Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Tok .... Tok .... Tok ...


Terdengar ketukan di daun pintu, pertanda ada orang yang akan bertandang dan sedang berdiri depan muka rumah.


Bayu dan Mutiara berebut akan membukakan pintu.


"Aku dulu yang mo buka," ucap Mutiara berlari ke arah pintu.


"Kakak dulu dek yang akan menbuka pintunya!" Bayu mencoba menghalangi langkah Mutiara, padahal sedikit lagi tangan mungil itu mencapai daun pintu.


"Tidak bisa Mutiara duluan yang dengar ada orang ketuk pintu," ucap Mutiara kekeh.


"Tapi kakak lebih tua, dedek ga sampai membuka kunci yang atas." Sanggah Bayu.


Tasya mendengar ribut ribut kedua saudara itu. Mencoba mendekati mereka.


"Ada apa ?" tanyanya dengan heran.


"Ada tamu kak!" jawab mereka serempak.


"Trus, kenapa ga dibuka pintunya! Kasihan tamunya lama berdiri diluar menunggu pintu dibukakan!"


"Kak Bayu nih, yang menghadang langkah Mutiara kak, jadi Mutiara ga bisa bukain pintu." Lapor Mutiara pada Tasya.


"Apaan, kok malah jadi nyalahin kak Bayu sih. Dedek Mutiara nya saja yang lelet jalannya kak, udah kek siput," sanggah Bayu kembali.


"Sudah sudah, kalo begitu biar kakak saja yang membukakan pintu, kalian kembali ke kamar kalian masing masing, kerjakan tugas sekolah kalian!" Perintah Tasya tegas.


"Baik kak!" Kedua bocah cilik itupun akhirnya berhenti bertengkar, dan mereka melangkahkan kakinya menuju kamarnya masing masing.


Sekarang Tasya yang mengambil alih membuka pintu.


Krieettt ... Terdengar suara pintu terbuka.


"Kamu ....!" ucap Tasya kaget, saat melihat sosok siapa yang telah berdiri di hadapannya sekarang.


"Assalamualaikum ..." Raga tersebut memberi salam kepada Tasya.


"Waalaikummussalam. Wr. Wb." jawab Tasya.


Raga tersebut terpaku saat mendengar Tasya menjawab salamnya.


"Kenapa diam, ada yang salah?" tanya Tasya mengagetkan raga tersebut.


"Oh tidak. Aku hanya heran baru kali ini kau menjawab salamku. Biasanya tidak pernah," ucapnya.


"Oh ku kira apa. Ayo silahkan masuk tuan ..." Tasya mencoba mengingat nama sosok tersebut.


"Ryan ..." jawab Ryan cepat.


"Ok tuan Ryan silahkan masuk!"

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Ryan lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah sederhana tersebut.


"Silahkan duduk, tuan Ryan!"


"Terima kasih," ucap Ryan.


"Ada apa sebenarnya maksud kedatanganmu kemari?" tanya Tasya langsung tanpa basa basi.


"Sekarang aku sedang berbicara dengan siapa? Ana atau Tasya?"


"Tasya, tapi jika kau ingin memanggilku Ana juga tidak apa apa. Kak Cinta dan kedua saudaranya memanggilku Ana, tapi jangan bilang pada mereka jika aku Tasya."


"Ok baiklah nona Tasya. Kenapa kau tidak jadi balik ke negaramu? Dan kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ryan beruntun.


"Nanyanya satu satu dong. Sudah kek penjahat yang lagi di interogasi," ucap Tasya terkekeh, sifat bengalnya muncul kepermukaan.


"Oh maaf ...., kenapa kau tak jadi balik ke negaramu?" tanya Ryan.


"Rombongan Ivan mencegat ku di jalanan, dan membawaku kemari!" jelas Tasya.


"Dan sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa kau kemari? Kenapa kau bisa tahu rumah ini?" tanya Tasya beruntun.


"Nah sekarang, sepertinya keadaan kita terbalik, sekarang seolah akulah penjahatnya di sini, sedang di interogasi oleh pihak berwajib," ucap Ryan sembari tersenyum, ada rasa nyaman dan nyambung saat dirinya berbicara dengan Tasya. Tidak seperti sosok tempo hari yang terborgol bersamanya. Sosok tersebut terkesan dingin, datar, dan cuek tanpa ekspresi.


"Ha .... Ha ... Ha .... Tasya tertawa terkekeh memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih.


"Maafkan aku tuan Ryan jika keadaannya jadi terbalik sekarang!" Sisa sisa tawanya masih menghiasi raut wajahnya yang cantik.


