
"TASYAAAAAA.... " Ana berteriak dengan sangat kencang dan histeris dalam tidurnya, raganya berguncang hebat. Hal ini membuat Chris langsung terjaga dari tidurnya yang lelap.
"Honey, kamu kenapa?" tanya Chris sembari menenangkan raga Ana yang berguncang hebat, tetapi netranya masih terpejam dengan rapat.
"Honey kamu kenapa?" Chris kembali berucap sembari berusaha membangunkan Ana dari tidurnya.
Beberapa Kali Chris berusaha membangunkan Ana, tetapi Ana tetap tak mau bangun dari tidurnya.
"Tak ada pilihan lain, aku harus masuk ke alam mimpimu, dan segera membawa ruh mu pulang honey." Chris bermonolog beberapa saat kemudian Chris telah menghilang dan mulai memasuki alam mimpi Ana. Saat telah melihat ruh Ana, segera ia bawa pulang kembali pada raganya.
"TASYAAAA...." Ana kembali berteriak histeris, dan terjaga dari tidurnya yang gelisah. Saat netranya terbuka, Netra elang sang suami menatapnya dengan intens, penuh tanda tanya dan tersirat rasa khawatir yang mendalam pada sorot mata itu. Ana segera memeluk erat raga tegap tersebut.
"Ada apa?" tanyanya dengan lembut.
"Tasya.... Tasya....!" ucap Ana berulang kali.
"Minum dulu!" Chris memberikan segelas air putih pada Ana. Ana segera menimum air tersebut. "Tenangkan dirimu!" Perintah Chris lebih lanjut. Ana berusaha untuk tenang dan menetralkan kembali degup jantungnya. Mengatur laju napasnya dengan teratur.
"Ada apa dengan Tasya?" tanya Chris saat menyadari kondisi Ana saat ini mulai tenang.
Ana menatap netra elang sang suami, namun belum juga ada kalimat yang terucap dari bibir mungilnya.
"Ada apa dengan Tasya, honey?" ucap Chris dengan perlahan Dan lebih lembut lagi.
"Tasya.... Di dalam tidurku aku melihat Tasya ..." ucap Ana sembari mengatur laju nafasnya. Chris mendengarkan dengan seksama. "Tasya .... Tasya mengalami peristiwa seperti yang ku alami tempo hari!" ucap Ana lebih lanjut.
Chris merengkuh raga ramping sang istri menyalurkan rasa nyaman dan damai. "Tenang, Tasya akan baik-baik saja!"
"Benarkah?" tanya Ana, netranya menatap netra elang sang suami memohon kepastian akan kebenaran ucapan sang suami.
"Ya.... Tasya akan baik-baik saja!" ucap Chris lebih Lanjut.
"Benarkah?" Sangsi dan ragu masih menyelimuti kalbu Ana.
"Ya. Apa perlu aku ke Sana? Melihat keadaannya sekarang?"
__ADS_1
"Ya, bisakah kau melakukannya untukku?"
"Baiklah, apa yang tidak untukmu honey. Nyawapun akan aku berikan, jika itu membuatmu senang!"
"Tidak, aku tak butuh kau berikan nyawamu. Anakmu belum melihat wajahmu. Aku hanya ingin tahu keadaan Tasya saat ini. Itu saja tidak lebih! "
"Baiklah, aku pergi sekarang!"
Seketika raga Chris telah menghilang bersama hembusan angin.
"Aku belum bilang hati-hati, Dia sudah menghilang begitu saja!"
"Ingat Honey, aku bisa mendengar setiap ucapanmu!" Suara Chris menggema Di dalam kamar Tasya.
"Iya, hati-hati. Dan cepat kembali!" Hanya semilir angin yang menjawab ucapan Ana.
"Di mana Ambulance nya?" Tanya sang komandan lagi.
Tak berapa Lama suara sirene Ambulance telah terdengar semakin mendekat.
"Nah, itu ambulance nya sudah datang, Ndan!" Seru sang ajudan.
Dengan segera ia membawa raga tersebut ke dalam Ambulance dengan bantuan para petugas ambulance dan para bawahannya.
Ia tak lagi perduli dan hirau akan tatapan heran dari netra para bawahannya. Yang terpenting saat ini keselamatan raga ramping tersebut. Ia tak ingin kehilangan untuk yang kedua. kalinya.
Chris melihat situasi tersebut tanpa terlihat oleh orang-orang yang ada di sana. Setelah Mobil ambulance pergi menjauh, dan tak terlihat lagi di netranya. Chris menghilang kembali dari tempat tersebut.
Sementara itu Ana menunggu dengan tidak sabar akan kehadiran kembali sang suami ke hadapannya. Saat ia melihat sosok sang suami telah berdiri kembali dihadapannya, beruntun pertanyaan meluncur dari bibir mungilnya.
"Bagaimana keadaan nya? Apakah dia baik-baik saja? Apa ada yang menolongnya? atau mereka membiarkannya saja? Apakah cederanya parah?"
"Tenang Honey, ingat janinmu. Ingat kamu tidak boleh stress dan panik! Jika kamu tetus-tetusan kek gini, akan nempengaruhi janinmu!" Peringat Chris pada Ana.
__ADS_1
"Ya, aku akan mencoba untuk tenang," Ana segera mengatur jalan nafasnya. Setelah dirasa denyut jantungnya berdetak dengan normal. Barulah ia berucap kembali.
"OK, srkarang coba katakan kepadaku! Bagaimana keadaan Tasya di sana, apakah Tasya baik-baik saja? tolong betitahu padaku!" ucap Ana penuh haraf.
"Tasya baik-baik saja! Ia tidak cidera parah hanya pingsan...."
"Pingsan...!" Beo Ana.
"Iya pingsan, tapi s3karang sudah di bawah ke Rumah sakit, untuk diperiksa lebih lanjut!" Jelas Chris.
"Tasya bersama siapa sekarang? Pasti tidak ada yang menjaganya kan? Sama srperti diriku tempo hari?" ucap Ana sedih.
"Tenang Honey, Tasya tak sendirian ada komandan polisi yang menemaninya!"
"Ryan...." Beo Ana.
"Jangan sekali pun kau sebut nama laki-laki laen Honey, aku cemburu... Sangat, sangat cembur!" Chris mengingatkan Ana. Melihat raut wajah sang suami, timbul ide untuk menjahili nya.
"Okay, aku tidak akan menyebut namanya sekali, tapi berkali-kali," ucap Ana, lalu ia pun menyebut nama Ryan berkali-kali.
"Ryan.... Ryan.... Ryan.... Ryan..... Ryan..... Ryan.... dan Ryan," ucap Ana sembari tertawa lebar.
"Honey kamu nakal dan jahil yaa, mau dihukum yaa! "
"Ampun Sayang, jangan hukum saya!" ucap Ana lalu betlari menghindar dari hadapan Chris.
"Awas kamu ya, jangan lari. Ingat janin kita!" Peringat Chris
Namun Ana seolah tak mendengar ucapan dan peringatan dari Chris.
Bersambung
__ADS_1