Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Tasya


__ADS_3

Di suatu negara bagian A, seorang gadis sedang merengek kepada sang kakek untuk minta dibebaskan dari hukuman penjara rumahan ala ala sang kakek. Karena kenakalan yang sering ia lakukan. Hingga membuat sang kakek pusing melihat tingkah lakunya. Dan beliau terpaksa mengurungnya di dalam kamarnya. Agar sang gadis tidak dapat pergi ke mana mana lagi sekehendak hatinya. Bukannya ia tak sayang pada sang cucu. Namun ia hanya ingin memberikan pelajaran hidup bagi sang cucu. Namun sang cucu beranggapan bahwa sang kakek telah mengekang kebebasannya dengan mengurung dirinya seperti tahanan.


"Kakek .... Kakek ..... Kakek ..... Keluarkan aku dari sini kek! Kakek .... Kakek ... Kakek sudah tak sayang padaku. Kakek .... Keluarkan aku dari sini kek ...." Teriakan sang gadis menggema di penjuru bangunan tersebut.


"Tuanku, nona muda dari tadi berteriak terus. Apa perlu saya keluarkan beliau dari sana?" tanya sang asisten kepada majikannya.


"Jangan coba coba kau mengeluarkan dirinya. Kalau mau gajimu ku potong seumur hidupmu," jawab sang tuan.


"Biarkan saja ia di dalam sana. Aku sudah pusing dengan tingkah lakunya yang selalu membuat onar. Biarkan saja dia dikurung dalam kamarnya. Agar ia dapat merenungi setiap kesalahan yang sudah ia perbuat. Biarkan dia intropeksi dirinya, jangan kau bantu ia keluar dari sana?" Perintah sang kakek pada sang asisten.


"Tapi tuan, nona sudah satu minggu ini terkurung dalam kamarnya. Saya khawatir beliau kenapa kenapa," ucap sang asisten.


"Biarkan saja, dia tidak akan mati. Dia itu cucuku. Dia wanita yang kuat dan tahan banting," ucap sang majikan.


"Tahan banting memangnya barang pecah belah tuanku?"


"Iya tahan banting. Lihat saja kelakuannya. Sudah satu pekan terkurung di kamarnya. Masih saja teriakannya bisa sekencang ini. Menggema keseluruh pelosok ruangan."


"Iya benar juga tuanku. Energi nona sepertinya tidak ada habis habisnya. Sudah di kurung satu pekan masih saja kuat teriakannya."


"Siapa dulu dong kakeknya. Roberto gitu lho," ucap sang kakek narsis.


"Iya benar sekali tuan Roberto yang terhormat," ucap sang asisten sembari memberi hormat pada sang majikan.


"Sudah sekarang pergilah. Kerjakan lah pekerjaanmu yang belum selesai. Urusan nona Tasya, biarkan saja dia terus berteriak teriak. Nanti jika capek dia akan berhenti juga," ucap sang kakek alias tuan Roberto. Ucapan sang kakek sedikit keras, dan hal itu dapat didengar oleh sang cucu yang sedang terkurung.


"Kakek sudah tak sayang dan tak perduli lagi denganku. Lihatlah kek, jika aku berhasil keluar dari ruangan ini. Aku akan pergi untuk selamanya dan takkkan kembali lagi ke mari." Sumpahnya dalam hati.


"Aku harus keluar dari sini, bagaimanapun caranya. Aku harus pergi. Maafkan cucu bengalmu ini kek, aku tak mau terkurung disini dalam jangka waktu yang lama. Aku ingin bebas, sebebas merpati yang terbang di langit."

__ADS_1


Sang gadis berusaha keras mencari cara dan celah untuk melarikan diri dari kamarnya. Pintu dan jendela kamarnya telah di pasang tralis yang kuat dan kokoh. Satu satunya jalan yaitu lewat pintu utama. Ia terus memutar otak agar dapat kabur dari kurungannya saat ini.


