
"Yan, tolong kamu antar Bunga pulang!" Perintah bunda kepada Ryan yang saat itu terlihat di netra bunda.
Dret.... Dret.... Dret....
Ponsel Ryan bergetar, tanda panggilan masuk, saat langkahnya sudah mulai mendekat ke arah bunda dan Bunga berada.
"Maaf bunda, Ryan angkat telpon dulu" Ryan gegas menjauh sembari menggangkat panggilan masuk di smartphone nya.
"Assalamualaikum.Wr.wb." Sapa Ryan saat mulai menerima panggilan telpon masuk.
"Waalaikummussalam.Wr.Wb," jawab suara di seberang panggilan telepon Ryan.
"Iya, ada apa Do, malam malam begini kamu telpon saya?"
"Maaf Ndan, mengganggu aktifitasnya, saya tahu komandan saat ini masih dalam suasana berkabung. Sekali lagi maaf kan saya."
"Iya, katakan saja yang perlu kau katakan. Jangan berbelit belit!" Perintah Ryan.
"Begini Ndan. Tanggal 1 Maret ntar ada kegiatan dalam rangka menyambut HUT ke-19 KBPPPOLRI. Besok koordinasi panitia, setelah rapat koordinasi, agenda dilanjutkan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan. Nah, komandan juga jadi panitianya tu. Tapi sekali lagi Edo minta maaf sudah mengganggu masa berkabungnya komandan."
"Terima kasih Edo atas informasinya. Insya Allah saya hadir pada agenda tersebut."
"Siap komandan. Assalamualaikum.Wr.wb."
"Waalaikumussalam.Wr.Wb." Ryan mengakhiri panggilan telponnya setelah menjawab salam dari Edo. Bergegas langkahnya Ryan ayunkan mendekat ke arah bunda kembali.
"Bunda maafkan Ryan, kayaknya Ryan ga bisa nganter Bunga pulang. Karrna barusan Edo telpon, besok ada agenda HUT KBPPPOLRI sangat urgen. Ryan harus hadir besok di markas ada rapat koordinasinya. Ryan baru inget. Ryan adalah panitia inti. Maafkan Ryan bunda. Ryan harus pergi sekarang. Insya Allah setelah acara selesai, Ryan langsung kemari lagi.Bunda bolehkah Ryan pergi sekarang?"
"Ya pergilah anakku, doa bunda selalu menyertaimu."
"Makasih bunda." Ryan memeluk bunda nya erat di ciuminya seluruh wajah sang bunda, dan punggung tangan kanan bunda juga Ryan cium bolak balik.
Gegas Ryan menghampiri Ana yang saat itu tengah membantu bude Irma beres beres, saat siluet gadis itu terlihat di netra elangnya.
"Bude, Ryan pinjem dulu," ucap Ryan sembari menunjuk Ana.
"Mo berapa lama pinjamnya. Pulangkan dengan utuh ya!" Canda bude Irma.
"Ayo cepetan!" Perintah Ryan pada Ana.
"Mo kemana?" tanya Ana.
"Pulang." Ryan menarik Ana untuk mengikuti langkahnya.
"Tunggu dulu, mo pamit dulu," ucap Ana menghentikan langkah lebar Ryan. "Bude, Ana pamit dulu. Maaf ga bisa bantuin bude ampe kelar," ucap Ana kepada bu Irma.
"Oh ya silahkan An. Ga apa apa kok, masih banyak yang lain bantu beberes. Hati hati di jalan ya An," ucap bu Irma.
"Iya bude, makasih," ucap Ana. Lalu Ana menghampiri bunda dan Bunga yang masih setia berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"Tante Ana mo pamit. Mo pulang sekarang."
"Pulang sama siapa, malem malem kayak gini?" tanya Bunga.
"Pulang sama saya. Karna saya yang membawanya dan saya juga yang harus mengembalikannya. Benerkan bunda, begitu pesan bunda kemaren kan. Jadi sekarang Ryan laksanakan perintahnya bunda," ucap Ryan tiba-tiba hadir dari belakang Ana.
"Iya, hati hati di jalan An. Ryan jangan ngebut ya." Pesan bunda.
"Iya bun, kami pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Ryan lalu berlalu dari hadapan bunda dan Bunga. Tak lupa ia memberi perintah pada Ana untuk segera mengikutinya.
"Waalaikummussalam.wr.wb," ucap bunda.