"Baiklah, aku kemari hanya ingin mengembalikan kalung ini," ucap Ryan seraya mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya dan menyerahkannya kepada Tasya.


"Ini ....! Kau dapat darimana?" tanya Tasya kaget dan ada nada kemarahan dalam setiap tanyanya yang ia lontarkan.


"Itu, miliknya Ana, Tak sengaja terjatuh di rumahku, saat kami berkunjung ke rumahku!" jelas Ryan. "Sekarang aku kembalikan kalung ini padamu."


Tasya mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Ternyata sebuah kalung juga yang ia keluarkan. Ia lepaskan kalung tersebut dari leher jenjangnya.


"Lihatlah ini," ucapnya sembari menyerahkan kalung tersebut kepada Ryan.


"Ini sama dengan kalung Ana." Gumam Ryan sembari memperhatikan detail bentuk kalung tersebut yang terdapat inisial nama Anastasyai.


"Eh ... Ada tamu yaa...!" ujar Cinta yang tiba tiba sudah hadir di ruangan tersebut.


Tasya segera menyimpan kedua kalung tersebut ke dalam saku bajunya. Bukan apa apa, ia hanya ingin menghindari berbagai pertanyaan yang timbul jika Cinta sampai melihat kedua kalung tersebut. Cinta akan curiga tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Biarlah Cinta hanya mengenalnya sebagai Ana bukan Tasya.


"Siapa tamu nya Ana, kok ga di kasih minum," ucapnya sembari mendekati kursi tamu.


"Eh iya kak, ini juga mo diambilkan," Tasya mulai beranjak dari duduknya, hendak melanjutkan melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum dan beberapa cemilan lainnya.


"Eh ... Tak usah repot repot Ana!"


"Tidak repot kok, hanya air putih. Tunggu sebentar ya." Ana melanjutkan langkahnya. Dan digantikan oleh Cinta menemani sang tamu.

__ADS_1


"Oh ternyata pak polisi, yang tempo hari mengantar Ana pulangkan?" tanya Cinta kala menyadari siapa tamu yang saat ini sedang bertandang ke rumahnya.


"Iya kak. Perkenalkan nama saya Ryan. Panggil saja Ryan ga perlu panggil dengan sebutan pak Polisi. Karena saat ini saya sedang tidak bertugas."


"Tidak bisa begitu, ga enak lha kalo hanya manggil Ryan saja!"


"Ga apa apa kak, cukup Ryan saja!"


"Baiklah kalau begitu." ucap Cinta sembari tersenyum.


Sesaat kemudian Ana telah kembali dengan membawa air putih dan beberapa cemilan. Kemudian ia tata di atas meja.


"Silahkan di minum dan cicipin cemilannya, itu buatannya kak Cinta, rugi lho, kalo sampai ga dicicipin. Cemilan buatan kak Cinta enak banget" ucap Tasya sembari tersenyum manis. Ia kembali duduk di tempatnya semula


"Ah biasa saja. Itu yang bikin sebenarnya Ana, kakak hanya bantu bantu saja. Silahkan di makan Yan!"


"Terima kasih kak," jawab Ryan.


"Oh iya, Ada apa Ryan kemari?" tanya Cinta.


"Oh itu kak, kebetulan tadi Ryan bertandang ke rumah teman Ryan yang ada di sekitar sini. Trus tak sengaja melewati rumah ini, jadinya Ryan mampir bentar." Ryan memberi penjelasan yang masuk akalnya Cinta.


Tak lama waktu berselang, akhirnya Ryan pamit undur diri dari rumah Ana.


"An, sepertinya pak polisi itu suka deh sama kamu?"


"Ah ga mungkinlah kak, mana mau dia dengan gadis biasa seperti kita ini."


"Tapi saat kakak perhatikan cara dia menatapmu beda lho An!" ucap Cinta menggoda Tasya.


"Ah biasa saja kak, ga ada yang beda!"


"Itu menurutmu, tapi menurut kakak beda. Gini ya, bolehkan jika kita berandai andai?" tanya Cinta kepada Tasya. Dan dijawab anggukan kepala oleh Tasya..


"Seandainya jika dia benar benar suka sama kamu An, bagainana?"


"Ah, ga mungkin kak. Itu hanya perasaan kakak saja."


"Kakak kan bilang seandainya. Jika seandainya benar, bagaimana?"


"Tauk ah, Ana mo istirahat bentar kak!" ucap Ana sembari membawa gelas kosong bekas Ryan minum, dan beberapa cemilan yang tadi ia bawa. Untuk dihidangkan kepada Ryan.


...❤@@@@@@@❤...



Bersambung.


.


.

__ADS_1


__ADS_2