
Di sebuah kota yang terkenal sejuk dan Asri, seorang pemuda sedang termenung dalam kesendiriannya.
"Yan, mana gadis yang tempo hari bersamamu?
Kenapa tidak kau ajak kemari lagi?" tanya sang bunda memecah lamunan sang putra semata wayangnya.
"Gadis ....! Gadis yang mana bun?" tanya sang putra bingung akan pertanyaan sang bunda.
"Itu lho, gadis yang tempo hari kau ajak. Saat pemakaman ayahmu tempo hari!" ucap sang bunda. "Siapa ya namanya .... A ... A ... Ana, iya namanya Ana," ucap bunda kembali sembari mengingat ingat nama sang gadis.
"Oh, Ana maksud bunda?"
"Iya Ana, trus siapa lagi. Memangnya ada gadis lain yang kau ajak kemari selain dirinya. Semenjak kau putus dengan Bunga, karena Bunga menikah dengan laki laki lain, saat kau masih dalam masa pendidikanmu. Tidak ada gadis lain yang kau ajak kemari. Kecuali gadis itu, Ana maksud bunda., jadi bunda pikir dia adalah kekasihmu, calon menantu bunda. Bunda kok kangen sama dia ya, Yan!"
"Ana itu hanya teman Ryan, bunda. Beberapa bulan yang lalu ia dinyatakan telah tiada dalam insiden kecelakaan yang merengut nyawanya ..."
"Innalillahi Wa Inna Ilaihi rojiun, jadi dia sudah meninggal dunia Yan! Bunda turut berduka atas kepergiaannya. Kamu yang sabar ya... Insya Allah kamu akan menemukan jodoh terbaikmu. Bunda yakin itu," ucap bunda memotong perkataan Ryan.
"Enggak begitu juga bun. Ryan kan belum selesai, udah bunda potong. Kalau main potong di jalanan bisa kena tilang bun!" Cengir Ryan.
"Jadi kamu mau menilang ibumu sendiri ya!"
"Nggak la bun, mana Ryan berani. Entar jadi anak durhakim pula."
"Syukurlah kalau sadar diri, trus gimana kisah kelanjutannya si Ana. Meninggal atau tidak?"
"Alhamaulillah, Ryan bertemu dengan dia beberapa waktu yang lalu secara tak sengaja. Dan Alhamdulillah Ana masih hidup sekarang bun," jelas Ryan.
"Trus kenapa tidak kamu ajak kemari. Tuh pakaiannya yang tempo hari masih ada di sini. Nanti balikkin ya sama dia. Kalo tentang daster bunda yang dipakenya tempo hari. Bunda sudah ikhlaskan buat dia. Hitung hitung nabung ama calon menantu!" Senyum bunda penuh arti.
__ADS_1
"Bunda apaan sih. Ryan sama Ana hanya temenan doang."
"Tidak apa temenan, nanti juga bisa jadi demen. Dari temen jadi demen," Goda bunda.
"Tapi Ryan bingung bun?" tanya Ryan mengalihkan fokus sang bunda yang mulai kepo tentang masalah hatinya.
"Bingung kenapa?" tanya bunda.
"Pas Ryan panggil dia dengan nama Ana. Dia malah ga mau ngaku kalau namanya Ana." jelas Ryan.
"Kenapa ga mau ngaku namanya Ana. Trus namanya dia siapa?"
"Dia bilang namanya Tasya. Tapi mukanya mirip banget bun ama Ana. Apa Ana hilang ingatan ya?"
"Mungkin saja." Sela bunda diantara penjelasan Ryan sang putra semata wayangnya.
"Tapi ia punya surat surat lengkap yang menyatakan bahwa dirinya bukan Ana dan bukan berasal dari negara ini!"
"Asli bun, sudah Ryan cek. Memang seluruh berkasnya asli."
"Trus sekarang kemana tuh gadis yang mirip Ana?"
"Pulang ke negaranya bun. Tasya berasal dari negara A," jelas Ryan.
"Oh, jadi namanya Tasya dari negara A. Trus kenapa kau biarkan dia pergi dan pulang ke negaranya. Kenapa tidak kau cegah?" ucap bunda semangat empat lima mengkompori sang putra.
"Mana mungkinlah Ryan nahan dia buat pulang. Apa alasannya? Lagian Ryan dengan Ana ataupun Tasya hanya teman ga lebih!" Tegas Ryan.
"Kalau hanya teman, kenapa kalungnya Ana masih kau simpan. Tidak dikembalikan sama yang punya?" ucap bunda membuat sang putra terdiam.
__ADS_1
"Entahlah bun. Kenapa kalungnya Ana masih Ryan simpan." ucap Ryan pasrah.
"Berarti ada apa apa nya nih. Bunda selaku ibumu bisa merasakan apa yang sedang engkau rasakan saat ini. Feeling seorang ibu itu kuat lho Yan, jika telah menyangkut prihal putra putrinya. Apalagi bunda hanya punya dirimu. Otomatis segala perhatian dan kasih sayang bunda tercurahkan hanya padamu seorang. ditambah lagi sekarang ayahmu sudah tiada. Jadi fokus bunda saat ini hanya padamu putra bunda."
"Saran bunda, jika memang hatimu telah terpaut padanya, dan kau merasa nyaman bersamanya. Kejarlah ia. Ke manapun ia pergi. Bunda merestuimu. Jangan sampai kau kecewa untuk yang kedua kalinya. Setelah kehilangan Bunga."
Bunda lihat dan perhatikan Ana itu gadis yang baik Yan. Walaupun dandanannya sudah seperti preman pasar. Tapi bunda lihat hati dan tingkah lakunya welas asih dan penurut. Rendah hati, tapi tidak minderan. Ana gadis yang baik. Terbukti ia mau memakai pakaian yang bunda berikan, walaupun tidak sesuai style nya, tapi tetap ia pakai karena menghormati bunda." Bunda membayangkan raut wajah Ana saat memakai daster pembetiannya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya yang mulai terlihat beberapa kerutan tanda seseorang mulai menua.
Ryan termenung kembali memahami isi hatinya dan semua perkataan sang bunda yang mulai masuk ke dalam nalarnya sebagai insan biasa.
Ia meraba dada bidangnya. Benarkah sosok Ana telah menempati sisi ruang hatinya yang hampa.
Selama ini ia telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menepis rasa itu. Ia selalu meyakini jika rasanya terhadap Ana hanyalah rasa sebagai seorang teman, tidak lebih. Dan mungkin hanya teman sepintas lalu, yang suatu saat akan terlupakan dengan sendirinya.
Namun hari ini, saat mendengar ucapan sang bunda, saran dan nasehat dari sang bunda. Ryan seolah tersadar bahwasanya rasa untuk Ana telah berkembang ke jenjang yang lebih spesifik dalam hatinya. Dan mungkin itu sebabnya ia masih mempertahankan kalung Ana selalu berada digenggaman tangannya.
"Yakinkanlah hatimu, ke mana saat ini ia akan berlabuh. Jangan terpaku hanya pada satu sisi keadaan yang akhirnya akan jadi dilema buatmu. Sebelum terlambat kejarlah cintamu, anakku. Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ucap sang bunda sembari menepuk pundak sang putra yang masih bingung dengan hatinya, sebelum akhirnya bunda beranjak pergi. Masuk ke dalam bilik kamarnya. Untuk beristirahat.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan komennya yaa... 😍😍
Bersambung.
.
.
__ADS_1
.