
Sang gadis terbangun dari tidur panjangnya. Ia belum sepenuhnya membuka mata. Masih di antara sadar dan tidak Ia mengeliat dari tidur panjangnya. Ia belum menyadari sedang berada di mana saat itu.
Ketika ia membuka matanya, ia terkejut saat melihat interior kamar tersebut yang tidak ia kenali.
"Di mana aku sekarang?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Kau sudah bangun?" Sebuah suara laki laki mengagetkannya.
"Siapa kamu?"
"Aku ... Kau tanya siapa aku?"
"Iya kamu siapa? Aku ada di mana sekarang?"
"Ana, kau tak mengenali aku, sudah lama kita tak berjumpa. Ke mana saja kamu selama ini. Ku pikir kau telah tiada, ternyata kau masih hidup?" Pertanyaan beruntun keluar dari lawan bicaranya.
"Maaf aku tak mengerti apa yang kau ucapkan. Aku baru di kota ini. Ada dan tiada, aku tak mengerti. Aku masih hidup. Kalau ga hidup, ngapain juga aku ada di sini. Satu lagi namaku Tasya bukan Ana!" Terangnya pada raga tegap yang ada di hadapannya saat ini.
"Kau mau ke mana?" tanyanya saat Tasya beranjak dari pembaringannya.
"Aku mau pergi, terima kasih sudah menolongku!"
"Mau pergi ke mana?"
"Mau pulanglah ke negaraku. Aku sudah lama bermain main diluar. Aku mo pulang sekarang. Nanti kakek mencariku."
"Apa yang kau cari?" tanyanya saat dilihat Tasya sedang mencari sesuatu.
"Kunci motorku mana?"
"Ada pada ajudanku.'
"Apa ...?" Tasya kaget mendengar kuda besinya ada pada orang lain.
"K3napa ...?"
"Kau tanya kenapa? Tahukah dirimu, bahwa surat menyurat tentang diriku semuanya ada di dalam kuda besiku. Awas saja kalo hilang. Takkan ku ampuni dirimu!" ucapnya berang.
"Untuk apa surat menyurat. Dirimu kan tinggal di sini, di negara ini, kalo hilang tinggal urus kembali. Ga ribet."
"Enak saja dirimu berkata tuan ....?"
"Ryan ..."
"Ok, tuan Ryan yang terhormat. Berkasku semuanya ada pada kuda besiku. Kartu identitasku, Pasfor, Visa, Kartu kreditku, kartu vaksinku, semuanya ada di sana. Kalo hilang aku ga bisa pulang!"
"Kaukan dari negara ini, tak perlu pasfor dan Visa untuk pulang Ana."
"Aku Tasya bukan Ana. Aku bukan dari negara ini, masih ga percaya sih. Ayo temenin aku mengambil kuda besiku," ucap Tasya kembali.
"Makan dulu, sudah kusiapkan. Mau mandi atau mo mengerjakan sesuatu, silahkan!" tawar Ryan pada Tasya.
"Aku kenyang, mandi nanti saja. Yang penting sekarang kuda besiku!" pinta Tasya dengan wajah kusut.
"Ok, baiklah kita ke markasku sekarang!" Ajak Ryan. Tasya mengikuti langkah Ryan.
"Ga mo cuci muka dulu nih. Tuh masih ada bekas sisa sisa air liur nempel, matamu juga masih ada beleknya tuh?"
"Mana ga ada," ucap Tasya saat melihat wajahnya di kaca.
"Ada, liat baik baik muka mu itu?"
"Kau ya.... Jangan bercanda! Ga ada nih, bersih!" ucapnya sembari menghapus wajahnya.
__ADS_1
"Seriusan ada kok ...!"
"Ga ada... Kau hanya ingin mempermainkan diriku. Ga da apa apa nya nih ... Bersih kan!" ucapnya sembari kembali memperlihatkan wajahnya.
"Iya ... Iya ... Iya ... Bersih.. " ucap Ryan akhirnya mengalah.
"Tuhkan bersih .."
"Iya bersih. Makanya jadi anak gadis jangan Jordan. Jorok Edan ... Hiiii ... " ucap Ryan.
"Biarin .... Emang saya pikirin .... Ayo sekarang temenin saya mengambil kuda besiku," ucap Tasya, tapi ia juga menyempatkan untuk mencuci muka.
"Tuh kan bersih ... "
"Iya bersih .... Ayo kita pergi ..." ucap Ryan sembari mengacak rambut pirangnya Tasya.
"Hei, jangan mengacak rambutku. Aku bukan anak kecil ... "
"Jadi pergi atau tidak nih." Ryan sudah mengambil ancang ancang akan duduk kembali.
"Ok .... Ok ... Kita pergi sekarang." Tasya mengikuti langkah tegap sang komandan.
Ryan segera melajukan kendaraan roda empatnya sesaat setelah mereka sama sama telah berada di dalamnya.
"Jadi siapa namamu?" tanya Ryan memecah henimg yang terjadi di antara mereka.
"Tasya .... Namaku Tasya ..." ucapnya sembari mengulurkan tangannya sebagai tanda awal perkenalan mereka.
