
Tuan Roberto terus menatap wajah pucat sang cucu. Tiba-tiba ada pergerakan dari raga ramping tersebut. Perlahan-lahan netra cantik itu telah terbuka.
"Kakek...." ucapnya lirih kala berhasil membuka kedua matanya, dan melihat siapa yang saat ini ada di sampingnya.
"Iya sayang. Maafkan kakek Karena telah membuatmu jadi begini!" ucap tuan Roberto penuh sesal.
"Tidak apa-apa kek!"
"Maafkan kakek karna kakek dirimu pingsan.!"
"Tidak apa-apa kek, Ana baik-baik saja," jawab Ana kembali untuk meyakinkan sang kakek.
"Maaf, kakek tidak tahu jika dirimu sedang mengandung!"
"Iya kek, tidak apa-apa!'
"Kamu sudah menikah sayang?" Ana menggangukkan kepalanya sebagai jawaban iya, pada sang kakek.
"Kemana suamimu sekarang sayang, kenapa tidak bersamamu saat ini?"
"Dia sedang ada perjalanan bisnis ke beberapa negara tetangga kek. Saat para ajudan kakek membawaku kemari, waktu itu aku baru pulang mengantar kepergianya." jelas Ana lebih lanjut.
"Maafkan kakek ya, Karena perintah dari kakek makanya para ajudan kakek membawamu dengan paksa kemari. Sekali lagi maafkan kakek, Karena kakek juga akhirnya dirimu pingsan. Tolong maafkan kakek ya sayang!"
"Tidak apa-apa kek, kakek tidak bersalah! yang bersalah adalah...."
Belum selesai ucapan Ana, tiba-tiba kepala maid datang menghampiri tuan Roberto.
"Maaf tuan, di luar ada orang yang mengaku sebagai suaminya Nona!"
"Benarkah?" tanya tuan Roberto dengan nada penasaran.
"Iya tuan, dia memaksa masuk. Tapi para penjaga lebih cekatan untuk menghentikannya. Nah tuan ini orangnya!" ucap kepala maid sembari memperlihatkan layar ponselnya kepada tuan Roberto.
Tuan Roberto segera mengambil ponsel tersebut, melihatnya sebentar. Kemudian menyerahkannya kepada Ana.
"Apakah itu suamimu, sayang?" tanya tuan Roberto dengan hati-hati.
"Iya, kakek ini suamiku. Namanya Chris," ucap Ana sembari melihat ke layar ponsel yang barusan tuan Roberto serahkan kepadanya. Lalu ia kembalikan lagi ponsel tersebut pada kakeknya.
Tuan Roberto memberikan ponsel tersebut kepada kepala maid, setelah ia terima dari Ana.
__ADS_1
"Persilahkan cucu menantuku masuk!" Perintah tuan Roberto pada kepala maid.
"Asiaap Tuan. Siap laksanakan perintah. Setelah berkata kepala maid pun segera berlalu dari hadapan tuan Roberto.
Tak berapa lama raga Chris telah hadir di hadapan tuan Roberto. Netra Elangnya terus saja menatap sang pujaan hati yang sedang terbaring lemah, diatas pembaringan. Lalu beralih menatap raga sepuh tuan Roberto.
"Selamat malam tuan, saya Chris suaminya Ana!" ucap Chris pada tuan Roberto.
"Selamat datang Chris, di gubuk reyot kakek. Jangan panggil tuan! Panggil saja kakek seperti Ana memanggilku. Karena kau adalah suaminya Ana, maka kau juga adalah cucuku!" Perintah tuan Roberto.
"Iya baik kek. Bolehkah aku bertemu dengan istriku secara pribadi!" ucap Chris penuh penekanan.
Tuan Roberto mengerti akan ucapan Chris, ia menyadari mereka perlu privasi untuk berdua saja, dan tak ingin diganggu orang lain, walaupun dirinya sekalipun.
"Baiklah, kakek tinggal ya Chris. Titip Ana ya!" ucap tuan Roberto sembari mengelus pundak Chris.
"Selalu kek, aku akan selalu menjaga istri dan calon bayi kami dengan sepenuh jiwa ragaku. nyawa taruhannya!"
"Iya terima kasih banyak Chris, Ana kakek pergi dulu ya! " ucap tuan Roberto lalu beranjak pergi dari kamar Tasya yang saat ini sedang ditempati oleh Ana.
"Iya kek ..." ucap Ana dan Chris bersamaan.
