
Hueekkk ..... Ana segera memuntahkan seluruh isi lambungnya, yang barusan ia isi bersama sang kakek. Selama makan bersama, Ana berusaha menahan lajunya rasa itu. Ulu hatinya serasa diaduk aduk kala makanan itu memasuki lambungnya.
Ana bukan tipe orang yang menyukai makanan pedas. Saat pertama melihat makanan yang terhidangpun Ana sudah merasakan mual. Biasanya Ana bisa berdamai dengan makanan pedas, namun entah kenapa hari ini, ia seolah sangat bermusuhan dengan makanan tersebut.
Hanya karena menghargai sang tuan rumah, ia berusaha menekan sekuat tenaga rasa itu.
Ana sosok yang tangguh, ia tak mau memperlihatkan kesakitannya di depan orang lain. Apalagi orang yang baru pertama kali ia kenal dan lihat. Walaupun orang tersebut mengaku dirinya adalah kakeknya. Tapi Ana harus tetap waspada. Keras dan kejamnya hidup yang selama ini ia jalani mengajarkannya untuk selalu waspada di manapun ia berada.
Untunglah kamar yang di tempatinya sekarang kedap suara. Jadi tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kegiatannya sekarang.
Isi dalam perutnya sudah terkuras habis, namun rasa mual itu belum juga mau sirna dari raga rampingnya.
Dalam kesakitannya, terlintas sejenak di pikirannya sosok yang beberapa hari ini selalu bersamanya, menemani hari hari nya. Ana merasa seolah sangat membutuhkan kehadiran sosok tersebut di sampingnya saat ini.
"Haisssh .... Kenapa aku memikirkan nya saat ini?" Ana menggumam pelan.
Sebuah pijatan lembut tiba tiba mendarat dengan sempurna di punggung dan tengkuknya. Aroma maskulin memasuki indra penciumannya, kala pijatan itu semakin intens membantunya menghalau rasa mualnya. Ana merasa Surprise akan kehadiran sosok tersebut.
"Kau merindukanku sayangnya Chris?" Suaranya terdengar memasuki gendang telinga Ana.
"Kau ada di sini?" tanya Ana pada sosok yang tiba tiba telah hadir di dekatnya sekarang.
"Hemm ...." Jawabnya singkat namun jari jemari nya tetap membantu memijat Ana untuk mengurangi rasa mualnya.
Ada rasa bahagia merasuki relung hatinya, kala menyadari sosok yang barusan terlintas dalam benaknya, telah benar benar hadir saat ini di sampingnya. Entah dorongan dari mana, tiba tiba Ana menubruk raga tersebut dan memeluknya erat.
"Hei, aku takkan pergi kemanapun, Aku akan selalu ada disampingmu!" ucapnya tulus dan membalas memeluk raga ramping sang istri.
"Kenapa, kangen ya sama suamimu yang ganteng ini?" tanyanya narsis.
"Ganteng dari mananya. Ganteng dari Hongkong, terus liat nya juga pake pipet, dari atas menara tertinggi."
"Ha ... Ha .... Ha .... Sayangnya Chris makin lucu saja ya," ucapnya sembari terus memeluk dan memijat punggung Ana.
"Gimana sekarang, apa masih mual?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Alhamdulillah sudah agak mendingan," jawab Ana.
Chirs terdiam beberapa saat, hening melandanya saat ini. Kala mendengar ucapan yang dilontarkan Ana barusan.
"Ada apa ? Kenapa diam?" tanya Ana heran.
"Coba ucapkan sekali lagi, kalimat barusan yang kau ucapkan!" Pinta Chris lembut kepada sang istri.
__ADS_1
"Kalimat yang mana?" tanya Ana binggung. Posisi mereka saat ini masih dalam keadaan berdiri.
"Tolong bantu aku berbaring, entah kenapa kepalaku tiba tiba pusing!" Pinta Ana selanjutnya.
Raga ramping Ana tiba tiba terasa melayang di udara, dan dalam sekejap telah berada dalam gendongan sang suami. Chris membawa raga sang istri menuju pembaringan, dan membaringkan raga sang istri dengan perlahan di atas pembaringan.
"Istirahatlah.... !" Perintahnya dengan nada halus, sembari membelai lembut rambut blonde sang istri. Ia pun mengikuti jejak sang istri, dengan berbaring di sampingnya.
"Tadi kau bertanya apa?" tanya Ana sembari menelusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami, ada damai yang Ana rasakan saat ini.
"Kata yang kau ucapkan barusan! Kata yang kau lontarkan saat aku bertanya apa masih mual?" ucap dan tanya Chris layangkan
"Alhamdulillah, agak mendingan!"
