
Jenny tertawa devil saat melihat peristiwa yang menimpa Ana terjadi di depan matanya.
"Ha. ... Ha .... Ha .... Mampus kau Ana, akhirnya aku bisa menyingkirkanmu dari Alex untuk selama lamanya. Berkali kali aku berusaha menyingkirkanmu, tapi nasib baik selalu berpihak padamu entah bagaimana kau selalu bisa selamat. Namun saat ini, akhirnya rencanaku berhasil. Ha ... Ha .... Ha..... Membusuklah kau di neraka." Jenny tertawa sambil bergumam, suaranya tersamarkan oleh suara ledakan yang berasal dari kuda besi Ana. Jenny bersembunyi di antara pepohonan yang ada dipinggir jalan. Hitam pekatnya malam melindunginya dari perhatian khalayak ramai yang berbondong bondong akan melihat peristiwa apa yang sedang terjadi.
...///*****///...
Seseorang sedang memandangi wajah sang pujaan hatinya yang saat itu sedang terlelap.
"Sampai kapan dirimu akan tetap terlelap seperti ini. Sudah seperti putri tidur. Tapi kau tambah terlihat cantik jika sedang terlelap seperri ini," gumamnya sembari membelai wajah sang pujaan hati.
Merasa terusik tidurnya saat sesuatu ia rasakan menyusuri wajahnya. Perlahan lahan kelopak matanya mulai bergerak, sedikit demi sedikit perlahan lahan terbuka. Saat kelopak matanya telah terbuka, perlahan lahan retina matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Saat iris matanya telah berakomodasi dengan sempurna. Ia melihat seseorang sedang menatapnya intens dalam posisi duduk menghadap dirinya.
"Siapa kau? dan di mana aku sekarang?" tanya nya beruntun kepada sosok yang ada di sampingnya.
"Kau ada di kamarku sekarang,"
"Mengapa aku bisa ada di kamarmu, perasaan aku tadi sedang di arena balap. Dan kuda besiku meledak, mengapa aku ada di sini. Apakah aku sudah mati?" tanyanya prustasi saat mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Ia berfikir takkan mungkin ia bisa selamat dari kejadiaan tersebut.
"Kau belum tiada. Aku yang menyelamatkan dirimu, my Queen. Dan tenanglah, kau aman di sini, tidak akan ada yang berani menyakitimu! Kau aman bersamaku," ucapnya berusaha menenangkan sang pujaan hati yang terlihat shock akan peristiwa yang telah menimpa dirinya.
"Benarkah aku masih hidup? Kenapa kau menyelamatkan aku? Dan kenapa kau memanggilku my queen?" tanya Ana dengan pertanyaan beruntun disertai dengan ekspresi menyelidik.
"Ya kau masih hidup. Aku menyelamatkanmu karena kau adalah ratuku," ucapnya sembari menyeringai, yang berhasil membuat bulu kuduk Ana meremang.
"Mengapa aku bergidik melihat seringainya, terlihat mengerikan," Ana membatin.
"Tak perlu takut padaku, karena aku takkan pernah bisa menyakiti dirimu."
"Eh, kau bisa membaca pikiranku?" tanya Ana spontan.
"Tidak, aku hanya membaca dari raut wajahmu yang berubah seolah takut padaku."
"Aku, takut padamu. Yaa, aku sungguh sungguh takut padamu. Karena ...."
"Karena apa?" tanya nya saat Ana terlalu lama menjeda kalimatnya.
"Karena kau orang asing. Baru kali ini aku bertemu denganmu."
"Aku bukan orang asing. Bahkan aku selalu ada disampingmu. Melindungimu, disetiap langkahmu." jawabnya kembali.
"Benarkah?" tanya Ana sangsi.
"Iya aku selalu ada di sampingmu!"
__ADS_1
"Mengapa aku tak menyadarinya. Dan akupun tak pernah bertemu dan melihatmu selama ini, walaupun hanya sekejap mata?"
"Karena kau tak dapat melihatku saat di dunia nyata."
"Maksudmu, dunia nyata?" tanya Ana kembali.
"Iya, dunia nyata. Dunia nya manusia."
"Memang nya aku sekarang ada di mana, kalau tidak di dunia manusia. Katamu tadi aku belum mati. Jadi aku sekarang masih di duniakan, bukan di akhirat?"
"Ya, kau memang di dunia. Tapi bukan alamnya manusia!" jawabnya tegas.
