
Ryan hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ocehan Edo sang ajudan. Mo gimana lagi. Mo marah ga bisa. Terpaksa Ryan hanya dapat mengelus dada bidangnya. "Sabar... Sabar...." Ucapnya dalam hati.
Dengan tangan yang masih terborgol bersama buruannya. Ryan terpaksa melangkahkan kakinya untuk pulang. Nanti di apartemen nya, akan ia usahakan untuk membuka borgol tersebut. Bagaimanapun caranya. Ga mungkin kan jika harus terborgol dengan seseorang yang bukan muhrimnya. Dua puluh empat jam full time. Membayangkannya saja sudah membuat nya pusing, apalagi nanti jika sudah dijalanin nantinya. Rencana awal setelah patrolinya selesai ia akan kembali ke markas. Namun sekarang mau tak mau ia harus pulang ke apartemennya terlebih dahulu. Baru ia memutuskan langkah selanjutnya. Apa yang akan ia lakukan.
"Do, saya pulang ke apartemen dulu. Kamu langsung pulang ke markas. Hubungi juga yang lain. Suruh kembali ke markas semuannya. Barang bukti tolong kau amankan di markas. Jangan lupa saat sampai di markas, kau cari kunci ni borgol. Lalu antarkan ke apartemen saya. Awas kalau tidak ketemu. Akan ada sangki buatmu. Khusus dari saya sangsinya." Ucap Ryan dengan tegas. Sebenarnya Ryan mempunyai rumah dinas. Tapi tak mungkin ia pulang ke rumah dinasnya dengan tangan terborgol, bersama seorang perempuan pula. Sedangkan statusnya belum menikah. Apakata dunia pikir Ryan. Seorang kimandan terborgol dengan seorang buruannya. Dan untungnya ia memiliki sebuah apartemen yang ia beli dari hasil kerja keras nya selama ini.
"Asiaap komandan... Akan saya laksanakan." Jawab Edo.
"Segera...!!!" Ucap Ryan dengan lantang.
"Asiaap komandan. Segera laksanakan."
Sang buruan yang sudah tertangkap dan terborgol tangannya hanya diam tak berbicara. Ia hanya memperhatikan dan mendengar setiap obrolan ke dua perwira tersebut. Wajahnya meringis menahan sakit. Akibat peluru yang menebus lengannya. Di tambah benturan saat menabrak badan jalan karena mengelak dari menabrak seekor kucing. Plus benturan saat ia terlempar dari kuda besinya dan mendarat di atas rumput hijau di pinggir jalan, lumayan membuat raganya serasa remuk redam. Tapi ia takkan memperlihatkan kesakitannya tersebut terhadap kedua perwira di depannya dan beberapa perwira lainnya yang ada di sana.
Ia mencoba untuk tidak mengeluh dan tetap kuat. Hanya wajahnya saja yang sesekali meringis menahan sakit. Namun hal tersebut tak di sadari oleh Ryan dan anak buahnya yang ada di sana.
Saat Ryan menarik tangannya untuk mengikuti langkahnya. Raganya hanya bisa mengikuti langkah tegap perwira tersebut tanpa mampu melawan. Sesekali ia masih meringis menahan sakit.
"Masuk...!!!" Perintah Ryan pada buruannya yang tangannya masih terborgol. Untuk memasuki mobil dari pintu samping kemudi. Sang buruanpun masuk ke dalam mobil. Lalu menggeser posisi duduknya pindah ke jok sebelahnya. Setelah sang buruan bergeser, Ryan pun mulai masuk ke dalam mobil dan duduk di depan kemudi. Sang buruan mengikuti perintah Ryan. Entahlah mengapa ia tak bisa membantah perintah yang diberikan oleh sang komandan. Apakah karna Aura sang komandan, atau karna raganya yang terlalu lelah untuk diajak berdebat. Sehingga tanpa perlawanan dan bantahan mengikuti apa saja perintah dari sang konandan.