"Nah kalimat itu!" seru Chris.
"Yang mana, yang Alhamdulillah?"
"Iya itu!"
"Lalu kenapa memangnya, jika aku mengucapkan kata Alhamdulillah?"
"Aku hanya senang mendengarnya. Ternyata dirimu sudah mau menerima keyakinan yang ku anut!"
"Sayangnya belum! Aku hanya sudah terbiasa mendengarkannya dari mu, setiap hari, setiap jam, setiap detik. Jadi otomatis secara tak langsung telah terekam diotakku, dan juga jadi terbiasa untuk lidahku mengucapkannya. Ala bisa karena terbiasa!"
"Tenang suamiku .... Untuk saat ini mungkin belum, tapi yakinlah suatu saat mungkin azammu akan terwujud. Ini masalah keyakinan tak bisa dipaksakan." Ana mencoba bijak menyikap masalah keyakinan yang ia anut.
"Aku bahagia sekali, jika nantinya kita bisa satu keyakinan. Bisa shalat bareng, puasa bareng, haji bareng. Dan ibadah lainnya. Aku bahagia kau bisa menjadi makmum ku dalam setiap ibadah yang kulakukan," ucap Chris penuh haraf.
"Mungkin suatu saat nanti ... Mungkin...." ucap Ana.
"Dan Aku juga heran ....! Dirimu itu berasal dari bangsa Jin, tapi ketakwaanmu lebih di bandingkan manusia," ucap Ana selanjutnya terheran dengan setiap perbuatan yang dilakukan sang suami.
"Tidak juga sayangku. Aku hanyalah hamba-Nya yang mencoba berbakti pada-Nya. Bukankah Dia telah berFirman, Tidaklah Dia Allah menciptakan Jin dan manusia kecuali hanya untuk bertakwa kepada-Nya."
"Jadi kedudukan jin dan manusia sama di hadapan Allah kecuali Takwanya yang membedakan mereka."
"Jadi walaupun kami bangsa jin, tidak semua dari kami jahat. Begitupun manusia tidak semuanya baik. Kedua bangsa kita ada sisi baik dan ada sisi buruk nya juga. Tergantung kita menyikapinya."
Terdengar dengkuran halus dari raga ramping Ana.
"Ternyata dia tertidur. Tidurlah sayangnya Chris. Mimpi yang indah ya, Semoga Allah selalu menyertaimu dan melindungimu," bisik Chris di daun telinga sang istri. Ia kecup kening sang istri penuh kasih sayang.
__ADS_1
Ryan telah bersiap siap akan pergi. Ketika sebuah suara menghentikan ayunan langkahnya.
"Mau kemana Yan? tumben hari libur anak bunda sudah rapi, mo pergi ke mana?" tanya sang bunda.
"Ryan pergi hanya ingin menyakinkan sesuatu hal bun," ucapnya sembari melangkah kembali menuju sang bunda.
"Ke mana?" tanya bunda, raut wajah nya penuh tanda tanya akan tingkah laku sang putra.
"Ada deh!"
"Sudah mau rahasia rahasian sama bunda yaa ...." ucap sang bunda seolah merajuk kepada putra semata wayangnya. Belahan hati, jantung dan jiwanya.
"Tidak bun. Mana berani Ryan menyimpan rahasia dari bunda!" ucapnya cepat.
"Trus kenapa tidak mau bilang! Dirimu mau pergi ke mana sekarang?"
"Ryan hanya ingin memantapkan hati Ryan bun!" ucap Ryan mencoba jujur kepada sang bunda.
"Oh, masalah hati, mungkin berhubungan dengan ucapan bunda semalam ya.. !" Bunda mencoba menebak jalan pikiran sang putra.
"Sepertinya begitulah bun!" jawabnya malu malu.
"Kenapa mesti malu sama bunda. Sok atuh, bunda dukung seratus persen apapun yang ingin Ryan lakukan. Asal Ryan bahagia!"
"Terima kasih bunda, Ryan pamit dulu. I love you bun.... Ryan Sangat sangat mencintaimu, bunda ... " ucap Ryan sembari mencium punggung tangan bunda, lalu beralih memcium seluruh wajah bunda tercintanya.
"Sudah Yan, buruan pergi. Nanti terlambat mengejar orang yang telah berhasil merebut hatinya anak bunda."
"Baik bunda, Ryan pamit... Assalamualaikum."
"Waalaikummussalam.wr.wb" jawab bunda melepas kepergian sang putra.
...❤@@@@@@@❤...
Bersambung.
.
__ADS_1
.
.