Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Di Tangkap Polisi


__ADS_3

Malampun semakin larut saat Ana kembali ke taman kota. Angin berhembus menambah dinginnya suasana. Dingin menyelusup pori pori kulit hingga menusuk ke dalam tulang.


Untungnya Ana mengenakkan jaket hitam, yang dapat menahan raganya dari serbuan hembusan angin malam. Perlahan ia melangkah mendekati sahabat sahabat nya. Yang masih setia berada di sana.


"Udah selesai ikut bang Ken?" Tanya Ivan salah satu sahabatnya sedari kecil.


"Udah, lumayjan dapat buat tambahan ngisi kuota internet." Jawab Ana. "Oiya, bang Riki kemana ya?" Tanya nya balik.


"Bang Riki pergi, katanya tadi ada urusan bentar." Ucap Tiko.


"Oh... Begitu ya.. Gimana planning kita selanjutnya. Apa mo langsung luncuran. Ku lihat tadi di sana udah rame. Hanya kita kayaknya yang belum hadir?" Tanya Ana kepada para sahabatnya. Sahabatnya kebanyakan berjenis kelamin laki laki. Ana tak punya sahabat perempuan. Kecuali kak Cinta dan Mutiara adik asuhnya. Walaupun tak punya sahabat perempuan. Tapi ia tak membenci yang namanya perempuan. Karena ia juga seorang perempuan. Ia hanya berfikir terlalu ribet jika berurusan dengan perempuan. Cukuplah kak Cinta yang bawel dan cerewetnya minta ampun bikin ia pusing tujuh keliling. Tetapi tidak untuk yang lain.


"Ok, kita berangkat sekarang." Ucap Ivan.


:Ok, lets go." Ucap mereka bersama sembari menaiki kuda besinya masing masing. Dan mulai melajukan ke tempat arena balap liar.


...******...


Di markas besar polisi. Seseorang sedang memberikan perintah kepada para bawahannya.


"Malam ini kita lakukan patroli seperti planning kita sebelumnya. Dan jangan lupa untuk menyisiri setiap tempat di sudut kota. Siapa tahu kita mendapatkan apa yang kita cari. Para begal sekarang sudah mulai menunjukkan taring nya. Mari kita berantas sampe ke akar akarnya. Jangan ada yang tersisa. Sehingga masyarakat tidak resah lagi. Jika harus terpaksa keluar malam. Kita sebagai petugas keamanan harus memastikan dan menjaga hal tersebut. Ayo sekarang mari kita bergerak. Semangat..."


"Siap komandan. Siap laksanakan." Ucap para bawahannya.


Mereka bergegas melaksanakan perintah sang komandan. Satu kompi polisi gabungan diturunkan untuk melakukan patroli malam ini.


Ryan Samudra selaku komandan, memimpin secara langsung operasi malam ini.


Mereka mulai melakukan patroli dan menyusuri aetiap sudut kota.Sesuai arahan dari sang komandan.


...******...


Ana dan rombongannya telah sampai di arena balap liar. Hari ini Ana akan bertanding melawan Alex sang juara balap nasional. Entah apa motivasi Alex mengikuti ajang balap liar. Padahal ia adalah seorang pembalap nasional yang namanya telah terkenal hingga ke pelosok negeri. Saat ini pula ia telah merambah ke ajang yang lebih bergengsi yaitu balap yang bertarap internasional. Rencana nya di musim ini ia akan mengikuti Motogp. Mengadu kemampuannya menaklukkan sirkuit dan lintasan balap bersama pembalap profesional lainnya.


Ana dan Alex telah berada di posisinya masing masing. Di susul dengan peserta lainnya, yang juga telah menempati posisinya masing masing.


Brum... Brum.... Brum.... Mulai terdengar deru suara mesin yang di starter siap untuk berlomba.

__ADS_1


Sepuluh.... Sembilan.... Delapan.... Tujuh.... Enam.... Lima.... Empat.... Tiga.... Dua....


Belum selesai aba aba di serukan, sebuah suara yang sang familiar mendarat di indra pendengaran mereka masing masing.


Ngiung... Ngiung... Ngiung... Bunyi sirene mobil polisi terdengar semakin mendekat ke arah balapan liar. Seketika gerombolan balap liar, bubar menyelamatkan diri mereka masing masing. Begitu pula dengan Ana, ia memacu kuda besinya secepat mungkin.


Pihak polisi, saat melihat buruan nya lari kocar kacir menyelamatkan diri. Mereka pun berusaha mengejar gerombolan tersebut. Karena para gerombolan tersebut melarikan diri secara terpisah. Pihak polisi pun memisahkan diri nya juga dalam mengejar buruannya.


Aksi kejar mengejarpun berlangsung. Ryan Samudera selaku komandan, berusaha mengejar buruannya yang paling cepat melaju. Ia pikir mungkin yang ia kejar sekarang adalah ketua komplotan nya. Siapa tahu yang ia kejar mungkin adalah buruan yang ia cari. Saat memikirkan hal tersebut, semakin cepat ia melajukan kendaraan roda empatnya.