"Ryan .... Namaku Ryan," ucap Ryan membalas dengan menjabat tangan Tasya.
"Kau berasal dari mana?" tanya Ryan kembali.
"Aku dari negara A, tujuan ku kemari hanya dalam rangka Touring dan traveling keliling dunia," ucap Tasya sembari menatap ke jalan raya.
"Apa maksudmu?"
"Mungkin saja ikut pesta miras dan pengedar obat obat terlarang?"
"Jangan keterlaluan kau menuduhku tanpa bukti yang valid," ucap Tasya berang.
"Lalu, kenapa dirimu kami temukan di tempat pesta miras dan obat terlarang. Jangan jangan kau itu pengedar!'
"Jangan berasumsi yang tidak tidak!"
"Trus kenapa dirimu ada di sana?"
"Aku hanya beristirahat sejenak, menghilangkan penatku, setelah perjalanan jauhku. Aku belum beristirahat sama sekali. Biasanya aku langsung membooking kamar hotel untuk beberapa hari jika telah sampai di suatu daerah atau negara. Tapi entah mengapa hari itu aku ingin berhenti dan beristirahat di sana walaupun hanya sejenak."
"Sejenak katamu? Tahukah kau, dirinu itu sudah seperti orang mati karena terlalu sakau akan obat obatan. Tapi saat ku tanya dokter, katanya kau tak apa apa, hanya kelelahan karena perjalanan jauh. ."
"Kau membawaku ke dokter?"
"Iya, untuk diperiksa. Ku pikir dirimu terlibat pesta itu."
"Berani beraninya dirimu memeriksakan aku ke dokter!" ucap Tasya berang.
"Ya itu tadi, kupikir kau sakau. Jadi kuperiksakan ke dokter. Habisnya kau sudah seperti orang mati. Dibawa ke mana mana tetap pulas tidurnya. Untung bertemu dengan kami. Coba jika bertemu orang jahat. Mungkin saat ini kau takkan selamat."
"Terima kasih."
"Kita sudah sampai sekarang. Ayo turun, kita ambil kuda besimu!" Perintah Ryan.
Merekapun keluar dari kendaraan Ryan. Mereka melangkah menuju ruangan Ryan. Di sepanjang jalan para bawahan Ryan memberi hormat kala berpapasan dengan sang konandan.
__ADS_1
Tuts ... Tuts ... Tuts... Ryan mencoba menelpon Edo.
"Assalamualaikum.Wr.wb." ucapnya kala panggilannya telah tersambung dengan Edo.
"Waalaikummussalam.Wr.wb. Iya ada apa komandan?"
"Ke ruanganku sekarang!" Perintahnya.
"Siap komandan,."
Klik.... Sambungan telponpun terputus.
"Dasar komamdan, langsung dimatiin saja." (Edo)
Tok ... Tok ... Tok ...
"Silahkan masuk!" Perintahnya.
"Siap komandan, ada apa anda memanggil saya," ucap Edo saat telah berada dihadapan Ryan.
"Mana kunci kendaraan miliknya nona ini?" ucap Ryan sembari menunjuk raga Tasya yang duduk tak jauh dari meja kerja Ryan.
"Oh kunci, ini kuncinya komandan."
"Terima kasih. Sekarang kau boleh pergi!"
"Saya boleh pergi sekarang?" tanya Edo.
"Iya pergilah. Tugasmu sudah selesai untuk saat ini. Nanti aku akan bertanya tentang laporan yang lainnya. Untuk saat ini cukup ini dulu."
"Baik komandan." Edo berlalu dari ruangan Ryan.
"Ini kunci kuda besimu. Sekarang kita ambil kuda besi mu!" Perintah Ryan.
Di negara A, sang kakek murka saat mengetahui kabar tentang kaburnya sang cucu.
"Ayo cari nonamu sampai dapat. Bila perlu cari hingga ke ujung dunia. Jangan sampai tidak dapat dan tidak ditemukan. Cari hingga dapat. Kalian ini, hanya menjaga satu orang saja tidak becus. Awas saja jika terjadi apa apa dengan cucuku, kalian semua akan mendapat sangsi yang berat," Hardik sang kakek dengan geram ke pada para bawahannya.
"Siap tuan. Akan kami laksanakan tugas dengan semaksimal mungkin."
"Ayo cepat cari. Aku perlu bukti bukan janji saja. Segera cepat temukan cucuku."
"Baik tuan." Para bawahannya segera pergi dari hadapan sang kakek. Untuk mencari keberadaan sang nona, yang menghilang entah ke mana.
"Tasya kamu di mana. Cepatlah pulang, Kakek tidak akan mengurungmu lagi. Cepatlah pulang. Kakek tak memiliki siapa siapa lagi selain dirimu di dunia ini. Cepatlah pulang..." ucap sang kakek, tak terasa setetes kristal bening telah meluncur dari netra tuanya.
"Kakek menyayangimu Tasya, cepatlah pulang ..." ucapnya lirih.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, pavorit, rating bintang limanya ya.
Lupyu all.❤❤😍
Mampir juga ke karya temanku, moga kalian suka
Bersambung.
.
__ADS_1
.