Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Bunga


__ADS_3

"Hai Tante, Apakabar?" raga cantik itu segera mendekati bundanya Ryan dan memeluknya erat. Bunda Ryan juga membalas pelukan raga cantik tersebut.


"Baik." Ucap bunda Ryan menjawab pertanyaan raga cantik itu. Lalu melerai pelukkannya.


"Maaf tante, bunga baru bisa hadir sekarang. Bunga ikut berbela sungkawa atas kepergian om Rudi."


"Tidak apa apa bunga. Terima kasih kau masih mau datang ke mari. Sudah lama sekali engkau tidak main - main ke mari."


"Iya tante. Maafkan bunga baru sempat hadir sekarang."


"Iya tidak apa apa. Ayo kita masuk ke dalam. Bentar lagi para bapak akan memulai tahlilannya dan pembacaan surah yasin."


Di netra Ana terlihat jalinan hubungan yang sangat erat di antara raga cantik itu dengan bunda nya Ryan. Mereka terlihat sudah sangat akrab. Ana semakin merasa menjadi orang asing kembali, sejak kedatangan raga cantik itu.


"Yan, apakabar?" Sapa Bunga kepada Ryan yang saat itu masih berdiri di sana.


"Baik." Ucap Ryan datar.


"Bunda, Ryan ke depan dulu. Mo menyambut tamu yang hadir." Ucap Ryan segera berlalu dari hadapan bunda, kala melihat raga cantik iti tidak mau jauh dari sang bunda.


"Titip bunda." Ucapnya kepada Ana. Dan mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Ana.


Seketika bunga menatap Ana tajam, kala melihat interaksi antara Ryan dan Ana.


"Siapa gadis itu tante?" Tanya Bunga penasaran dengan sosok Ana. Sembari menelisik keadaan Ana. "Siapa bule berdaster ini. Kenapa Ryan menitipkan bunda kepada nya." Batin Bunga.


"Oh, dia temannya Ryan." Ucap bunda. " Ayo kita masuk ke dalam Bunga, Ana." Ajak bunda kepada Ana dan Bunga.


"Baik tante." Ucap Ana dan Bunga serempak. Sembari langkah mereka mengikuti langkah bunda.


...///'*******///...


Di sebuah kediaman mungil. Sesosok cantik sedang gelisah dan khawatir memikirkan keberadaan sang adik yang entah saat ini berada di mana.


"Kak Cinta, kak Ana kemana. Kok ga kelihatan sampe sekarang?" tanya Bayu.


"Iya kak, Mutiara kangen sama kak Ana." Ucap Mutiara.


"Tenang ya sayang. Kak Ana lagi ada kerjaan bentar. Mungkin butuh beberapa waktu yang agak lama untuk menyelesaikannya. Jadi sabar ya sayang. Kita doakan kerjaan kak Ana cepat selesai dan ia selamat di tempat kerjanya. Hingga ia akan cepat pulang."


"Iya kak, Bayu juga selalu mendoakan kak Ana biar kerjaan kak Ana cepat selesai, selalu sehat. Dan selamat pulang kembali."


"Mutiara juga, selalu mendoakan kak Ana selalu sehat dan cepat pulang. Mutiara sudah kangen banget dengan kak Ana." Ucap Mutiara dengan mata berkaca - kaca.

__ADS_1


"Jangan menangis dan jangan bersedih ya sayang. Kak Ana pasti pulang kembali dengan selamat. Kita berdoa saja ya. Semoga kak Ana lekas pulang." Ucap Cinta menenangkan Bayu dan Mutiara. Ia merengkuh kedua raga mungil yersebut ke dalam pelukkannya.


"Ayo sekarang kalian tidur ya. Hari sudah malam. Moga mimpi indah ya."


"Baik kak." Ucap Bayu dan Mutiara serempak.


Cinta menuntun langkah kedua adiknya mendekati pembaringan. Dan membantu mereka berbaring.


"Tidurlah ya. Ayo baca doa dulu sebelum tidur." Ucap Cinta kepada kedua adiknya.


"Iya kak." Bayu dan Mutiara pun berdoa bersama dengan dipandu oleh Cinta.


"Aamiinnn." Ucap mereka serempak mengakhiri doanya.


...///******///...


"Aduh jeng, siapa bidadari bidadari cantik yang berada dibelakang mu?" tanya salah seorang ibu yang hadir saat itu kala menyambut kehadiran bunda, Ana, dan Bunga dihadapan mereka yang sedang menata kudapan dan bingkisan untuk dibawa tamu undangan pulang.


"Ini jeng Yanti, mereka temannya anak saya Ryan."


