Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Sama Tapi Berbeda


__ADS_3

Ana melangkah keluar kamar yang baru saja ia tempati. Ia mengikuti langkah tegap seseorang yang ia yakinin mungkin raga tersebut adalah salah satu orang kepercayaan di kediaman tersebut.


Langkahnya terayun menuju sebuah meja makan besar dan panjang yang ada di ruangan tersebut. Setelah terlebih dahulu mereka melalui beberapa lorong untuk mencapai tempat tersebut. Raga tersebut segera undur diri, setelah mereka sampai di depab meja makan.


Di meja makan sudah terlihat berbagai makanan yang dapat memanjakan lidah bagi siapa saja penyuka dan penikmat kuliner sedikit pedas.


Seorang kakek yang masih terlihat muda walaupun umurnya sudah hampir satu abad. sedang duduk di kursi paling ujung. Terlihat dari raut wajahnya sisa sisa masa mudanya, membayang di raut wajahnya yang mulai menua.


Ana memperkirakan umur kakek tersebut sekitar umur enampuluhan tahun. Tapi jika di tilik lagi dari raut wajahnya seolah baru berusia lima puluh tahun.


Memang jika harta dan kekayaan akan mampu memanipulasi usia seseorang. Walaupun mungkin usianya sudah satu abad, tapi karna ia hidup bergelimang harta dan kemewahan sehingga usianya bisa tertutupi dengan aura kekayaannya.


"Kemarilah ... " Perintah sang kakek memerintahkan Ana mendekat.


"Kakek telah menyuruh para koki dan chef untuk memasak, semua masakan kesukaanmu. Sudah lama kita tidak makan bersama. Maafkan kakek yang telah sibuk beberapa bulan ini. Duduklah Tasya, apa kau tidak merasa pegal kakimu diajak berdiri terus, sekarang duduklah. Nikmatilah hidangan yang telah tersedia!"


Ana mengikuti perintah sang kakek. Ia mengambil duduk sedikit agak jauh dari sang kakek


"Kenapa dirimu jauh sekali duduknya. Mari ke mari duduk di dekat kakek. Atau kau masih marah dengan kakek. Karena kakek telah mengurungmu?" tanya sang kakek sembari menatap ke dalam netra bening Ana. Sejurus netra mereka bertemu. Terlihat netra tua itu sedikit berkaca kaca, berusaha menahan buliran kristal bening yang akan meluncur dari netra tuanya.


Secepatnya Ana menggelengkan kepalanya, sebagai tanda bahwa ia tidak marah dengan sang kakek. Melihat hal itu sang kakek tersenyum di antara netranya yang masih terlihat berkaca kaca.

__ADS_1


"Terima kasih jika Tasya sudah tidak marah lagi sama kakek. Sekali lagi maafkan kakek ya, telah mengurungmu di kamar mu. Kakek janji, kakek tidak akan mengurungmu lagi. Kau bebas mau ke mana saja, silahkan. Asal jangan lupa untuk pulang kembali ke rumahmu!" ucap sang kakek penuh kasih sayang kepada cucu semata wayangnya. Yang saat itu ia kira adalah Tasya. Tapi sebenarnya adalah Ana.


"Kenapa Tasya dari tadi diam saja? Apakah dirimu sakit?" tanya sang kakek dengan nada khawatir.


"Tidak kek, Ana baik baik saja." jawab Ana dengan cepat.


"Ana, siapa Ana?" tanya sang kakek.


Hening sejenak, Ana menyadari dia telah salah berucap.


"Mati aku, tadi kakek ini memanggilku dengan nama apa ya ... Apa yaa...?" Ana mencoba berpikir di antara heningnya. "Apa donk? Ayo otak ikut mikir dong, jangan lemot...?"


"Ehmm.... Maaf kek, Tasya salah ucap. Ana dalam bahasa Arab artinya saya kek. Maksudnya Tasya tadi adalah saya Tasya baik baik saja," ucap Ana mencoba meralat ucapannya yang sedikit keseleo lidahnya, setelah ia berhasil mengingat nama siapa yang di sebut oleh kakek tersebut.


"Syukurlah jika kau tak apa apa Tasya sayang!" Terdengar helaan napas lega dari raga tua tersebut.


"Iya kek A.. Tasya baik baik saja." Dengan cepat Ana meralat panggilan namanya.


"Ayo makan yang banyak. Kau terlihat sangat kurus Sayang. Apa selama di perjalanan kamu tidak makan. Padahal biasanya makanmu lahap di tempat manapun!" Selidik sang kakek.


"Tasya lagi diet kek, Tasya mencoba berhenat selama di perjalanan."

__ADS_1


"Tumben, cucu kakek diet dan berhemat. Biasanya juga tidak pernah," sang kakek kembali menyelidiki cucunya.


"Ehm... Itu kek, Tasya ...."


"Sudahlah tidak usah dipikirkan, sekarang makanlah yang banyak!" Perintah sang kakek.


"Iya kek ..."


Merekapun mulai makan bersama tanpa suara. Hanya keheningan dan dentingan sendok yang beradu dengan piring menjadi back sound acara makan mereka hingga selesai.


Sang kakek sedikit khawatir, kenapa cucunya sedikit berbeda. Sama tapi berbeda. Biasanya Tasya yang ia kenal terlihat bengal dan bawel. Berbeda dengan sosok di dekatnya saat ini. Raga ramping tersebut terlihat dingin, datar, tanpa ekspresi, tapi tetap elegan dan cantik. Irit bicara dan terkesan kaku. Tapi sang kakek menepis rasa curiganya. Yang penting baginya saat ini cucunya dalam keadaan sehat walafiat. Hanya tetlihat sedikit kurus dari terakhir ia lihat. Ia pikir mungkin efek dari perjalanan jauh yang ditempuh sang cucu, hingga berdampak pada bobot badannya yang terlihat semakin slim.


...❤@@@@@@❤...



Bersambung


.


.

__ADS_1


__ADS_2