Chris segera mendekati raga sang istri, saat tuan Roberto telah berlalu dari hadapannya.
"Tidak ada maaf untukmu!"
"Benarkah, tidak ada maaf untukku?"
"Iya.... Tidak ada maaf untukmu!"
"Serius tidak ada maaf untukku?" ucap Chris sembari menatap ke dalam netra bening sang istri.
"Iyaaaaaa.... Serius ..... Tidak ada maaf untukmu! " ucap Ana dengan kesal, pada sang suami, namun dari sudut netra beningnya perlahan mengalir buliran-buliran Kristal bening.
"Honey, jangan menangis. Aku tak tahan melihat kau menangis," ucap Chris sembari membawa raga ramping sang istri dalam peluknya yang hangat.
"Aku tidak menangis, entah mengapa sekarang aku menjadi cengeng begini!"
"Mungkin karena kehamilanmu hingga mempengaruhi perubahan hormon dalam dirimu, honey! Anaknya Daddy jangan nakal ya, baik-baik di dalam sana, jangan buat mommymu susah ya kesayangannya Dadfy!" ucap Chris sembari mengelus perut Ana yang masih rata.
Ana menatap raut wajah sang suami yang terlihat cemas dan khawatir. Di mata Ana wajah sang suami terlihat imut, padahal selama ini ia tidak terlalu menyukai Chris yang super duper overprotective padanya, tapi entah mengapa sekarang ia tak ingin raga itu pergi. Ada rasa aman, damai, dan terlindungi saat raga itu memeluknya lembut dan hangat.
__ADS_1
"Kenapa menatap suamimu seperti itu? Ada apa dengan wajah gantengku yang paripurna ini!" ucap Chris narsis.
"Diiihhhh.... Siapa juga yang melihatmu!" Ana segera mengalihkan pandangannya.
"Benarkah! kalo begitu aku pergi lagi!"
"Jangan.... Jangan.... Jangan pergi!" Ana segera memeluk raga tegap sang suami. Buliran Kristal bening semakin deras mengalir di pelupuk matanya.
"Iya honey, tenanglah..... Aku takkan pergi, aku akan ada selalu di sampingmu!" Chris mencoba menenangkan sang istri.
"Jangan pergi.....!" Suara Ana terdengar lirih, tak lama kemudian terdengar dengkuran halus di Netta pendengaran Chris.
"Tidurlah honey, aku akan selalu bersamamu dan bayi kita!" ucap Chris sembari mengelus wajah pucat sang istri dan mencium keningnya dengan lembut penuh kasih sayang.
Di negara Zamrud Khatulistiwa, Tasya termenung seorang diri, di dalam kamar Ana yang saat ini ia tempati hanya sepi dan kesunyian yang menemaninya, tanpa kehadiran sang kakek, orang yang paling ia sayangi dan cintai.
"Kakek telah melupakanku, kakek sudah tidak sayang lagi padaku!" ucap nya lirih. Hanya hembusan sang angin yang menjawab setiap ucap dari bibir mungilnya.
"Kakek aku metindukanmu, maafkan cucumu ini yang telah pergi tanpa pamit, maafkan Tasya kek!" Buliran-buliran Kristal bening tak terasa telah mengalir di wajah cantiknya.
"Kakek aku sangat-sangat menyayangimu, maafkanlah cucumu yang nakal dan bandel ini, yang tak pernah mau mengikuti semua perintahmu. Tasya janji, Tasya tidak akan nakal lagi, Tasya janji Akan selalu mendengar Dan mematuhi semua petintah dan larangan dari kakek, jika Tasya pulang nanti!" ucap Tasya pada hembusan sang angin.
"Kakek, masfkan Tasya kek.... Maafkan Tasya!"
"Iya dimaafkan kok .....!" Tiba-tiba ada sebuah suara yang menjawab ucapan Tasya, dan hal itu sangat mengagetkan Tasya dalam kesendirian dan kesunyiannya saat ini.
"Hapus donk airmatanya, jelek mukanya kalo lagi nangis kek gitu!" ucap suara itu kembali.
"Kamu.... Kamu kenapa bisa masuk kemari?" tanya Tasya pada raga yang berdiri tak jauh dari nya saat ini.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya berupa like, konen, rating bintang limanya.
Bunga dan kopinya juga boleh jika berkenan.
Terima kasih.
Lupyu all🙏❤
__ADS_1
Bersambung.