
Bruk... Ana menabrak dada bidang seseorang yang melangkah berlawanan arah dengannya.
"Maaf..." Ucap Ana sembari menyeimbangkan posisi tubuhnya yang sempoyongan untuk tegap berdiri agar tidak terjatuh.
Ana berusaha mengangkat wajahnya. Dan melihat wajah siapa yang sedang ia tabrak. Ana sedikit mendongak karna postur tubuh itu lebih tinggi dari nya.
"Hei... Ternyata kamu." Ucap Ana saat menyadari raga siapa yang ia tabrak. "Kamu itu, ada di mana mana ya." Ucap Ana sembari menunjuk nunjuk dada bidang tersebut. Entah kelakuan Ana kenapa berubah menjadi genit dan lebih agresif. Padahal jika dalam keadaan normal Ana adalah tipe cewek yang cuek dan dingin kepada kaum Adam. Hanya kepada orang orang terdekatnya saja ia bisa bersikap ramah. Tapi saat ini tingkah nya berbeda.
"Turunkan jarimu.. Dasar wanita malam...!!" Ucapnya tegas.
"Aku bukan Wanita Malam.. Tapi Ratunya..." Jawabnya terkikik. Jika dalam keadaan sadar mungkin ia akan mengutuk apa yang ia lakukan saat ini. Tangannya masih terus menoel noel dada bidang tersebut.
"Aish... Kamu ngapain sih." Ucap raga tersebut berusaha menghndar.
"Ndan, tempat ini bersih. Mari kita pergi dari sini." Ucap sang ajudan mengagetkan nya. Refleks ia berbalik menghadap sang ajudan.
"Baiklah... Ayo kita pergi dari sini.." Ucapnya memberi perintah.
Bruk.. Prang...
Terdengar sesuatu menabrak benda dan jatuh ke lantai. Saat ia menoleh dilihatnya raga yang tadi menabraknya telah menabrak dinding, raganya terjatuh dan menyenggol hiasan pecah belah yang ada disana. Raga tersebut terduduk di lantai, sembari mengibas ngibaskan tangannya.
"Aish... Bikin repot saja." Ia bergumam pelan. Namun langkahnya tetap terayun
Entah dorongan dari mana. Tiba tiba ia telah berada di samping raga tersebut.
"Panas... Panas..." Ucap raga tersebut berusaha melepas segala sesuatu yang melekat pada raganya.
"Do, mana borgol?"
"Ini Ndan." Edo memberikan borgol ke tangan sang komandan.
Dengan cepat sang komandan memborgol kedua tangan sang nona. Jika tidak cepat maka tangan tersebut akan semakin berulah.
"Ndan sepertinya nona ini, nona yang tempo hari ter...."
"Shuut.. Diam... Kau urus semua kekacauan yang telah ia perbuat." Ucap nya memberi perintah.
"Siap Komandan. Laksanakan."
"Ternyata dikau terciduk lagi nona..." Batin Edo
...///******///...
Ivan semakin gelisah. Sudah hampir satu jam Ana belum juga kembali.
__ADS_1
"Ke mana si Ana, kok ga balik balik sih, ini sudah satu jam berlalu. Tapi ia belum balik balik lagi. Katanya tadi hanya sebentar. Gua samperin saja. Kalau terjadi sesuatu bisa gawat." Ucapnya bermonolog.
Ivan melangkah keluar dari ruangan pesta. Langkahnya menuju toilet perempuan. Tapi ia tak berani masuk. Lama ia berdiri di depan pintu toilet.
"Mas ngapain berdiri di situ. Nungguin pacarnya ya?" Tanya seorang gadis yang baru keluar dari toilet.
"Eh... Maaf ya mbak, apa di dalam banyak orangnya?" Tanya Ivan.
"Ga ada orang mas di dalam. Kosong..." Ucapnya sembari berlalu dari hadapan Ivan.
"Waduh, kemana kamu An... Kalau di sini kamu ga ada, lantas kemana kamu sekarang." Ivan bergumam sendiri setelah puas meneriksa keadaan di dalam toilet wanita. Yang memang benar ternyata kosong, sesuai dengan penjelasan gadis tadi. "Mati aku, bisa kena hajar kak Cinta, kalo kamu hilang lagi. Belum lagi Bang Riki dan Bang Ken... Alamak..." Ucap Ivan prustasi.
...///*******///...
Ryan melangkah menuju kendaraannya yang terparkir. Sembari membawa raga yang tadi ia borgol. Karna terus berteriak panas panas, terpaksa Ryan memukul tengkuknya dan membuat raga tersebut pingsan.
"Aish... Berat juga ternyata." Ucapnya sembari membaringkan raga tersebut di jok belakang. Ryan melepas jaketnya dan menutupkan pada raga tersebut.