"Masak sih, nih teralis besi ga bisa di akalin untuk dibuka?" tanyanya dalam hati. Ia betpikir dan terus berpikir. " Kayaknya aku perlu obeng nih, buat membuka skrupnya. Tapi di mana aku bisa dapat obengnya, ke buru ketahuan kakek nanti, ga jadi minggat ntar sayanya kalo ketahuan. Malah tambah ketat nanti penjagaan yang kakek lakukan. Haish .... Bagaimana dong?" tanyanya kembali pada angin yang menerpa wajahnya.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Saat ia sibuk memikirkan bagaimana cara untuk melarikan diri. Terdengar derap langkah di depan kamarnya. Ternyata para maid yang mengantarkan sarapannya tadi pagi lupa mengunci kembali pintu kamarnya. Pintu kamarnya sedikit renggang, dan ia bisa mendengar dan mengintip siapa yang tengah berada di depan kamarnya saat ini.


"Berapa lama tuan akan pergi ke negara J?" Terdengar suara kepala maid sedang bertanya pada tuannya.


"Tidak lama hanya dua hari, aku pergi bersama Arnando," ucap tuan Robert. "Kau jagalah baik baik nona muda mu!" Perintah sang tuan kembali.


"Baik tuan saya akan menjaga nona dengan ketat," ucap kepala maid.


"Baiklah, aku percaya padamu. Aku pergi dulu. Titip nona muda," ucap tuan Robert sebelum berlalu.


"Baik tuan, hati hati di jalan. Moga selamat sampai tujuan, dan selamat saat tiba kembali."


"Baik tuan," jawab kepala maid saat mengantarkan keberangkatan sang tuan.


Derap langkah kaki terdengar menjauh, dan akhirnya tak terdengar lagi. Sebenarnya sang kakek ingin melihat keadaan sang cucu, sebelum keberangkatannya ke negara J, tapi karena dirasanya keadaan lenggang, dan ia pikir mungkin sang cucu sedang istirahat. Jika ia menemuinya sekarang, maka akan mengganggu istirahat sang cucu. Akhirnya ia membatalkan niatnya. Namun sebelum langkahnya menjauh ia bertemu dengan kepala maid yang saat itu melintas di hadapannya.


"Akhirnya kakek pergi juga. Aku bisa kabur sekarang." Sorak Tasya dalam hati.


Tasya mempercepat apa apa saja yang akan ia bawa sebelum dirinya kabur. Paspor, visa, kartu Vaksin, dan perlengkapan lainnya yang ia butuhkan telah ia kantongi. Tinggal menunggu waktu lengah para penjaganya.


Saat dirasa keadaan aman, Tasya mulai mengendap endap meninggalkan mansion sang kakek. Ia membawa kuda besinya pergi menjauh dari tempat tersebut dengan berjalan kaki. Perlahan lahan ia keluarkan dari garasi, dan perlahan pula ia bawa keluar tanpa dihidupkan mesinnya. Setelah di rasa sudah agak jauh dari kediaman sang kakek, Tasya baru menstarter kuda besinya.


"Selamat tinggal kakek. Tasya ga mau kakek kurung melulu di kamar. Tasya ingin bebas. Saatnya beraksi." ucapnya sembari melajukan kuda besinya dengan kecepatan di atas rata rata.


__ADS_1


Saat berada di atas ketinggian tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Sang kakek merasakan kegelisahan dalam hatinya.


"Ada apa tuan?" tanya Armando yang saat itu berada di sampingnya.


"Tidak ada apa apa," jawab sang kakek.


"Tapi tuan terlihat cemas?"


"Entahlah Armando. Aku kepikiran Tasya, dari tadi. Semoga dia baik baik saja," ucap sang kakek penuh harap.


"Tenanglah tuan banyak yang menjaga nona di mansion. Takkan terjadi apa apa dengan nona."


"Semoga saja begitu. Tapi aku tahu bagaimana watak Tasya. Aku takut ia akan melakukan tindakan yang tidak tidak. Cucu ku itu sungguh mengingatkanku dengan masa mudaku dahulu," ucap sang kakek, seutas senyuman mengembang di wajah tuanya kala membayangkan perilaku sang cucu dengan tingkah lakunya di masa lalu, sungguh tak ada beda. Bedanya hanya dia seorang laki laki, sedangkan sang cucu perempuan. Tapi dari segi yang lain. Tasya seolah titisan jiwanya yang dahulu 99% hampir sama.



Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komennya ya😍😍


Mampir juga ya di karya temanku, semoga kalian suka.



Bersambung.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2