
Raga di samping bunda mulai bergerak. Searah gerak netra bunda mengikuti geraknya. Perlahan kelopak netra Ana terbuka. Ana heran kenapa ia sekarang ada di atas pembaringan. Sedangkan tadi ia ingat masih duduk di samping sang tante.
"Sudah bangun?" Tanya bunda kepada Ana.
"Eh.... Tante. Maaf Ana ketiduran." Jawabnya dengan kikuk. "Ana kok bisa tidur di sini ya?" Monolog nya dengan samar, namun masih bisa didengar oleh bundanya Ryan. Ana langsung bangkit dari tidurnya. Ia merasa malu telah tidur di atas ranjang.
"Kamu tadi Ryan yang mindahin kemari. Atas perintah tante." Jawab bunda jujur. Blus... Seketika wajah Ana terlihat semburat merah jambu. Ana merasa malu mendengar ucapan sang tante.
"Ja...Ja....Jadi, Ryan yang mindahin Ana?" Tanyanya dengan kikuk.
"Iya, Ryan yang mindahin kamu. Tante kasihan lihat kamu tertidur sambil duduk. Tante lihat posisimu ga nyaman. Makanya tante memerintahkan Ryan mindahin kamu kemari." Ucap bunda menjelaskan.
"Terima kasih tante, atas perhatiannya." Ucap Ana tulus.
"Tidak apa apa. Tante juga mo ngucapin terima kasih sama kamu, karena telah sigap menangkap tubuh tante saat tante pingsan. Jika tidak ada kamu, mungkin kepala tante sudah membentur lantai keramik. Sekali lagi tante ucapkan terima kasih ya."
"Sama sama tante. Kebetulan saja Ana yang ada di samping tante waktu itu. Jika orang lain yang berdiri di samping tante saat itu, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Ana lakukan, saat melihat seseorang di sebelahnya dalam keadaan bahaya." Ucap Ana merendah.
"Kamu gadis yang baik, buktinya kamu ga berusaha membanggakan dirimu."
"Ana biasa saja tante. Terima kasih atas pujiannya."
Terdengar suara azan maghrib berkumandang, menyela percakapan dua wanita cantik beda generasi itu.
"An, azan maghrib sudah terdengar. Ayo kita shalat dulu." Ajak bunda kepada Ana, sembari ia mencoba berdiri dari posisi baringnya. Ana dengan sigap membantu raga tersebut.
"Terima kasih An." Ucap bunda Ryan.
"Sama sama tante. Tante mo ke mana?" Tanya Ana saat melihat raga sepuh tersebut akan melangkah menjauhi Ana.
"Tante mo ke kamar mandi, mo ambil air wudhu."
"Ana bantu ya."
__ADS_1
"Terima kasih An. Tapi tante sudah kuat kok. Tenang tante ga akan pingsan lagi. Sudah cukup tante beristirahat tadi."
"Baik tante." Ucap Ana melepas pegangan tangannya di pundak bunda Ryan. Namun saat bunda Ryan mulai melangkah. Ana pun segera mengikuti langkah beliau. Ana berjaga di depan pintu kamar mandi. Saat raga bunda telah masuk ke dalam. Mungkin saja bunda Ryan membutuhkan bantuannya, fikir Ana.
"Ana mo berwudhu juga?" Tanya bunda Ryan, saat ia telah keluar dari kamar mandi. Dan melihat Ana berdiri di depan pintu kamar mandi. Seolah sedang menunggu giliran berwudhu.
"Eh.... Ehm.... Iya tante." Jawab Ana gugup.
"Ayo silahkan." Bunda Ryan memberi jalan untuk Ana masuk ke kamar mandi.
"Terima kasih tante." Ana melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Ana bingung bagaimana caranya berwudhu. Seumur hidupnya Ana belum pernah berwudhu. Kata wudhupun Ana tak tahu maksudnya apa. Di dalam kebingungannya Ana mencoba mengingat sesuatu.
"Oh iya, Ryan kan pernah mengucapkan kata wudhu. Waktu kami terborgol berdua tempo hari." Ucapnya bermonolog, sembari mengingat ingat peristiwa saat dirinya dan Ryan terborgol. "Apa ya yang dilakukannya tempo hari. Yang ku ingat dia marah marah kepadaku karna kulit tangan kami bersentuhan." Ana kembali berbicara di dalam hatinya.
