Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Proses Mengurus Jenazah.


__ADS_3

Bunda mendekati sosok tersebut, yang selalu memperhatikan dan mengikuti setiap gerak dan langkah putranya.


"Kamu ga capek, ngekori Ryan mulu?" Tanya sang bunda saat telah berada di dekatnya.


"Ehmm... Ma..Ma..Maaf tante... " Ucapnya terbata. Lalu menundukkan kepalanya. Ia berdiri mematung, bingung mo melakukan apa.


"Ryan sibuk, lebih baik kamu tidak usah ngikutin Ryan dulu!" Ucapnya memberi perintah.


"Baik tante," Ucapnya.


"Kamu kemari bersama Ryan?" Tanya sang bunda. Dan mendapat jawaban anggukan kepala dari sosok tersebut. "Nama kamu siapa?" Tanya sang bunda lagi.


"Nama saya Ana tante." Jawabnya.


"Bentar lagi akan dimulai proses mengurus jenazah ayahnya Ryan. Kamu mo ikut shalat jenazah?" Tanya sang bunda.


"Baju saya kotor tante, saya tidak ada baju ganti,"


"Kalo begitu kamu ngikut tante bentar!" Perintahnya.


"Baik tante." Ana mengikuti langkah sang tante yang ia sendiri belum tahu siapa orang yang sedang diikutinya sekarang.


"Ayo masuk." Ucapnya memerintahkan Ana masuk ke sebuah kamar. Mungkin tante ini pemilik kamar tersebut pikir Ana, sembari langkahnya terus mengikuti langkah beliau.

__ADS_1


"Ini pakailah." Ucap bunda Ryan memberikan beberapa setel pakaian. "Moga saja muat ya. Pilihlah yang kamu suka." Ucapnya kembali sembari tersenyum lembut. Entah mengapa Ana merasa nyaman berada bersama beliau.


"Maaf tante, tapi Ana juga belum mandi." Ucap Ana jujur. Bunda Ryan tersenyum kembali kala mendengar jawaban jujur Ana.


"Oh, kalau begitu kamu mandilah dulu. Itu di sana kamar mandinya." Ucap bunda sembari menunjuk kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. "Dan ini handuknya." Ucap bunda memberikan handuk kepada Ana. "Eh, tunggu dulu An, ini perlengkapan dalam jika kau juga ingin ganti. Tenang ini semua belum pernah tante pake. Entah tante kenapa suka sekali membeli barang barang ini berlebih. Tapi alhamdulillah sekarang bisa ke pake, moga saja muat ya. Tante tinggal dulu. Di depan pasti sudah banyak tamu yang datang melayat."


"Terima kasih tante, tante baik sekali." Ucap Ana menatap netra sayu di hadapannya yang terlihat sedikit membengkak karna terlalu banyak menangis.


Bunda kembali tersenyum saat mendengar ucapan Ana. "Ayo buruan mandinya, tante keluar dulu, nanti Ryan nyariin tante." Ucapnya. Beliau lalu keluar meninggalkan Ana yang akan mulai bersih bersih.


"Baik tante." Jawab Ana sembari menatap pumggung bunda yang telah menghilang di balik pintu. Ana menyegerakan acara bersih bersihnya.


Setelah selesai bersih bersih, Ana pun keluar menuju ruang utama di mana semua orang telah berkumpul. Ana menghampiri bundanya Ryan, dan duduk di samping beliau, saat telah mendapat perintah dari bunda nya Ryan.


Dalam hal proses mengurus jenazah sang ayah. Ryan lah yang memimpin. Mulai dari proses memandikan, mengkafanin, menshalatkan, dan menguburkan jenazah sang Ayah berada di bawah komandonya.


Walaipun pada saat memandikan Ryan di bantu oleh seorang bilal, tapi tetap ia yang memimpin. Ia adalah anak laki laki sang ayah, bahkan hanya satu satunya. Sehingga Ryan berkewajiban untuk memimpin setiap prosesnya.