Saat ia telah berada di depan kemudinya terdengar ponsel nya bergetar.
Dret... Dret.... Dret....
Ryan segera menggangkat panggilan masuk yang ternyata dari sang bunda.
"Assalamualaikum. Wr.wb." Terdengar suara bunda agak serak.
"Yan... Lekas pulang ya nak.." Ucap sang bunda suara nya terdengar pilu di netra pendengaran Ryan.
"Iya bun, Ryan akan segera pulang. Ada apa bun, tidak biasanya bunda menyuruh Ryan pulang?"
"Ayahmu nak...!" Ucap sang bunda dengan terisak.
"Ada apa dengan ayah, bun?" Tanya Ryan tak sabaran.
"Ayahmu... Ayahmu... Terjatuh di kamar mandi nak. Saat ini kondisi ayahmu dalam keadaan koma." Jawab sang bunda dengan terbata.
"Innalillahi... Trus ayah di mana sekarang bun?" Tanya Ryan, setetes kristal bening jatuh dari netra elangnya.
"Ayahmu saat ini di rawat di Instalasi Gawat Darurat. Di Rumah Sakit XXX." Jawab sang bunda. "Cepat pulang ya nak, bunda menunggumu." Ucap bunda kembali dari sambungan telpon.
"Baik bunda... Ryan akan segera pulang."
Hati hati di jalan ya nak. Assalamualaikum.Wr.wb. Ucap sang bunda.
"Waalaikummussalam.Wr.wb." Jawab Ryan.
__ADS_1
Tuts... Tuts... Tuts... sambungan telpon pun terputus. Ryan bergegas menstarter kendaraannya, dan melajukannya di jalan raya. Ryan memacu kendaraannya dengan kecepatan maksimal.
Setelah sebelumnya ia memerintahkan kepada Edo dan seluruh bawahannya untuk kembali ke markas.
...///******///...
Ryan segera memarkir kendaraannya. Saat telah tiba di area parkir rumah sakit. Ia segera keluar dari kendaraannya. Dan melangkah secepat kilat menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. Ia ingin secepatnya bertemu dengan sang bunda dan ayahandanya.
Jiwanya belum terasa tenang jika belum bertemu dengan kedua malaikat hidupnya.
Ia segera memeluk raga sepuh sang ibu. Saat telah tertangkap di netranya siluet sang bunda. Di ambilnya tangan kanan sang bunda dan diciumnya punggung tangan raga sepuh tersebut. Orang yang paling dicintainya setelah ayah dan Rabbnya serta Rasul-Nya.
"Di mana ayah, bun?" Tanyanya sembari melerai pelukkannya.
"Ayahmu di sana nak." Tunjuk sang bunda, menunjuk brangkar sang ayah. Yang saat ini terbaring lemah. Berbagai selang medis berseliweran di tubuh sang ayah.
Ryan mendekati raga tersebut. Dan duduk disamping brangkar sang ayah. Diambilnya tangan kanan sang ayah. Lalu diciumnya punggung tangan beliau.
"Ayah, Ryan datang. Maafkan Ryan baru datang sekarang. Maafkan anakmu ini Ayah. Lekas lah sembuh yah..." Ucapnya terbata, setetes kristal bening terjatuh dari sudut netranya. Ryan menangis dalam diam.
Bip...Bip...Bip....
Hanya suara mesin pencatat detak jantung yang menjawab semua perkataan Ryan.
Netranya memandang sayu wajah sang ayah. Diusapnya seluruh permukaan wajah sang ayah yang merupakan sosok panutan dalam hidupnya. Setiap gerak langkah dan perbuatan nya Ryan selalu mencontoh sang ayah. Kini sang panutan sedang terbaring lemah diatas brangkar rumah sakit.
Elusan lembut ia terima di pundaknya dari tangan halus sang bunda.
"Sebelum koma, ayahmu selalu menanyakan keberadaanmu nak. Katanya ia kangen, ia rindu, tapi tak ingin menelponmu. Karena takut mengganggu aktifitasmu. Beliau sadar banyak beban tugas yang engkau emban. Hingga beliau tak ingin mengganggu fokusmu."
Mendengar ucapan sang bunda, tetesan kristal bening dari sudut matanya semakin deras mengalir.
"Maafkan anakmu ayah..." Ucapnya lirih.
...///******///...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, dan votenya. Rating bintang limanya juga ya guys.
Kopi dan bunganya juga boleh...
Ryan... Yang sabar yaa... semangat...ππ
Terima kasih semuanya telah sudi mampir di karya recehku ini. Lupyu allππ
Bersambung..
__ADS_1
.
.