"Trus kalo bukan di alamnya manusia, trus aku ada di alam mana ini. Masa ada di awang awang sih?" tanya Ana kembali dengan wajah prustasinya untuk yang ke sekian kali.
"Kau ada di alam Jin." jawabnya singkat, padat, dan jelas.
"Haaahhhh .... Alam Jin," Jawab Ana kaget.
"Iya alam Jin. Jadi kau tak bisa ke mana mana dan pergi dari sini, tanpa seizin dariku." Ia berkata sembari menyeringai kepada Ana.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena kau ratuku, jadi tetaplah di sini, jangan ke mana mana. Lagian di duniamu sana, nyawamu selalu terancam. Ada seseorang yang menginginkan kematianmu. Lebih baik kau disini. Kau aman bersamaku, Ratuku."
"Ratu .... " Ana membeo, saat kembali mendengar kata kata yang janggal menurut nalarnya sebagai manusia biasa.
"Haish .... Lagi lagi kau sebut diriku ratumu. Apa kau seorang raja, walau kau raja, tapi aku bukanlah ratumu," ujar Ana prustasi. Ana berusaha bangkit dari tidurnya, walaupun terasa raganya tak mampu bergerak, tapi ia berusaha untuk tetap bangkit, dan pergi dari tempat itu.
"Mo ke mana kamu?" tanyanya posesif saat melihat pergerakan Ana.
"Aku mo pergi dari sini!" jawab Ana tegas.
"Kau tak bisa pergi dari sini tanpa seijinku!"
"Kenapa begitu?"
"Ya memang begitu, jika aku tak mengizinkan maka kau tak dapat pergi dari sini!"
"Pokoknya aku mo pergiiii ...." ucap Ana sedikit berteriak.
"Tidak bisa kau takkan bisa pergi!"
"Harus, aku harus pergi."
__ADS_1
"Tak akan kubiarkan kau pergi," ucapnya kembali sembari menatap Ana nyalang.
"Aku harus pergi dari sini. Katamu tadi ada orang yang menginginkan kematianku. Maka aku harus pergi dari sini agar aku bisa bertemu dengan orang itu. Dan menghajarnya hingga dia tidak akan bisa menyakiti diriku lagi ataupun orang lainnya."
"Jangan pergi, tetaplah di sini, biar aku yang akan mengurusnya."
"Ga mau. Dia berurusan denganku bukan denganmu. Jadi aku saja yang akan menghajarnya.'
"Dirinu belum pulih dengan sebenar benarnya pulih. Istirahatlah dahulu ... " Perintahnya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk ...!" Perintahnya dengan tegas, saat mendengar suara pintu diketuk.
"Ampun Yang Mulia, perlengkapan Yang Mulia Ratu telah siap."
"Silahkan kau urus ratumu dengan sebaik - baiknya'" Perintahnya dengan tegas kepada sang dayang.
"Baik Yang Mulia, hamba laksanakan."
"Hei, mau ke mana kau. Urusan kita belum selesai," ucap Ana saat melihat raga tersebut akan pergi menjauh. Ucapan Ana menghentikan langkahnya yang hendak menjauh. Ia kembali melangkah mendekati Ana.
CUP ....
Ia mencium kening Ana sekilas lalu berkata, "Baik baik di sini ya jangan membuat ulah. Aku pergi hanya sebentar, ada urusan yang harus segera aku selesaikan."
Ana terdiam seribu bahasa kala benda lunak itu mendarat di keningnya dengan sempurna. Sesaat kemudian baru Ana tersadar kembali.
"Hei, kenapa kau menciumku," ucap Ana tanpa menghiraukan keadaan di sekelilingnya.
Ia tak menjawab pertanyaan Ana, ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan Ana yang saat ini sedang menatap kepergiannya dengan tajam.
"Enak saja dia, udah main cium sembarang tanpa seizinku. Dan sekarang malah main pergi saja dia." ucap Ana kesal akan tindakan orang itu barusan. Ana terus menatap kepergian raga tersebut, hingga sosoknya tak terlihat lagi dipandangannya.
"Mari yang Mulia, kita bebersih dulu," ucap para dayang mengagetkan Ana dari menatap kepergian raga tersebut.
Anapun menganggukkan kepalanya, menyetujui tindakan yang akan dilakukan pada dirinya.
...///******///...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, seperti like, komen, favorite, vote, rating bintang limanya ya ....
Bunga dan kopinya juga bolehπππ
__ADS_1
Terima kasih
Betsambung.