"Teman nya Ryan atau pacarnya Ryan bu Asih?" tanya bu Winda tetangganya bunda.


"Temen Ryan bu Winda." Bunda kembali menjawab pertanyaan para ibu ibu dengan tersenyum.


Raut wajah bunga langsung terlihat semburat merah muda kala mendengar ucapan bu Yanti. Berbeda dengan Ana responnya biasa saja. Ana malah merasa minder dengan wujudnya yang bule tapi berdaster. Ana merasa semakin menjadi orang asing di antara ibu ibu tersebut.


"Haish.... Kenapa pula aku harus terjebak di sini. Bagaimana caranya aku bisa pulang." Ana membantin dalam hati, saat sejenak terlintas bayangan Cinta, Bayu, dan Mutiara di pelupuk matanya.


"Neng, maukah jadi menantu ibu saja ya. Lumayan bisa memperbaiki keturunan." Ucapan bu Yanti menggagetkan Ana dalam lamunanya.


"Eh.... Apa bu?" tanya Ana balik.


"Jadi mantu ibu, mau ya?"


"Bu Yanti, bukannya putra ibu baru berumur 5 tahun," Bunda menyela ucapan bu Yanti, saat melihat gurat bingung di wajah Ana.


"Iya nih bu Yanti mo nyari menantu, atau baby sitter, kasihan si eneng nya kelamaan nunggu putra ibu besar," ucap ibu ibu yang lain menimpali. Mereka tersenyum saat mendengar ucapan bu Yanti.


"Cari menantulah. Mau ya neng jadi menantu ibu?" Ana hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan bu Yanti.


"Ayo bu cepat kita selesaikan tugas kita. Nantilah bahas masalah menantu. Kalo acara dah kelar, baru kita bahas lagi," ucap bu Irma budenya Ryan menghentikan obrolan mereka. Para ibu pun melanjutkan aktifitasnya kembali. Sembari sesekali masih saling menggoda.


Bunga merasa iri dan merasa tersaingi akan kehadiran Ana. Ia berpikir mengapa Ana yang lebih diperhatikan. Sedangkan dia tidak. Jika dilihat dari segi wajah, dandanan, serta apapun yang melekat di tubuhnya, semuanya tak ada bandingannya dibanding penampilan Ana yang hanya seperti orang kampung. Bunga berpikir ia lebih segala galanya dari Ana. Tapi mengapa para ibu lebih memperhatikan si bule nyasar itu ketimbang dirinya. Setan dalam diri bunga terus menghasut dan memupuk rasa iri yang membelenggu jiwanya Bunga.

__ADS_1


...///*******///...


Acara tahlilan dan yasinan di kediaman Ryan berjalan dengan lancar. Hingga waktu merambat naik. Tak terasa acara tahlilan dan yasinan pun telah selesai. Para tamu, tetangga, dan handai taulan yang hadir sudah berangsur angsur pulang. Hanya beberapa saja dari mereka yang masih tinggal di kediaman orang tuanya Ryan.


"Tante, Bunga pamit pulang dulu. Insya Allah besok bunga kemari lagi."


"Iya, besok jangan lupa ajak suamimu ya. Kabarnya kamukan sudah menikah?"


"Maaf tan, suami saya sudah meninggal lima bulan yang lalu, dalam kecelakaan pesawat," ucap Bunga sendu.


"Innalillahi wa inna ilaihirojiun. Maaf kan tante ya, telah menyinggung masalah suamimu. tante turut berbelasungkawa atas kepergiaanya. Moga ia tenang disana," Bunda merasa bersalah atas ucapannya yang menanyakan tentang suami Bunga, dan tak sengaja menyinggung perasaan Bunga.


"Tidak apa apa tan. Bunga sudah ikhlas,"


"Yang sabar ya," ucap bunda seraya memeluk raga Bunga dan mengusap punggungnya pelan memberikan rasa damai.


"Terima kasih tante, Bunga pamit dulu," ujar bunga sembari melerai pelukkannya.


"Bunga pulang dengan siapa?"


"Pulang sendiri. Bunga bawa kendaraan tan."


"Hati hati di jalan ya!"


"Iya tante, terima kasih," ucap Bunga sembari irish netranya melrik Ana, yang saat itu sedang membantu bude Irma beres beres.


"Itu bule nyasar ga pulang ke habitatnya apa? Jam segini masih di sini," batin Bunga.


...///*******///...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, berupa like, komen, dan votenya ya.


Bunga dan kopinya juga boleh. Lupyu all❤❤❤


Oiya, jangan lupa mampir ya di karya temanku, moga kalian suka.



Bersambung.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2