Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Kau Cucuku


__ADS_3

Masa Sekarang


Tuan Roberto termenung di depan kamar Tasya, yang saat ini ditempati Oleh Ana. Awalnya IA berniat ingin menemui cucunya tersebut. Ingin memeluk raga tersebut untuk menyalurkan rasa rindu dan rasa bersalah yang selama ini ia pendam untuk putra kesayangannya Diego yang merupakan ayah dari kedua cucu nya.


Namun saat telah sampai di depan pintu kamar Tasya. Langkahnya terhenti. Hatinya seolah meragu dan sangsiq. Akahkah sang cucu mau menerima dirinya sebagai kakeknya, atau malah akan membencinya. Sungguh ia benar-benar tidak tahu kalau ternyata istrinya Diego, Anastasya melahirkan bayi kembar.


Baru kemarin ia memerintahkan kepada para ajudannya untuk mencari informasi dan bukti bukti yang valid tentang kejadian dua puluh satu tahun yang silam di Negara Zamrud Khatulistiwa. Saat melihat keanehan-keanehan yang ada dalam diri cucunya..Tak lupa ia juga melakukan tes DNA terhadap helaian rambut Ana yang ia peroleh melalui para maid saat sedang bersih-bersih kamar Tasya.


Dan hasilnya seratus persen valid. Hasil tes DNA menyatakan bahwa Ana benar-benar adalah cucu kandungnya.


Ada perasan bersalah yang menjalar di dalam relung hatinya yang terdalam. Ia merasa sangat bersalah mengapa tempo hari ia tak mencari tahu informasi tentang proses kelahiran Anastasya di negara Zamrud Khatulistiwa. Mengapa baru sekarang ia mengetahui hal ini.


Ia sangatt terpukul Kala mendengar insiden yang terjadi pada sang putra dan istrinya Anastasya.


Waktu itu jiwa rapuhnya sedikit terhibur, kala menyadari kenyataan bahwasanya putri nya Diego selamat dari insiden kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Kala itu ia mendekap erat raga mungil sang cucu dan berjanji akan merawat dan melindunginya hingga akhir hayatnya. Ia berjanji bahwasanya sang cucu tak akan kekurangan kasih sayang Mommy dan Daddynya. Dan jiga tak akan merasakan sedihnya hidup sendiri tanpa kedua orang-tuanya. Ia tak menyadari kalau sebenarnya cucunya ada dua. Yang ia tahu saat itu Anastasya hanya melahirkan satu orang bayi mungil.


Tuan Roberto berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan hatinya, bahwasannya cucu nya ini akan mau menerima dirinya sebagai kakeknya. Sambil komat kamit ia tak henti-henti berdoa agar sang cucu tidak marah padanya.


Langkahnya masih saja terhenti di depan pintu kamar Tasya, antara meragu masuk atau tidak. Ia tak dapat membayangkan kalau seandainya cucuunya ini tak mau menerima dirinya sebagai kakeknya. Tuan Roberto berusaha keras menyakinkan hati, jiwa, dan pikirannya tentang hal itu.


Setelah penuh pertimbangan akhirnya Tuan Roberto memberanikan diri mengetuk pintu kamar Tasya.


Tok .... Tok.... Tok....


"Iya siapa?" terdengar jawaban sang cucu.


"Ini kakek nak, bolehkah kakek masuk?"


"Iya kek, silahkan masuk pintunya tidak terkunci!"

__ADS_1


Kriet.... Dengan perlahan tuan Roberto membuka pintu kamar Tasya, takut mengagetkan Sang penghuni kamar.


Tertangkap di netra sepuhnya, raga ramping sang cucu berdiri tak jauh darinya saat ini. Ana segera melangkah mendekatinya.


Secara refleks tuan Roberto memeluk raga ramping sang cucu.


"Maafkan kakek .... Maafkan Kakek .... Maafkan Kakek...." ucap tuan Roberto secara berulang-ulang. Menumpahkan rasa sesal yang mengganjal dalam jiwanya.


Pelukkan erat sang kakek, sedikit membuat napas Ana sesak, namun ia tetap membiarkan sang kakek memeluk raganya. Ada rasa damai mengalir dalam jiwanya, mendapat perlakuan tak biasa dari orang yang baru ia temui.


"Honey, aku cemburu..... Aku cemburu..... Aku cemburu....." Suara sang suami terdengar jelas di netra pendengarannya.


"Kakek kenapa?" tanya Ana pada raga sepuh sang kakek, sembari berusaha terbebas dari pelukkan sang kakek, saat mendengar suara peringatan dari sang suami. Overprotective nya mulai keluar.


"Tolong maafkan kakek....!" ucap tuan Roberto kembali.


"Iya kek, iya. Ana maafkan. Kakek tidak bersalah kok!" ucap Ana sembari berusaha melepaskan diri dari raga sepuh sang kakek


"Iya... Iya..... Iya.... Ana maafkan kakek!"


"Jadi namamu Ana, nama yang indah!"


"Kakek tahu darimana jika namaku adalah Ana?" tanya Ana dengan raut wajah terkejut


"Ya, barusan tadi cucunda sendiri yang bilang dirimu adalah Ana, bukan Tasya!" jawab tuan Roberto.


"Kakek tidak marah jika aku bukanlah Tasya cucumu?"


"Kenapa mesti marah jika kau juga adalah cucuku!" Tegas tuan Roberto, setelah melepas

__ADS_1


pelukkannya pada raga ramping sang cucu


"Maksud kakek?" tanya Ana heran.


"Ya, kau adalah cucuku. Tasya dan dirimu adalah saudara kembar, kalian terlahir dari rahim yang sama. Kalian berdua adalah cucu kandungku!" ucap tuan Roberto berapi-api.


"Aku cucu kakek?" Beo Ana.


"Iya, kau adalah cucuku!"


"Darimana kakek tahu, kalau aku adalah cucu kandung Kakek!"


"Karena kakek telah melakukan penyelidikan tentang peristiwa dua puluh satu tahun yang lalu. Dan kakek juga telah melakukan tes DNA tanpa sepengetahuanmu. Tolong maafkan kakek!" ucap tuan Roberto kembali.


"Kau dengar itu ...! Aku adalah cucunya, cucu kandungnya!" ucap Ana pada sang suami yang berdiri tak jauh darinya, namun tak terlihat oleh netra sepuh sang kakek.


"Kamu berbicara dengan siapa, sayang?" Tanya tuan Roberto pada raga di depannya.


"Bukan apa-apa kek. Aku hanya berbicara pada sang angin." jawab Ana mengalihkan perhatian sang Kakek



.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Satu like, komen, bintang limanya, sangat berarti bagi othor remahan ini.


lupyu all.

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2