
Setelah lama dengan keheningannya, Tasya akhirnya bersuara. Setelah menimbang beberapa hal yang masuk ke nalarnya. Akhirnya ia berani mengambil keputusan.
"Ok, aku ikut kalian," ucap Tasya pada akhirnya.
"Nah, gitu dong An. Kenapa ga dari tadi. Jadi kita ga bersitegang dengan dirimu," ujar Ivan akhirnya bisa lega, karena Tasya mau ikut mereka pulang ke rumah Cinta.
Mereka segera melajukan kuda besi mereka meninggalkan tempat tersebut.
Tok .... Tok .... Tok ....
"Siapa?" ujar suara di dalam bertanya kepada tamu tak diundang yang bertandang ke rumahnya.
Tak urung sang tuan rumah melangkahkan kakinya mendekati pintu rumah yang masih tertutup rapat.
Krieettt .... Terdengar suara dari pintu yang terbuka.
"Ivan .... Tumben dirimu bertandang kemari. Ada Apa?" tanyanya pada raga yang berdiri di muka rumahnya.
Ivan tak menjawab ia langsung masuk ke dalam rumah. Ada langkah lainnya yang mengikuti langkah Ivan masuk ke dalam rumah. Namun belum di sadari oleh Cinta. Karena soaoknya terhalang raga Ivan.
Tak sadar netra Cinta menangkap pergerakan dari raga yang mengikuti langkah Ivan.
"Anaaa ... " ucapnya histeris. Cinta langsung memeluk erat raga ramping tersebut. Tanpa memperdulikan reaksi sang empunya raga.
"Ke mana saja dirimu ha.... Kakak pikir dirimu telah pergi jauh meninggalkan kami dan tak kembali lagi. Kakak sudah ikhlas, jika kau takkan hadir lagi ke dunia ini. Tapi sekarang kau ada di sini. Kakak bahagia sekali. Jangan pergi lagi An....!" Cinta memeluk raga ramping tersebut dengan erat.
Tasya merasakan jika baju kaos yang ia pakai basah oleh airmata Cinta, saat raga mungil Cinta mendekapnya erat. Wajahnya ia sembunyikan di dada Tasya. Cinta luapkan perasaan sedih dan bahagianya pada raga ramping tersebut.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa damai saat dipeluknya. Padahal baru hari ini kami bertemu?" Tasya membatin dalam hati. Ia membiarkan Cinta memeluknya erat. Bahkan secara refleks tanganya ikut mengelus pundak Cinta.
Ana berdiri di pagar balkon menara kastil tempatnya beristirahat selama ini.
"Sedang memikirkan apa?" tanya raga yang telah melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang ramping Ana.
"Tak ada." Dari suara dan aroma maskulin raga tersebut. Ana sudah dapat mengetahui raga siapa yang sedang memeluk raganya saat ini.
"Lalu kenapa berdiri di sini, seolah sedang banyak pikiran?"
"Kau sedang berpuasa, kenapa memelukku. Nanti bisa batal puasamu?" tanya Ana tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Chris, dan netranya masih tetap fokus memandang ke depan.
"Takkan batal, hanya karna aku memelukmu."
"Benarkah begitu?"
"Iya .... Aku hanya memelukmu, tanda aku sayang padamu. Tenang aku bisa mengendalikan hawa nafsuku. Jika sedang berpuasa?"
"Benarkah?" tanya Ana, dan membalik raganya menghadap Chris.
"Iya benar sayanglu," jawab Chris seraya mencubit hidung mancung milik Ana.
"Awh ... Sakit, katamu kau menyayangiku. Tapi kenapa sekarang kau telah menyakitiku. ini namanya sudah termasuk tindakan KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ). Kau bisa di tuntun!" Peringat Ana pada Chris.
__ADS_1
"Ha.... Ha.... Ha.... Kau lucu sayangku. Masak hanya mencubit hidungmu. Sudah tergolong tindakan KDRT. Ga masuk akal," jawab Chris dengan lugas.
"Emang Jin juga menggunakan akalnya?"
"Iya punyalah kami akal. Masa golongan manusia saja yang memiliki akal. Kami bangsa Jin. Bahkan lebih pintar dari kalian."
"Yakin?"
"Yakinlah masa ga yakin."
"Serius?"
"Seriuslah .... Jangan menggodaku yaa. Ingat aku sedang berpuasa!"
"Siapa juga yang sedang menggodamu. Kayak ga da kerjaan saja. Lagian dari tadi situ kan yang dekat dekat ama saya."