"Kalau begitu Bunga juga langsung pamit saja tante," ucap Bunga, untuk apa juga dia lama lama berada di sana, sedangkan orang yang diharafkannya sudah akan pergi berlalu.
"Iya, hati hati di jalan ya."
"Iya tante terima kasih. Assalamualaikum," ucap Bunga.
"Waalaikummussalam.Wr.Wb," jawab bunda.
"Mengantarku tak mau, giliran bule nyasar itu. Tanpa disuruh langsung dia antar. Ada apa sih dengan kamu Yan? Tak biasanya kamu begini. Akrab dengan orang asing, cewek pula." Monolog bunga dalam hati.
...///********///...
Di tempat lain Ivan masih terus mencari keberadaan Ana. Tapi belun ketemu juga. Sudah berbagai cara dilakukan Ivan, tapi tidak satupun yang membuahkan hasil. Pencariaan Ana tetap nihil hasilnya.
Dret.... Dret.... Dret....
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Ivan dengan nada suara galau.
"Ini benar dengan saudara Ivan?" tanya suara di panggilan masuk.
"Iya, saya sendiri. Kalau boleh tahu ini siapa ya, tahu nomor saya dari siapa?"
""Saya Alex." Suara di seberang sana menyebutkan namanya.
"Alex... Alex, Alex yang mana ya?" Ivan mencoba mengingat ingat sosok Alex.
"Tempo hari kau dan Ana datang ke acara ulang tahun ku di clubXX." Alex menjelaskan siapa dirinya kepada Ivan.
"Oh iya, Alex yang itu. Maaf ya tidak dapat mengenali suaramu. Ada yang bisa saya bantu Lex?" tanya Ivan.
"Aku mo tanya kenapa nomor Ana yang kau beri tempo hari tidak bisa dihubungi alias diluar jangkauan?"
"Oh, HP nya sedang diperbaiki." Ivan menjawab dengan cepat pertanyaan Alex.
"Bisa saya berbicara dengan Ana sekarang?"
"Maaf Ana nya sedang keluar kota. Jika ada hal yang penting, beritahu saya saja. Nanti saya sampaikan. Saat Ana kembali nanti."
__ADS_1
"Saya mengundang Ana untuk balapan dengan saya esok malam. Saya tunggu kehadirannya. Jangan tidak datang. Tempo hari Ana telah menerima undangan saya."
"Ok, nanti saya sampaikan."
"Terima kasih. Saya tunggu kehadiran kalian!"
"Sama sama. Sampai jumpa lagi di arena balap."
"See you next time."
Klik.... Terdengar Alex mematikan sambungan teleponnya.
"Belum juga dijawab, udah mati aja nih ponsel. Dasar ga ada akhlak nih yang nelpon. langsung main matiin." Ivan menggomel prustasi kala Alex langsung mematikan panggilannya tanpa aba-aba.
...///*******///...
"Ayo buruan masuk, jalan saja lelet dari tadi ga nyampe nyampe!" Ryan mengomel saat melihat langkah Ana yang slow.
"Bawel banget nih orang. Ga tahu apa susah mo jalan cepat, kalo bedaster kek gini. Bisa teserimpetkan. Eh, tunggu, bedaster...! Ya ampun, aku sekarang masih pake daster bundanya Ryan. Alamak, pulang bedaster ini. Aish...." Ana bermonolog dalam hati sembari menampol jidatnya.
"Eh buruan, malah berenti lagi di situ."
"Iya bawel banget sih." Ana bergumam kecil, tapi suaranya masih bisa terdengar jelas di indra pendengarannya Ryan.
"Kamu ngomong apa?" Ryan bertanya dengan muka jutek.
"Ga ada," jawab Ana cepat. Takut singa ngamuk.
Ryan mulai menstarter kendaraannya dan melajukannya di jalanan, saat di rasa Ana telah duduk dengan aman di tempatnya. Kendaraan Ryan melaju membelah hitam pekatnya malam.
Ryan harus bergegas agar segera sampai di tempat tujuannya sebelum matahari terbit di ufuk timur.
...///*******///...
note.
KBPPPOLRI : Keluarga Besar Putra Putri Polri.
...///*******///...
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan votenya ya guy's. Lupyu allβ€
Bunga dan kopi nya juga boleh kalo tak keberatan.πβ€π
Bersambung.
.
.
__ADS_1