"Segera hentikan kendaraan anda, dan menyerahlah. Jika tidak, kami akan menggunakan kekerasan." Ucap Ryan memperingatkan buruannya. Tapi tak di indahkan oleh sang pengemudi. Sang pengemudi tetap melaju dengan kencang. Bahkan semakin cepat.


Doorrr......Peluru melesat meninggalkan selongsong nya. Ryan terpaksa melepaskan sebuah tembakan ke arah sang pengemudi yang sedang ia kejar untuk memaksanya berhenti. Tapi sayang pengemudi dapat menghindari tembakan dari Ryan dengan sangat cantik.


Doorr..... Peluru kembali melesat dari selongsongnya. Ryan kembali melepaskan tembakan kedua. Usaha yang kedua pun meleset. Sang pengemudi masih dapat menghindar dengan cantiknya dari bidikan senjata Ryan.


Ryan akhirnya mencoba untuk lebih fokus membidik buruannya. Saat jarak sudah semakin dekat. Ia lepaskan kembali tembakannya yang ketiga.


Doorr.... Peluru kembali melesat dengan elegan, meninggalkan selongsongnya. "Des..." Terdengar suara tembakannya berhasil mengenai buruannya. Sang pengemudi tetap melajukan laju kuda besinya. Walaupun tangannya sedang terluka. Ia tetap mencoba melajukan kuda besinya dengan sangat cepat, bahkan diatas kecepatan rata rata. 140 km / jam. Batas akhir kecepatannya.


Sedikit lagi ia dapat menghindar dari kejaran pihak yang berwajib. Tiba tiba, seekor kucing hitam melompat ke tengah jalan. Ia mencoba menghindar. Ia membelokkan stangnya supaya tidak menambrak dan melindas tubuh sang kucing. Karena kecepatan yang sangat tinggi, akhirnya kuda besinya membentur badan jalan, ia terlempar dari kuda besinya. Tubuhnya seolah melayang di udara dan terhempas dengan sangat cantiknya di atas rerumputan yang ada di pinggir jalan. Raga tersebut berguling guling sangat jauh dari posisi jatuhnya. Tuhan masih melindunginya dengan menjatuhkan raganya di atas rerumputan. Jika jatuh di atas aspal yang licin. Alamat ia akan menderita luka luka yang sangat hebat. Bahkan mungkin akan patah tulang, maupun gegar otak.


"Haaa.... Ternyata yang kami kejar dari tadi hanya seorang perempuan." Ucap sang ajudan.


"Ayo segera borgol tangannya. Bila perlu kakinya juga diborgol, Biar ia tidak dapat lari lagi." Ucap Ryan yang berdiri di samping buruannya memberi perintah kepada bawahannya.


"Siap laksanakan." Ucap sang ajudan lalu mulai memborgol tangan buruan mereka.


"Lho, kenapa tanganku ikut kau borgol juga Edo." Ucap Ryan.


"Maaf ndan, ga sengaja." Ucap Edo dengan nyengir.


"Ayo lepaskan tanganku. Mana kuncinya?" Tanya Ryan kepada Edo sang bawshan.


Edo mulai mencari cari kunci di semua saku pakaiannya.


"Mana do kuncinya?" Tanyanya lagi mulai gusar.

__ADS_1


"Maaf ndan. Kayaknya ketinggalan di markas." Ucap Edo dengan nyengir.


"Astaghfirullah... Edo.. Edo...." Ucap Ryan sembari mengelengkan kepalanya.


"Tapi lebih baguskan ndan." Ucap Edo asal.


"Bagus apanya?" Tanya Ryan kembali.


"Dia ga bisa kabur lagi. Karena langsung komandan yang menjaga dan mengawasinya." Ucap Edo dengan nyengir kembali.


"Gundul mu, lebih baik. Gimana saya mo pulang. Kalau tangan saya kau borgol begini.."


Pletak.... Ryan menjitak kepala Edo.


"Aduh sakit ndan." Ucap Edo meringis. "Komandan ajak pulang saja sekalian." Jawab Edo kembali dengan asal.


Pletak.... Kembali jitakkan mendarat di kepala Edo..


"Ga mungkin juga kan di bawah ke markas, dalam keadaan komandan juga ikut terborgol. Apa kata dunia." Ucap Edo sembari mengelus kepalanya yang sakit akibat jitakan sang komandan.πŸ˜‚


...******...


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, vote, dan rating bintang limanya ya.


Satu like, satu komen, satu vote, satu rating buntang lima dari kalian sangat berarti bagi author.


Bunga dan kopi nya juga boleh, buat nemani yang lagi terborgolπŸ˜‚πŸ™ƒπŸ˜


Lupyu all.πŸ’“


.


.


Bersambung.


.

__ADS_1


"


__ADS_2