"Eh, manggilnya kok kayak gitu. Situ .... Situ apa?" tanya Chris.
"Situ. Dirimulah maksudnya?"
"Kok manggilnya kek gitu sih, sayangku?"
"Trus, mo di panggil apa. Ga mungkinkan dipanggil kucing!"
"Ha.... Ha.... Ha ... Ga gitu juga kali!"
"Trus mo panggil apa?" tanya Ana dengan mode malas.
"Sayang kek, Suamiku kek, Baby, Dear, Honey, trus apalagi ya..?" tanya Chris seolah sedang berpikir.
"Kenapa ga sekalian pake kamus bahasa Jin yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indoneaia dengan PUEBI yang baik dan benar." Chris menjawab sambil tertawa.
"Emang ada?" tanya Ana dengan raut wajah heran.
"Ada, ntar ku suruh pustakawanku yang membuatnya. Mo kelar sekarang juga bisa kok. Apa sih yang tidak bisa buat Ayangnya Chris, dengan catatan jangan panggil situ lagi atau apapun itu. Tapi panggilah dengan kata kata yang romantis ya.... " ucapnya narsis.
"Kalau ga mau gimana. Enak manggil Situ!"
"Ok lah, Terserahlah panggil apa, asal jangan Situ!" Akhirnya Chris pasrah Ana akan memanggilnya dengan sebutan apa.
"Baiklah aku akan panggil kamu dengan kata yang bagus. Bagaimana kalau .... Suamiku?"
"Ok, boleh juga," jawab Chris sumringah, karena sudah mendapat panggilan sayang dari orang tersayangnya.
"Suamiku ....!" Panggil Ana dengan suara merdu semerdu dan selembut ice cream. Melumer di hati.
"Iya ada apa istriku?"
"Aku ada sebuah permintaan!"
"Apa itu?" tanya Chris dengan wajah seriusnya.
"Bolehkah aku pulang ke duniaku. Entah kenapa aku teringat dengan kak Cintaku sekarang!"
__ADS_1
"Kalau tidak boleh, bagaimana?" tanya Chris balik.
"Please .... Ku mohon kabulkan inginku. Aku sangat rindu dengan kakakku itu. Aku berjanji akan melakukan apapun yang kau inginkan, jika kau mengabulkan inginku ini!"
"Benarkah, kau akan mengabulkan apapun yang kuinginkan?" ucap Chris sembari tersenyum penuh arti.
"Iya, jika aku mampu!" ucap Ana tegas tanpa keraguan.
"Baiklah aku kabulkan inginmu," jawab Chris pada akhirnya.
"Benarkah kau mengabulkannya?" Chris hanya mengganggukkan kepalanya sebagai tanda ia menyetujui inginnya Ana.
Ana segera memeluk raga tegap itu secara refleks. "Terimakasih...." ucapnya dengan mata berbinar bahagia.
"Jangan melakukan hal seperti ini. Nanti aku malah tak bisa melepaskanmu pergi,"
Ucapan Chris menyadarkan Ana dengan perbuatannya saat ini.
"Maaf," ujar nya tersipu. Semburat merah jambu menghiasi wajah cantiknya.
"Kenapa minta maaf. Aku malah senang jika kau berinisiatif untuk memelukku terlebih dahulu."
"Itu sih maumu, dasar modus," ucap Ana sembari melepaskan peluklannya pada raga tegap sang suami.
"Ga apa apakan modus sama istri sendiri."
"Dasar Jin me"sum*es," ucap Ana mengejek sang suami.
"Me*su*mes ama istri sendiri. Ga apa apakan. Malah dapat pahala. Daripada aku me*sumnya ama orang lain. Iya ga?"
"Iya ... Iya .... Iya .... Terserah dirimu. Kau yang Rajanya. Suka sukamulah membuat peraturan, ga ada juga yang berani membantah semua perintah dan inginmu."
"Ha .... Ha .... Ha ... Nah itu tahu, jadi ga perlu dijelaskan lagi ya.," ucap Chris dengan tersenyum jahil.
"Jadi kapan sayangku akan kembali ke dunia manusia?" tanya Chris lebih lanjut
"Sekarang ... " ucap Ana tegas.
"Sekarang .... !" Beo Chris.
"Iya sekarang," jawab Ana mantap.
"Tapi sayangku lagi puasa sekarang? Gimana kalau setelah habis berbuka?" Tawar Chris.
Bersambung.
.
.
__ADS_1
.