saat ini Ia sudah seperti seorang vampir yang tidur di siang hari. Berkeliaran di malam hari.
Dret... Dret... Dret...
Tanda panggilan masuk pada gawai tipisnya. Tak mengganggu aktifitas bobok cantiknya (bocan). Malah ia semakin tenggelam dalam damai mimpi nya.
Dret... Dret... Dret....
__ADS_1
Kembali dawai nya bergetar, tak ada respon dari sang pemilik. Meskipun berkali - kali dawai tipisnya bergetar, dan puluhan notip masuk di beranda chatnya. Tetapi tetap tak mendapat respon dari sang empunya.
...*****...
Sang mentari perlahan mulai kembali keperaduannya di ufuk barat. Perlahan tapi pasti cahaya merah ke emasaannya dengan perlahan mulai menghilang di ujung kaki langit. Tanpa meninggalkan jejak. Sang malam pun mulai merambat naik menutupi lapisan bumi dengan sayapnya yang berwarna hitam pekat. Rembulan mulai merangkak naik menggantikan posisi sang mentari. Cahayanya lembut berpijar mencoba menerangi bumi namun masih tak mampu melawan hitam pekatnya sang malam.
Ia menggeliat saat di rasa raga nya mulai penat, karena terlalu lama berbaring di atas tempat tidur. Netra nya perlahan lahan mulai membuka. Pupil dan irish netra nya perlahan mulai berakomodasi dengan sempurna terhadap cahaya yang menerobos masuk ke dalam retina nya.
Netra bening tersebut mengerjap ngerjap. Perlahan ia duduk dari baringnya menetral kan peredaran darahnya. Sangat berbahaya bila dari posisi tidur telentang, atau tidur miring, maupun tengkurap😁 lalu terbangun, dan langsung berdiri, akan mengakibatkan pingsan mendadak. Juga dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah akibat intensitas tekanan darah yang tinggi datang mendadak ke area otak besar. Sebaiknya saat bangun tidur, dianjurkan mengambil posisi duduk terlebih dahulu selama lima menit. Untuk menetralkan peredaran darah dari Jantung ke otak. Lalu minum lah segelas air putih saat terbangun dari tidur, karena akan memperlancar prosea metabolisme di dalam darah dan tubuh kita sehingga dapat lebih sehat, fit, dan bugar. Jika dirasa peredaran darah sudah normal. Barulah mengambil posisi berdiri.
( Setelah berdiri selanjutnya terserah Anda mo ke mana, mo lanjut bobok lagi, atau mo lanjut melangkah ke kamar mandi buat setoran😍😁 )
Sang pemilik raga melangkah kan kaki jenjangnya menuju kamar mandi buat setoran, bersih bersih, dan mandi. Setelah mandi ia mulai bersiap siap untuk melakukan rutinitas nya setiap malam. Pakaian kebesaran sudah melekat dengan sempurna pada raganya. Rambutnya terurai. Ia berputar di depan kaca, memastikan penampilannya malam ini sudah sempurna. Ia tersenyum, saat di rasa penampilannya sesuai dengan keinginan hatinya.
Setelah selesai ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Tak lupa ia menyambar kunci kuda besinya yang ada di atas nakas.
"Eh, kak Cinta. Ini kak, Ana mo keluar bentar."
"Kakak kan bilang, kamu ga usah lagi kelayapan dan berkeliaran malam malam. Lebih baik cari pekerjaan pada siang hari saja. Mana janjimu. Kamukan janji sama kakak, kalau kamu mau berhenti dari kegiatan malam mu itu!" Ujar sang kakak sembari menagih janji sang adik.
"Maaf kak, Ana mohon, kali ini saja. Izinkan Ana pergi keluar. Ana janji ini yang terakhir." Ucapnya menghibah kepada sang kakak. Tak ada jawaban dari sang kakak. Ia masih setia dalam heningnya sembari menatap wajah adiknya dengan sorot mata yang tajam.
"Ayolah kak, please. Untuk kali ini saja. Ana mohon." Ucapnya dengan puppy eyesnya.
"Ah.. Nanti kamu bohong lagi."
"Ana janji ini yang terakhir." Ucapnya sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
__ADS_1
"Janji...!!!" Tegas sang kakak.
"Iya, Ana janji. Ini yang terakhir." Ucapnya.
Sejenak Cinta menatap ke dalam bola mata sang adik. Ada kejujuran di sana.
"Baiklah. Ini yang terakhir kali ya." Ucapnya akhirnya. Sebenarnya ia juga tak tega untuk melarang hobi sang adik. Tapi apa mau dikata, hal ini harus ia lakukan demi keselamatan Ana sendiri. Cinta harus bertindak tegas sebagai seorang kakak. Ia tak ingin hal buruk terjadi pada sang adik.
"Yeah.. Makasih kakak, I love you.. Love you so much." Ucapnya dengan gembira, sembari memeluk raga mungil sang kakak.
...*****...
Terima kasih sudah sudi mampir di karya recehku.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komentar, vote, rating bintang limanya ya guys😍
Satu like, satu komentar, satu vote, dan rating bintang lima dari kalian sangat berarti buat author.💓
Bunga dan kopi nya juga boleh, jika kalian berkenan.😁
.
.
Bersambung.
.
__ADS_1