Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Pergi


__ADS_3

Padamu ... Pemilik hati yang tak pernah ku miliki


Yang hadir sebagai, bagian dari kisah hidupku


Engkau aku cinta, dengan segenap rasa dihati


Selaluku mencoba menjadi seperti yang engkau minta


*Aku tahu engkau, sebenarnya tahu


Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu


Kau sembunyikan rasa cintaku


Dibalik topeng persahabatanmu yang palsu


Kau jadikan Aku kekasiih bayangan


Untuk menemani saat kau merasa sepi


Bertahun lamanya kujalani kisah


Cinta sendiri. .... Cinta sendiri.....


Mungkin memang benar cinta itu tak lagi berharga


Semua percuma bila engkau tak punyai harta


Back to...*


Ivan termenung dalam diamnya, sembari mendengarkan bait bait lagu kesukaannya, dari penyanyi favoritnya. Alunan suara musik mengalun merdu dan lembut di gendang telinga menyusuri setiap relung kalbu.


Hati yang telah ia tata dengan baik beberapa bulan ini, kembali porak poranda. Hanya karena kehadiran sosok yang selama ini telah ia anggap tiada.


Raganya terpaku, kala menatap sosok yang berdiri dihadapannya saat itu.


Ingin rasanya memeluk raga ramping tersebut dengan erat. Dan takkan ia lepaskan lagi. Menyalurkan kerinduan yang selama ini terendam dan terendap di relung hatinya yang paling dalam. Ingin ia berlari dengan cepat untuk menghampiri sosok tersebut. Namun ia hanya terpaku di tempatnya. Ivan Shock ternyata sosok yang selama ini ia anggap telah tiada, ternyata masih hidup. Dan berdiri tak jauh darinya saat itu.


Dan Ivan semakin kaget kala menyadari Tasya yang ia fikir adalah Ana, tak mengenalinya sama sekali. Bahkan menjaga jarak dengannya.


Hancur hatinya kala menyadari hal itu. Orang yang selama ini diam-diam berhasil mendiami hatinya, menguasai jiwa raganya, teman masa kecilnya, seolah olah tak mengenalinya. Bahkan terkesan asing.


Tetapi untungnya Tasya yang difikirnya adalah Ana, mau ia ajak pulang ke rumah kak Cinta.

__ADS_1


Walaupun dengan sebuah pemaksaan terlebih dahulu.


"Ana, kenapa kamu sekarang berubah. Mengapa kau tak mengenali ku lagi. Di manakah Ana ku yang dulu?" tanyanya pada angin yang berhembus menerpa raut wajahnya.


Dingin menyapu wajahnya yang memendam seribu tanya pada raga yang selalu hadir dalam kesehariannya.


......******🌼🌼🌼*******......


Dua puluh satu tahun yang lalu


"Kalian mo ke mana? " Suara barito seorang lelaki paruh baya, menggagetkan kedua insan yang hendak pergi dari rumahnya.


"Itu Dad Diego ada pertemuan penting di negara Zamrud Khatulistiwa, dan tak bisa diwakilkan!" jawab Diego kepada sang Ayah.


"Trus menantu mau kemana?" tanya sang Ayah kembali.


"Anastasya mo ikut Dad, ga mau Diego tinggalkan!" jelas sang putra pada ayahnya.


"Tapi kan anak menantu sedang hamil besar!


Apa nanti tidak mengganggu perjalanan bisnismu nanti? Bagaimana jika ia melahirkan di perjalanan, apa tidak merepotkan nantinya?"


tanya sang ayah dengan nada khawatir.


"Iya, itu kan hasil pemeriksaan dokter. Bagaimana kalau Tuhan berkehendak lain! Bagaimana kalau jadwal lahirannya tak sesuai dengan yang dikatakan dokter? Bagaimana jika Anak menantu melahirkan lebih awal dari yang diperkirakan dokter? Bukankah akan merepotkan dirimu nantinya di sana!" ucap dan tanya, sang ayah lontarkan kepada putra dan menantunya.


Sang menantu hanya tertunduk pasrah saat mendengar pembicaraan suaminya dengan sang ayah mertua. Namun entah mengapa netra beningnya tak kuasa menahan riak riak air yang menelusup di sela sela netra beningnya. Dan tanpa mampu ia cegah telah mengalir jatuh disudut pipinya yang halus.


