
Ruan menggelar sajadahnya menghadap kiblat. Ia berdiri diatas sajadah akan segera memulai shalat Subuhnya.
"Kamu tidak shalat?" Tanyanya terhadap raga yang berdiri di sampingnya. Pemilik raga menggelengkan kepalanya.
Setelah mendapat jawaban dari pemilik raga tersebut. Ia pikir mungkin sang pemilik raga ramping yang berdiri di sampingnya sedang mendapatkan tamu bulanannya. Ryan menyegerakan pelaksanaan shalat subuhnya. Ryan mulai membaca niat lalu menggangkat takbiratul ikhram.
"Allahu Akbar." Ucapnya lalu meletakkan tangan kanannya di atas perutnya. Sedangkan tangan kirinya ia biarkan menggantung di samping tubuhnya bersama borgolnya.
Ryan mulai membaca Surah Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca surah pendek. Suaranya terdengar merdu dan menyayat hati sehingga menggetarkan jiwa sang pemilik raga yang berdiri di sampingnya. Setelah selesai membaca surah pendek. Ryan rukuk diikuti sang raga di sampingnya juga ikut rukuk. Pemilik raga ramping berusaha sekuat mungkin tidak menyentuh Ryan. Karena peristiwa saat tadi berwudhu, mereka tak sengaja bersentuhan, berakhir Ryan harus mengulang wudhunya.
Saat sujud raga tersebut juga mengikuti Ryan sujud. Setiap gerakan dalam shalat yang dilakukan oleh Ryan diikuti balik oleh raga tersebut. Hingga gerakkan terakhirpun yaitu duduk tahiyat akhir dan salam pun diikutinya.
"Setelah salam Ryan memulai membaca doa. Terdengar lirih di telinganya sebuah suara isak tertahan dari raga yang duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Ryan saat telah selesai shalatnya. Dan mengembalikan sajadahnya ke tempat semula. Hanya gelengan yang Ryan dapat sebagai jawaban dari pertanyaannya.
...******...
Dengan tergopoh gopoh Ivan mendatangi Riki.
"Gawat bang..." Ucap Ivan saat telah berada di hadapan Riki.
"Apanya yang gawat?" Tanya Riki.
"Itu bang.... Ana bang..." Ucap Ivan dengan terbata.
"Itu kenapa. Ada apa dengan Ana?" Tanya nya dengan penasaran.
jAna ke tangkep polisi bang?" Jawab Ivan.
"Bagaimana bisa?" Tanya Riki dengan berang. "Kalian kan selalu bersama. Aku kan memerintahkan kaliam untuk selalu menjaga dan melindungi Ana. Kenapa hal ini bisa terjadi?" Hardik Riki dengan nada tinggi.
"Ampun bang, maaf.... Saat polisi datang. Ana terpisah dari rombongan bang." Jelas Ivan dengan kepala tertunduk.
"Cari tahu, Ana sekarang di bawa ke mana!!!" Perintah Riki.
"Siap bang." Ucap Ivan lalu berlalu dari hadapan Riki.
...******...
Ryan melangkah ke arah sofa yang ada di depannya. Ia duduk di sana, raga ramping tersebut mengikutinya.
"Siapa namamu?" Tanya Ryan dengan nada datar. Masih tak ada jawaban.
"Apa kau bisu. Dari tadi aku terus bertanya padamu namun tidak ada jawaban?" Tanya Ryan kembali. Netra raga di sampingnya mendelik saat mendengar ucapan Ryan.
"Kalau kau masih tak mau berbicara, aku akan menjebloskan mu ke dalam penjara." Ucap Ryan dengan tegas.
"Aku bukan penjahat!!!" Jawabnya cepat.
"Akhirnya kamu bersuara." Ucap Ryan. "Trus kalau kau bukan penjahat berarti kau salah satu komplotan begal yang kami cari?" Tanya Ryan kembali.
"Aku bukan penjahat, dan aku juga bukan begal, aku tak tahu apa maksudmu?" Jawab dan tanya raga ramping itu lontarkan.
