Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Selamat Jalan Ayah


__ADS_3

"Selamat Jalan ayah. Moga dikau tenang disana. Semoga segala amal perbuatan baikmu diterima Allah Swt, dilapangkan kuburmu, diterangi kuburmu, di ampuni semua kesalahanmu yang pernah kau perbuat baik disengaja maupun tidak. Semoga kita nantinya dapat bertemu kembali di Jannah-Nya. Ayah maafkan anakmu ini yang tak bisa selalu berada di sampingmu. Maafkan anakmu yang belum bisa melimpahkan kebahagiaan kepadamu. Maafkan anakmu ayah..."


"Ayah.... Kau adalah Pahlawanku. Kau adalah panutanku. Tanpamu aku kehilangan arah."


"Ayah.... Kau yang selalu menuntun jalan dan langkahku. Kau selalu membimbing ku dalam hal kebaikan. Terima kasih ayah, karna telah menjadi ayah yang hebat buatku. Aku bangga mempunyai ayah sepertimu.. Ayah aku bangga menjadi putramu"


"Ayah... Akan selalu ku ingat setiap pesan pesanmu. Selamat Jalan ayah. Doa terbaik selalu tersemat untukmu dari putramu ini."


Ryan menatap gundukan tanah basah yang ada di depannya. Di mana di dalam sana jasad sang ayahanda sang panutan bersemayam. Tetesan kristal bening bergulir dengan malu malu di sudut netra elangnya. Sekuat apapun ia menahan agar tak tumpah ke bumi, namun tetap kristal bening tersebut meluncur dengan indahnya tanpa mampu ia cegah, kala membayang sosok figur sang ayah.


"Selamat Jalan Ayah, kau telah tenang disana. Moga kita bertemu kembali, kelak di Jannah-Nya." Lagi lagi dan lagi sudut bubir Ryan mengucapkan kalimat perpisahahan dengan sang ayah. Sembari menghapus jejak kristal bening yang telah terlanjur jatuh ke bumi.


"Yang sabar ya Ryan. Setiap yang bernyawa pasti mati. Kita tinggal menunggu giliran saja. Kapan tiba waktunya kita tuk pergi menyusul beliau. Tetaplah jadi anak yang sholeh yang selalu mendoakan beliau. Engkau adalah ladang pahala di dunia ini buat beliau. Doa terbaik selalu kirimkan buat beliau. Moga beliau tenang disana. Kami beserta segenap jajaran polisi turut berduka cita dan berbelasungkawa yang mendalam atas kepergian beliau. Yang sabar ya... Doakan selalu beliau." Tepukan lembut dan nasehat serta ucapan belasungkawa datang dari atasan Ryan yang saat itu hadir dalam prosesi pemakaman sang ayah.


"Terima kasih pak." Ucap Ryan dengan mata berkaca kaca.


Sang atasan memeluk Ryan. Menyalurkan rasa damai. Ryan sudah ia anggap seperti putranyanya sendiri. Ia kagum akan sosok Ryan yang pintar, cerdas, rendah hati, dan berprestasi. Jarang ada anak muda yang sepertinya. Jika ia mempunyai putri, mungkin akan dipungutnya menantu. Tapi sayangnya. Ia tak mempunyai putri, hanya putra saja yang ia miliki.


"Kami adalah keluargamu. Bila ada sesuatu hal jangan sungkan untuk berbicara kepada kami. Kami siap membantu. Kau sudah ku anggap seperti putra ku sendiri. Jadi jangan ragu dan sungkan kepada ku." Ucap sang atasan kembali lalu melerai pelukkannya.


"Asiaap.. Terima kasih pak." Ucap Ryan.


"Kami pamit dulu ya. Yang Sabar." Ucap sang atasan kembali mengelus pundak Ryan.


"Terima kasih pak." Ucap Ryan sembari menatap kepergian sang atasan yang berlalu dari hadapannya.


Ryan beserta rombongan yang mengantar jenazah ayahnya pun mulai beranjak dari tanah pemakaman. Kembali melangkah pulang menuju rumah duka.


Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan pusara, maka para malaikat mulai datang menghampiri jasad yang sedang terbaring, dalam pakaian kebesaran, khas ahli kubur. Malaikat Mungkar dan Nangkir akan mulai bertanya tentang apa saja yang telah kita lakukan semasa kita hidup di dunia. Jika amalan kita baik maka kita akan mudah menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh malaikat Mungkar dan Nangkir. Tapi sebaliknya jika amalan kita semasa hidup di dunia buruk, maka akan susah lah kita menjawab. Jika kita salah dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan malaikat Mungkar dan Nangkir, maka kita akan mendapat siksaan yang tak pernah dapat kita bayangkan betapa sakit dan pedihnya siksaan kubur.

__ADS_1


Setelah malaikat pergi, maka kita di dalam kubur akan ditemani oleh amalan kita yang kita perbuat semasa kita hidup. Menurut riwayat, jika kita banyak amalan kebaikan maka yang menunggui kita adalah amalan kita dalam sosok yang indah dan rupawan.


Namun jika amalan kita di dunia buruk, maka yang ikut menunggu di samping kita adalah sosok yang sangat menakutkan dan mengerikan. Di tempat yang gelap dan sempit, di temani oleh sosok yang mengerikan. Nauzubillah min Zalik. Moga kita semua terhindar dari hal ini.


Moga kita semua tergolong dalam orang orang yang beramal baik. Husnul Hotimah.


...///******///...


Di rumah duka, Ana tak tahu harus melakukan apa. Tidak ada seorangpun yang ia kenal. Kecuali Ryan dan tante yang telah memberinya baju ganti. Saat Jenazah akan di antar ke tanah pemakaman. Sang tante jatuh pingsang. Ana yang berdiri di sampingnya refleks menangkap raga sepuh itu.


Ana membaringkan raga tersebut ke atas pembaringan dengan bantuan para ibu ibu yang asing bagi Ana. Tak ada seorangpun yang ia kenal. Hanya senyum tulus Ana lontarkan kala matanya tal sengaja bersinggungan dengan mata mereka.


Mereka membantu menyadarkan bunda nya Ryan dari pingsannya. Dengan mengoleskan minyak kayu putih ke hidung bunda dan menggosok sekujur tubuh bunda, mengalirkan rasa hangat. Tak berapa lama bunda siuman dari pingsannya. Namum karena kondisinya yang lemah. Akhirnya beliau tertidur kembali.


"Maaf kami tinggal ya. Tolong jagain bu Asih ya nak." Ucap salah seorang ibu yang turut membantu menyadarkan bunda nya Ryan kepada Ana.


"Baik bu."


"Baik bu." Jawab Ana sembari menatap kepergian ibu ibu tersebut hingga menghilang di balik pintu kamar.


...///*******///...


Pulang dari pemakaman Ryan segera membersihkan dirinya dari tanah yang menempel saat ia masuk ke liang lahat. ketika menyambut jenazah ayah untuk dikebumikan.


Setelah bersih Ryan mencari keberadaan sang bunda yang nampak belum terlihat di netanya semenjak ia pulang dari pemakaman.


" Bude, dimana bunda?" Tanyanya kepada bu Irma adik dari bundanya Ryan.


"Bundamu ada dikamar, tadi bunda mu pingsan, alhamdulillah sudah siuman. Sekarang bundamu sedang istirahat di kamarnya." Jawab bu Irma.

__ADS_1


"Bunda pingsan." Beo Ryan.


"Iya tadi, tapi sekarang sudah sadar. Bundamu tidak apa apa jangan khawatir Yan." Ucap bu Irma menenangkan sang keponakan yang terlihat panik.


"Ryan mo lihat bunda dulu bude." Ucapnya lalu berlalu pergi dari hadapan bu Irma.


"Tidak makan dulu Yan?" Tanya bu irma.


"Nanti saja bude, Ryan ga laper. Sekarang Ryan mo liat keadaan bunda dulu." Ucapnya sembari terus melajukan langkahnya meninggalkan bu irma.


Bu Irma menatap kepergian Ryan dengan mata yang berkaca kaca. "Moga kebahagiaan selalu menyertaimu Yan." Bu irma berdoa dalam hatinya.


...///********///...


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, dan votenya ya. Rating bintang lima dan favoritnya jangan lupa ya.


Kopi dan bunganya juga boleh..😂😍


Jangan lupa mampir juga ya ke karya temanku, moga kalian suka.😍



Bersambung.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2