"Aha..., sekarang aku ingat. Apa yang dia lakukan setelah kami bersentuhan, katanya mo mengulang berwudhu, karna tak sengaja bersentuhan denganku..Apa lagi ya, yang dilakukannya saat itu." Ana mencoba kembali mengingat momen tersebut. Ana berjalan mendekati kran air, memutar kran air, lalu melakukan semua yang pernah Ryan lakukan yang terlintas dalam benaknya.
Pertama Ana mencuci kedua tangannya, lalu kumur kumur, mencuci hidungnya, membasuh mukanya, mencuci tangannya sampai ke siku, lalu mencuci kepalanya, dan telinganya. Terakhir Ana mencuci kaki sebelah kanannya lalu dilanjutkan dengan kaki sebelah kirinya.
Setelah selesai Ana segera keluar dari kamar mandi.
"I...Iya tante." Ucap Ana tergagap.
"Ini mukenahnya." Bunda memberikan mukenah kepada Ana.
"Terima kasih tante." Ucap Ana saat menerima mukenah yang diberikan bunda Ryan padanya. "Haduh, bagaimana cara pakai nya." Ana membatin.
"Sama sama, ayo kita keluar. Shalat nya akan segera dimulai."
Ana mengikuti langkah bunda Ryan keluar dari kamar. Saat mereka tiba di tempat shalat maghrib berjamaah digelar. Ryan telah siap dengan pakaian koko putihnya. Berdiri di shaf depan. Ryan akan bertindak sebagai imam dalam shalat berjamaah tersebut. Para makmum laki laki yang berdiri di belakang Ryan adalah para kerabatnya baik dari pihak bundanya maupun dari pihak ayahnya. mereka berkumpul malam itu. Karna setelah shalat maghrib berjamaah. Akan dilaksanakan tahlilan dan pembacaan surah yasin bersama sama.
Ana berdiri beberapa shaf di belakang imam. Ana berdiri di samping bundanya Ryan dan para ibu ibu yang tadi membantu membawa bunda Ryan saat pingsan, serta para makmum wanita lainnya yang asing bagi Ana. Ana memakai mukenah dengan mencontoh cara bundanya Ryan memakai mukenah. Sebenarnya Ana juga tidak tahu apa itu shalat. Ana hanya mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh bundanya Ryan. Netranya tak henti henti menatap setiap gerakan bunda. Kepalanya pun tak pernah diam. Ana selalu celingal celinguk, toleh kiri toleh kanan memperhatikan posisi yang benar, kala ia salah dalam melakukan gerakannya. ( Author ga ikut ikut ya An.π)
"Ayo An, kita ke belakang. Liat liat persiapan di belakang." Ucap bunda setelah mereka menyelesaikan shalatnya.
__ADS_1
"Baik tante." Ana mengikuti langkah bunda setelah ia melepas mukenah dan melipatnya kembali hingga rapi.
Setelah selesai shalatnya. Ryan segera mendekati bunda. Ryan mengambil tangan kanan bunda dan mencium punggung tangannya. "Bunda mo ke mana?" Tanya Ryan.
"Bunda mo ke belakang. Mo liat liat persiapan di belakang." Jawab bunda.
"Hati hati, bunda jangan terlalu capek. Kan ada bude, yang mengkoordinir masalah konsumsi."
"Bunda hanya lihat lihat kok. Ya kan An." Ucap bunda seolah meminta dukungan kepada Ana.
"I.... Iya.... Pak." Jawab Ana tergagap.
"Kamu, tolong jagain bunda saya. Awas kalo ada apa apa kamu yang saya cari."
"Hush, kok ngomong nya gitu sama Ana. Ga baik lho. Ana ga salah apa apa. Bundanya yang mau. Bunda hanya liat liat saja. Ga ngapa ngapain. Sudah kamu pergi sambut tamu saja sana." Usir bunda. "Bunda insya Allah aman bersama Ana." Ucap bunda kembali.
"Assalamualaikum tante." Tiba tiba ada suara salam berasal dari arah belakang Ryan. Menginterupsi percakapan bunda dan Ryan.
"Waalaikummussalam.wr.wb." Ucap Ryan dan bunda bersamaan
Saat Ryan berbalik terlihat sesosok raga cantik berdiri tak jauh darinya. Raga tersebut mengembangkan senyumannya kepada Ryan dan Bundanya.
...///******///...
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like komen dan votenya ya. Yang Banyak banyak ya.. Makasih..
Bunga dan kopi nya juga boleh.. He..he.. he.. lupyu allπππ
Oiya, jangan lupa mampir juga ya di karya temanku. Moga kalian suka.ππ
Bersambung.
__ADS_1
.
.