Sang Suami menyadari hal ini. Ia semakin tak tega meninggalkan sang istri kala melihat tetesan airmata yang mengalir di wajah cantik sang istri. Ia tak tahan melihat semua itu. Segera ia rengkuh raga yang berdiri di sampingnya saat itu juga, menyalurkan rasa aman dan meyakinkan pada sang istri bahwa semua akan baik baik saja, dan akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan oleh sang istri dan sang bayi yang saat ini masih bersemayam dalam raga istrinya.


"Tenang Honey, semua akan baik-baik saja!" Bisiknya di telinga sang istri.


"Jadi Diego, Apakah anak menantu akan tetap engkau ajak bersanamu? " tanya sang ayah kala melihat adegan kecil yang terjadi dihadapannya saat ini.


"Iya Dad. Anastasya akan tetap ikut bersamaku. Apapun yang terjadi. Diego tak tahan dan tak tega melihat ia menangis seperti ini Dad! "


"Kalau keputusan kalian sudah bulat, dan kau Diego sanggup menerima segala konsekuensi dari apa yang kalian lakukan. Daddy hanya bisa berdoa semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan. Dan Semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa! Aamiinnn!'


Doa tulus sang Ayah menyertai kepergian Putra dan menantunya.


"Jadi Daddy mengizinkan kepergian kani berdua! " ucap Diego dengan penuh kegembiraan.


"Ya mo bagaimana lagi, terpaksa Daddy harus merelakan kepergian kalian berdua. Mungkin ini jalan yang terbaik. Segala sesuatu ada hikmahnya. Dan semoga kalian selalu dalam keadaan baik baik saja. Doa Daddy selalu menyertai kalian. Semoga kalian selamat sampai di sana dan selamat tiba kembali ke rumah kita ini! " ucap sang Ayah yang akhirnya ikhlas melepaskan kepergian Putra semata wayangnya, anak menantu, dan calon cucunya yang belum lahir.

__ADS_1


"Terima kasih Dad," ucap Diego sembari memeluk erat raga paruh baya sang Ayah. setelah terlebih dahulu ia melepaskan pelukan pada raga sang istri.


"Iya, hati-hati di sana, tolong jaga putri Daddy dan Cucu Daddy dengan sebaik-baiknya!"


"Siap laksanakan sesuai perintah Daddy, Diego akan selalu menjaga Anastasya dan calon bayi kami dengan segenap jiwa raga. Nyawa Diego sebagai tarihannya! "


"Husshhhh, jangan bilang begitu. Cukip kalian bertiga pulang kembali dengan selamat. Sudah bahagia hati Daddy! "


"Iya Dad. Diego berjanji kami bertiga akan pulang kembali dengan selamat. Diego janji itu!"


"Semoga.... Aamiinnn.... " Ucap sang Ayah dengan tulus.


"Kami berangkat sekarang Dad! " Pamit Diego dan Anastasya pada sang ayah.


"Iya pergilah, hati-hati di jalan. Dan kembali dengan selamat tanpa kurang. suatu apapun. Jaga cucu Daddy ya! "


"Iya Daddy, Diego akan selalu menjaga kedua permata hatiku."


"Baik-baik ya di sana, kalo ada sesuatu yang terjadi tolong segera hubungi Daddy. Biar raga sepuhnya bahagia, " ucap sang Ayah dengan netra yang berkaca-kaca.


"Iya Dad, siap. Diego akan selalu mengirimkan kabar kepada Daddy. Agar Daddy ga cemas dan khawatir, " ucap Diego sembari melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan kepada sang ayah. Dan akhirnya raganya dan raga sang istri menghilang dibalik kaca mobil yang telah terparkir di teras Mansionnya.


Mobil perlahan bergerak meninggalkan mansion. Lama kelamaan akhirnya menghilang tak terlihat lagi di sudut netra tua Sang ayah.


"Sabar tuan, mereka pasti kembali dengan selamat. Dan membawa cucu tuan yang imut dan ngegemesi! " ucap kepala Maid, membuyarkan lamunan sang Penguasa.


"Iya, aku juga berharaf begitu! " jawab sang Tuan dengan nada lirih.


...*****🌼🌼🌼*****...


Maaf ya para reader ku yang tersayang. Maaf baru bisa up ban sekarang ini. Karena sesuatu lain hal. Hingga bari sekarang sempat untuk up bab. Maaf karena telah menunggu lama. Mungkin kalian telah melupakan aku. Tolong maafkan aku.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Like, komentar, gift, bunganya juga boleh.


Satu like dan komentar dari kalian para Readers sangat berarti bagi othor renahan ini.


lupyu all.


❤❤❤


Bersambung.


...******//////******...

__ADS_1



__ADS_2