Terkadang di masyarakat setiap proses mengurus jenazah di bebankan seluruhnya kepada sang bilal. Karena ketidak tahuan anak anak nya dalam hal mengurus jenazah. Sang anak hanya menjadi penonton, tanpa mau ikut andil dalam hal memandikan, mengkafani, menshalat, dan menguburkan jenazah orang tuanya. Apalagi jenazah sanak saudaranya dan handai taulannya.


Anak anak muda sekarang lebih paham dengan dunia pergadjetan, jika diajak berbicara masalah game dan media sosial, mereka sangat paham jika berhubungan dengan gawai tipis nya. Namun jika di ajak berbicara masalah agama terutama dalam hal mengurus jenazah, memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan, mereka tidak tahu sama sekali. Hanya beberapa gelitir saja dari mereka ada yang tahu tentang hal itu, selebihnya tidak.


Berbeda dengan Ryan, sang ayah selalu mendidiknya dengan keras apalagi menyangkut ilmu agama. Dulu saat ia berumur tujuh tahun, tidak mau diajak ayahnya shalat. Maka ia akan mendapat hukuman rotan dari sang ayah.

__ADS_1


Ayahnya mengajarkan nya berbagai ilmu agama, bahkan ia di masukkan sang ayah ke pondok pesantren guna menimbah ilmu agama lebih banyak lagi. Ayahnya selalu berpesan padanya, jika nanti ayahnya terlebih dahulu di panggil Sang Maha Kuasa. Ayahnya ingin agar seluruh proses mengurus jenazah beliau semuanya dilakukan oleh Ryan.


Ryan berusaha untuk tegar dalam setiap prosesnya. Walaupun ia seorang komandan polisi namun jauh dilubuk hatinya yang terdalam ia juga merasa sangat kehilangan. Seolah separuh dunianya ikut pergi. Ryan berusaha keras menahan tetesan airmatanya agar tidak jatuh ke bumi. Ryan sadar setiap yang bernyawa pasti mati, sebagai mana Firman Allah Swt di dalam kitab suci Alquran "Kullu Nafsin zaaiqotul maut." Setiap yang bernyawa pasti mati. Kematian itu pasti datangnya kepada setiap insan yang bernyawa. Hanya waktunya saja yang berbeda beda. Kita semua mununggu akan saat itu tiba. Dan apabila saat itu telah tiba, semoga kita semua telah siap menerimanya. Semoga kita semua meninggal dalam keadaan yang baik, dan semoga diakhir hayat kita semua bisa melafazkan kalimah LAAILAH HAILLALLAH. Aamiinn..


Sepanjang jalannya proses mengurus jenazah sang ayah, Ryan tak menyadari jika ada sepasang netra bening yang selalu memperhatikan setiap gerak gerik dan perbuataan yang Ryan lakukan. Ia memandang penuh takjub kepada sosok Ryan.


...///******///...


Sudah beberapa hari ini Ivan galau, semenjak Ana menghilang di saat menghadiri undangan pesta ulang tahun yang di gelar Alex di ClubXXX.


Ivan jadi bahan samsaknya Riki dan Ken, karena ketidak becusannya dalam menjaga Ana. Di tambah lagi kak Cinta yang marah besar kepadanya. Kak Cinta mengancam jika Ivan harus mencari Ana hingga ketemu. Kalo tidak ketemu, jangan haraf Ivan menampakkan lagi diri di depan batang hidungnya. Begitu juga Riki dan Ken yang mengancam Ivan harus mencari Ana hingga ketemu. Dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apapun.


"Ana... Di mana kamu An. Di mana aku harus mencari mu. Seluruh pelosok kota ini telah ku telusuri, bahkan setiap sudutnya pun tak terlewat oleh ku. Tapi masih juga tak menemukanmu. Di mana sebenarnya kamu An.. Ana... Kamu di mana.. Aku bisa koid An, kalo kamu ga ketemu...!!!" Ucap Ivan prustasi.


...///******///...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys berupa Like, vote, dan komennya. Yang BANYAK - BANYAK ya guys... lupyu all.


Bunga dan kopinya juga boleh..


Satu like komen dan vote dari kalian begitu berarti buat othor, apalagi kalo banyak banyak tambah lupyu deh..😍😎😊🤣😂


Jangan lupa mampir juga ya man teman di karya temanku.

__ADS_1



__ADS_2