"Jika kau bukan penjahat atau komplotan begal. Kenapa kau lari saat kami mengejar mu. Itu artinya kau penjahat, jika takut terhadap kami. Jika bukan penjahat kenapa harus lari?"
__ADS_1
"Sudah aku katakan aku bukan penjahat!!!" Tegas nya kembali.
"Kenapa kau lari, jika bukan penjahat?" Ryan bertanya dengan nada lebih tegas lagi.
"Kalian yang mengejarku." Jawabnya acuh.
"Karna kau yang lari!!"
"Aku tidak lari kalian yang mengejarku. Aku bukan penjahat...!!!"
"Kalau bukan penjahat, trus maksudmu kau adalah perempuan baik baik, begitu..?"
"Ya, kira kira begitulah."
"Mana ada perempuan baik baik berkeliaran di tengah malam, kecuali perempuan jadi jadian..." Ucap Ryan menyudutkan raga tersebut.
"Aku bukan perempuan jadi jadian." Ucap nya dengan berang.
"Kalau begitu sekarang aku periksa, apa benar asli, atau jadi jadian." Ucap Ryan mengancam raga ramping tersebut.
"Awas saja jika kau berani menyentuhku. Ku PATAH kan tanganmu!!!"
"Ha...ha..ha.. Kau ingin mematahkan tanganku. Ingin melawan penegak hukum seperti ku, sudah terbukti kau bersalah, masih ingin mematahkan tanganku. Tidak takut akan terkena pasal berlapis. Melawan, mengancam, dan tidak kooperatif terhadap pihak berwajib..!!" Ucap Ryan tegas dengan nada tinggi.
"Aku tidak takut padamu!!!" Ucap nya dengan berapi api. Dan langsung berdiri, Ia tak menyadari karena ketegangan yang terjadi antara dirinya dengan sang komandan memberikan efek yang sangat serius terhadap lukanya. Darah semakin merembes keluar dengan deras dari sela sela jarinya yang terborgol. Tetesan darah tersebut mengalir mengenai tangan Ryan yang masih terborgol dengan tangannya.
"Tanganmu berdarah, mari aku lihat."
"Apa perdulimu..!!" Ucap nya ketus.
"Maka jangan perdulikan. Dan biarkan aku pergi dari sini. Jika kau tidak ingin aku mati di sini..."
"Mana bisa begitu. Kau lihat keadaan tangan kita sekarang. Bagaimana jika tidak bisa dibuka, maka kita akan selalu bersama sama., SELAMANYA...!!!" Ujar Ryan sedikit menggoda gadis itu. Entah datang darimana tiba tiba timbul ide di otaknya untuk menggoda dan mengerjain gadis itu. Padahal baru beberapa saat mereka bersama.
"Tak sudi aku bersama mu selalu...Najis...!!" Ucapnya sembari membuang wajah cantiknya. "Pasti ada cara lain untuk membuka borgol ini." Ucapnya bermonolog sendiri.
"Kau pikir aku juga mau bersamamu... Jangan harap..." Umpat Ryan..
Raga itu sedikit terhuyung, karena kepalanya yang tiba tiba pusing mendadak. Darah terus mengalir. Dan semakin banyak mengenai tangan Ryan.
"Aku akan melihat luka pun, tidak ada penolakan...!!"Ucap Ryan tegas. Aura kepemimpinannya keluar mengintimidasi si raga cantik. Raga itu terdiam saat melihat aura sang komandan keluar.
Ryan berdiri dari duduknya. Lalu menghampiri Kotak P3K, mengambil beberapa obat dan perban, serta gunting lalu di letakkannya di atas meja.
"Duduk...!!" Perintahnya. Raga cantik itu mengikuti perintah Ryan tanpa membantah. Ryan menggambil gunting.
Sret...Sret...Sret... Ryan menggunting jaket yang dipakai raga cantik itu. Hingga keluka nya.
"Kenapa di robek?" Tanyanya sembari menatap netra elang sang komandan.
