
Malam malamku bagai malam seribu bintang.
Yang bersinar di angkasa, bila kau disini.
Tuk sekedar menemani. Tuk melintasi langit yang selalu tersaji di satu sisi hati.
Cintaku tak harus ....
Miliki dirimu .....
Meski perih mengiris.
Iris segala janji.
Aku bagaikan diujung gelisah
melihat semua lembut tingkah lakumu
Namun kau tiada menuai kuat cintaku.
Yang ada hanya sekuntum rindu.
Seseorang sedang menghayati beberapa penggalan bait lagu yang menyentil hatinya saat ini. Sembari memandangi kalung berinisial Anastasia. Kalung itu sempat hilang dari genggaman tangannya. Tapi berhasil ia miliki kembali. Di saat para anak buahnya menyusuri TKP, Tempat Kejadian Perkara. Guna memperoleh berbagai kemungkinan infornasi yang dapat mereka temukan, dan akhirnya mereka juga menemukan kalung itu dan memberikan kepadanya kembali. Namun ia tak ingin kalung itu menjadi barang bukti milik korban, Ia beralibi jika kalung tersebut miliknya yang tak sengaja terjatuh saat ia berada di tempat kejadian perkara. Dan anak buahnya percaya itu, karena sidik jarinya tertinggal di sana. Hingga akhirnya kalung tersebut berhasil kembali ke dalam genggaman tangannya.
"Ana, aku berjanji. Akan mengusut tuntas peristiwa ini. Aku yakin jika ini bukanlah kecelakaan biasa. Tapi mungkin ada yang sengaja ingin melenyapkan dirimu," gumamnya sembari menatap kalung tersebut.
Walaupun hanya beberapa kali pertemuan. Namun pertemuan pertemuan tersebut seolah membekas dalam sanubarinya. Ia terbayang raut datar sang gadis saat terborgol bersamanya, dan hari hari berikutnya yang telah tak sengaja mereka lalui bersama. Hingga kejadian naas itu terjadi. Sang gadis telah pergi untuk selamanya. Di depan matanya. Tanpa mampu ia mencegahnya.
"Semoga kau tenang di alam sana Ana," bisiknya pada sang angin malam.
__ADS_1
"Seperti ada yang sedang berbisik menyebut namaku," ucap Ana yang saat itu sedang berdiri kembali di atas balkon menara kastil sang Raja Jin.
"Sedang membicarakan dan memikirkan siapa sayangku?" tanya Chris yang tiba tiba hadir saat itu. Kedua tangan kekarnya telah melingkar di pinggang ramping Ana.
"Haaissh ... Menggagetkanku saja. Ayo lepaskan tanganmu. Kita bukan muhrim!" Perintah Ana.
"Muhrim apa itu muhrim? Setahuku kau itu Atheis tak mengenal Tuhan. Kenapa sekarang berbicara tentang muhrim atau bukan muhrim?"
"Kenapa memangnya jika aku Atheis. Memangnya seorang Atheis tak boleh mengucapkan kata itu?" ucap Ana sewot. Sembari berusaha melepaskan dirinya dari pelukan erat Chris.
"Tentu boleh sayangku. Jangan marah yaa. Ok, aku lepaskan tanganku," ucapnya sembari melonggarkan pelukkannya. Dan hal itu dimanfaatkan Ana untuk membebaskan raganya dari pelukkan hangat Chris.
"Mau apa kau kemari?" tanya Ana tanpa menoleh ke arah Chris setelah raganya terbebas dari belenggu Chtis. Ana kembali melihat ke arah pemandangan di depan matanya saat ini.
"Aku hanya ingin mengunjungi calon istriku. Calon Ratuku. Karena aku tak ingin ia memikirkan orang lain selain diriku. Kau milikku, hanya milikku," ucapnya tegas.
"Baguslah kalau kau sadar dan ingat hal itu."
"Iya, aku akan selalu ingat. Karena kau yang selalu mengingatkanku. Hingga aku hapal setiap ucapan yang telah kau ucapkan. Titik komanya pun aku sudah hapal di luar kepala." Ana berucap dengan mengalihkan tatapannya melihat ke arah Chris.
"Manisnya setiap ucapan mu Ratuku," ucapnya sambil nyengir kuda. ( thor, kok nyengir kuda sih. Jan protes ntar di tulis nyengir monkey mau? Baiklah terserah dirimu thor. 😀🤣)
"Aku seorang Jin Muslim. Maukah dan sudihkah dirimu menjadi seorang muslim seperti diriku?" tanya Chris kembali sembari menatap dalam kedalam netra Ana.
"Kalau aku tidak mau. Apa kau juga akan memaksaku. Seperti kehendakmu menjadikan aku calon istrimu dan calon ratumu?" tanya Ana.
"Tentu tidak sayangku. Aku tidak akan memaksa dirimu memeluk agama yang saat ini aku anut. Tak ada paksaan dalam hal keyakinan. Aku berharaf suatu saat nanti dirimu akan menetimaku dan agama yang aku anut. Aku selalu berdoa dan berharaf akan hal itu. Tapi jika tentang menjadikanmu sebagai istri dan Ratuku, aku tidak menerina penolakkan darimu. Oh iya satu lagi yang harus kau ingat jika nanti malam aku akan menikahimu sesuai dengan agama dan keperxayaan yang aku anut, aku tak ingin jadi Atheis seperti dirimu walaupun aku seorang Jin." ucap Chris sembari berlalu dari hadapan Ana.
__ADS_1
"Jangan lupa persiapkanlah dirimu," ucap Chris kembali kemudian menghilang dari hadapan Ana.
"Kebiasaan, datang dan pergi tanpa di undang. Sudah kek jeilungkung saja. Tapi diakan bukan lagi Jeilungkung, tapi malah Raja nya."
"Tapi dia tadi bilang, kalau dirinya seorang Jin muslim. Artinya ia sama dengan Ryan ...."
"Jangan menyebut nama laki laki lain, aku cemburu ...." Tiba tiba suara Chris menggelegar memenuhi ruangan menara kastil tempat Ana berada setelah Ana menyebut nama Ryan.
"Haaiishh ....Ada ada saja dia, masa hanya menyebut nama ...."
"Ingat, aku cemburu jika dirimu menyebut nama pria lain selaiiin diriku..." Suara Chris kembali terdebgar memenuhi ruangan.
"Iya .... Iya .... Iya ... Aku tak akan menyebut nama orang lain ataupun memikirkannya. Kau puas sekarang ....?" tanya Ana sembari berteriak memecah kesunyian dalam ruangan tersebut. Namun tak ada jawaban lagi dari Chris. Hanya semilir angin yang menjawab teriakan Ana.
"Dasar Raja Jin mesumes bin cemburuan," gerutu Ana.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, vote, pavorit, rating bintang limanya ya.
Bunga dan kopinya juga boleh jika berkenan😀😍
Jangan lupa mampir juga ya ke karya temanku. Moga kalian suka😍
Bersambung.
.
__ADS_1
.
.