
Di saat Ana mengalami sesak nafas yang berakhir pingsan. Tasya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Ana. Dan ketika Tasya mengalami kecelakaan, Dalam tidurnya Ana pun ikut merasakan kejadian tersebut. Memang ikatan batin yang terjadi di antara saudara kembara sangatlah kuat. Jika salah satu sakit, maka yang lainnya juga akan merasakan hal yang sama.
Dan Chris menyadari hal tersebut. Tanpa Ana beritahu dan tanpa berada dekat Tasya, Chris dapat merasakan itu semua. Hingga ia berharap, berdoa, dan memohon pada Yang Maha Kuasa, semoga anaknya nanti tidak terlahir kembar.
Ia berharaf anaknya nanti terlahir tunggal, tanpa ada kembarannya. Hingga ia tak perlu merasakan apa yang ibunya rasakan atas kembarannya.
Pandangannya masih mengunci sosok dihadapannya yang tersenyum bahagia, melihat raut wajah itu tersenyum bahagia, Chris pun ikut merasakan bahagia. Ia berharaf semoga senyum tersebut tak pernah hilang, dan akan selalu menghias di wajah cantik sang istri.
"Aku sangat mencintaimu, dan takkan kubiarkan dirimu bersedih, Sayangku," Monolog Chris.
Ryan masih terus menatap raut wajah yang masih terlelap dalam pingsannya, entah sampai kapan netra itu akan kembali terbuka.
Ryan tak ingin meninggalkan raga itu barang sedetikpun. Ia tak ingin kehilangan kembali. Saat raga Tasya telah sampai di rumah sakit, pihak rumah sakit segera membawa raga Tasya ke Instalansi Gawat Darurat ( IGD). Mereka segera memberikan pemeriksaan intens terhadap raga Tasya.
__ADS_1
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, didapatkan hasil bahwasanya Tasya dalam k3adaan baik-baik saja. Hanya luka memar yang ia derita. Dan itupun tidak terlalu parah. Setelah luka memarnya dibersihkan dan diobati. Para petugas kesehatan pun berlalu dari hadapan Ryan dan Tasya. Mereka akan memeriksa pasien yang lainnya juga.
Lama kelamaan karena lelah, akhirnya tanpa Ryan mampu cegah, ia pun ikut tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya ia sandarkan pada kedua tangannya yang terlipat di atas brankar di samping Tasya..
Setiap harinya Ryan selalu menjaga dan mengawasi Tasya, disela-sela kegiatan rutinnya sebagai petugas keamanan negara. Ryan selalu memprioritaskan menjaga Tasya daripada hal yang lainnya.
Jika Ryan berangkat kerja, maka kak Cintanya lah yang akan menjaga Tasya, membersihkan raga Tasya, dan mengganti pakaian Tasya. Semuanya Cinta yang melakukan. Jika pulang kerja maka Ryan akan dengan.segera menemui Tasya, dan menggantikan Cinta dalam menjaga Tasya. Kini fokusnya Ryan hanya pada Tasya dan pekerjaannya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sudah lebih dari lima bulan, netra cantik itu masih saja terpejam tanpa menunjukkan tanda-tanda pergerakkan sedikitpun. Seolah ia betah berada dalam alam bawah sadarnya.
Padahal pada diaknosis dokter di awal Tasya masuk rumah sakit. Tak ada cidera yang terlalu berat mendera raga Tasya. Hanya cedera ringan yang ia alami, dan juga tidak terlalu berbahaya.
walaupun begitu Ryan tak pernah bosan untuk bergantian jaga dengan kak Cinta, dalam hal menjaga Tasya.
Seperti hari ini pun, Ryan tetap setia menjaga raga ramping tersebut, berharaf Tasya akan segera siuman dari tidur panjangnya.
__ADS_1
"Kapan kau akan segera terbangun dari tidur panjangmu An? tak lelahkah kau terus berada dibawah alam sadarmu. Cepatlah bangun, banyak yang ingin kuceritakan padamu!" monolog Ryan sembari menatap wajah sayu Tasya yang masih terlelap dalam tidur panjangnya.
Alhamdulillah akhirnya bisa update bab lagi.
Maafkan saya para readers semuanya.
Maafkan saya🙏
Jangan lupa tinggalkan jejalnya ya, like, vote, rating bintang limanya, komen, bunga dan kopinya juga boleh.
lupyu all❤🙏
Bersambung
__ADS_1
Ohya, jan lupa mampir juga dikarya temanku, moga kalian suka❤🙏