"Diam dan jangan bergerak!!" Perintah Ryan kembali. Terlihat luka di lengan mulus tersebut yang sudah berlumuran darah.
"Sepertinya peluru ku tadi mengenai lenganmu. Darah ini harus di bersihkan." Ryan membersihkan luka itu dengan air hangat kuku.
Setelah bersih dari darah. Ryan berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan gadis tersebut. Saat pendidikannya Ryan juga mendapatkan pembelajaran tentang tata cara mengeluarkan peluru disaat mendesak. Setelah peluru berhasil dikeluarkan. Ryan mulai membersihkan darah yang tersisa. memberikan obat untuk menghentikan laju darahnya. Lalu menutup luka itu dengan perban.
__ADS_1
"Sudah selesai...!!" Ucap Ryan. Raga itu menabrak dada bidang Ryan. "Aish... Dia pingsan. Sok sok an kuat. Padahal lemah kek gini." Ryan bermonolog.
...******...
Saat tiba di markas, Edo bergegas mencari kunci borgol. Setelah cukup lama mencari akhirnya Edo berhasil menemukan kunci borgol.
Ia bergegas keluar dari markas, melajukan kendaraannya menuju apartemen sang komandan. Jika tidak segera diantatkan ia takut akan mendapatkan sangsi yang berat dari sang komandan. Atas kesalahannya yang telah salah memborgol. Sehingga tangan sang komandan ikut terborgol.
"Untung, kuncinya ketemu. Bagaimana jika tidak ketemu, bisa habis aku...!!!" Monolog nya dalam hati. Edo terus memacu kendaraannya. Tak berapa lama ia telah sampai di depan pintu apartemen sang komandan. Ia memasukkan kata sandi pada kunci apartemen. Edo sudah terbiasa menginap di apartemen sang komandan sehingga ia mengetahui sandi apartemennya.
Edo mulai masuk ke dalam, dan menutupkan kembali pintu apartemen Ryan. Edo perlahan melangkah masuk. Saat di dalam netranya mulai mengunci dua sosok yang sedang berada di sofa. Yang satu sedang tertidur dalam posisi duduk. Sedangkan yang satu nya lagi sedang tertidur dalam posisi berbaring. Kepala nya berada di atas pangkuan sang komandan. Tangan nya terlihat sudah memakai perban. Tangan mereka masih dalam posisi terborgol bersama.
Ckret... Ckret... Edo mengabadikan moment tersebut. Jarang jarang ia bisa melihat komandannya bisa sedekat ini dengan seorang perempuan. Biasanya komandan nya ini akan bersikap dingin, acuh tak acuh dengan yang namanya wanita. Sang komandan sangat anti terhadap wanita. Tapi saat ini, ia melihat suasana yang berbeda. Apakah gunung es tersebut sudah mulai mencair, fikir edo dalam benaknya.
Kelopak netra sang komandan mulai membuka. Pertama ia mulai melihat ke arah Edo. Dan memberi isyarat agar Edo mendekat.
"Mana kuncinya?" Tanya nya dengan suara sepelan mungkin takut membangunkan raga yang sedang terlelap di pangkuannya.
"Ini, ndan." Edo memberikan kunci borgol tersebut kepada Ryan. Setelah menerima kunci tersebut Ryan mulai membuka borgol yang membelenggu tangannya.
"Alhamdulillah.." Ucapnya dengan suara pelan saat borgol telah berhasil terbuka. Ryan dengan perlahan memindahkan kepala itu ke bantal sofa dengan sangat hati hati. Ryan lalu berdiri dari duduknya.
"Kamu jangan kemana mana. Tetap disini jagain dia. Saya mo bersih bersih dulu."
"Siap komandan.." Ucap Edo.
...*****...
Ryan Samudera
Ivan sang ajudan
...********...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, dan votenya ya..
Satu like komen, dan votenya sangat berarti buat author.
Mampir ya guys ke karya temanku.
Moga kalian suka.
Terima kasih, lupyu all💓
.
.
Bersambung.
__ADS_1