Ryan mulai menstarter kendaraannya, dan mulai menjalankan kendaraannya. Sesekali ia melirik seseorang yang saat ini duduk di sampingnya dengan tangannya yang masih terborgol. Karena keadaan ini otomatis ia mengikuti kemanapun Ryan melangkah. Dan untungnya tangan kiri Ryan yang terborgol. dan tangan kanan sang perempuan yang terborgol. (Jika dilihat dari jauh, mereka seolah sedang bergandeng tangan. ๐) Sehingga Ryan masih bisa mengemudikan kendaraannya walaupun hanya dengan tangan sebelah ia memegang stir mobil. Tangan kirinya sesekali mengoper gigi dan kopling. Saat tangannya bergerak tangan sang perempuan pun ikut terangkat.
...*****...
Prang.... Suara benda berbahan kaca yang terjatuh ke lantai dan pecah menjadi pecahan beling. Saat tak sengaja benda tersebut terlepas dari genggaman tangannya, jatuh dan membentur lantai keramik yang dingin.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Semoga bukan firasat buruk dan semoga tak terjadi apa apa. Tapi kenapa hatiku menjadi gelisah seperti ini." Batin Cinta. Sekelebat bayangan Ana melintas di benaknya.
"Ya Tuhan, tolong lindungi adik ku, dimanapun dia berada." Ucapnya penuh harap.
...*****...
Sayup sayup terdengar suara orang mengaji berasal dari berbagai masjid dan mushollah sepanjang perjalanan yang mereka lalui. Terdengar juga sesekali suara kokok ayam jantan. Menandakan fajar mulai menyingsing.
Sepanjang perjalanan hanya kebisuan dan keheningan yang menemani mereka berdua. Ryan fokus kepada stir kemudinya, sembari menatap jauh ke depan memperhatikan rambu rambu jalan yang bertebaran di jalan yang mereka lalui. Sesekali ia juga melirik pada raga di sampingnya. Yang menatap jauh lewat kaca jendela samping mobil.
Tak berapa lama Ryan telah memasuki kawasan parkir apartemennya. Ryan memarkirkan kendarannya. Dan mematikan mesinnya. Menarik kunci kontak. Dan meletakkan di dalam saku seragamnya. Ryan keluar dari dalam mobil diikuti oleh sang perempuan. Saat mereka sudah keluar, Ryan menutupi tangan mereka yang terborgol dengan jaketnya.
Ryan memasuki apartemennya diikuti oleh sang perempuan. Terdengar sayup sayup suara azan .berkumandang telah sampai ke netra pendengarannya. Ryan bersiap akan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ryan berniat akan mengambil wudhu, ia melangkah memasuki kamar mandi.
"Kamu ngapain ngikutin ku?" Tanyanya pada sang perempuan. Tak ada jawaban dari sang perempuan. Hanya keheningan yang menjawabnya. Ryan baru menyadari mengapa sang perempuan mengikutinya, saat netranya tak sadar melihat kearah tangannya. Borgol masih setia membelenggu tangan mereka. Sang perempuan hanya memutar irish nya dengan malas, saat Ryan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Ryan mulai mendekati kran air. Ryan Memutar kran air. Membaca basmallah
ุจุณู ุงููู ุงูุฑุญู ู ุงูุฑุญูู .
Dan membaca niat wudhu.
Nawaitu wudhu'a lirofhil hadasitsl ashrori Fardhu lillahita'alah.
Lalu mencuci ke dua tangan sampai ke sela - sela sepuluh jari tangannya. Kumur - kumur sebanyak tiga kali. Mencuci hidungnya sebanyak tiga kali, membasuh mukanya sebanyak tiga kali. Lalu membasuh lengan kanannya sampai ke siku sebanyak tiga kali. kemudian lengan kirinya juga tiga kali. Mencuci kepalanya sebanyak tiga kali. Selanjutnya mencuci telinga kanannya sebanyak tiga kali, dilanjutkan ke telinga sebelah kiri juga sebanyak tiga kali. Terakhir ia mencuci kaki sebelah kanannya sembari membersihkan di sela jari - jari kakinya sebanyak tiga kali. Dilanjutkan kaki sebelah kiri.
__ADS_1
Selanjutnya Ryan menghadap ke arah kiblat, dan memulai membaca doa setelah berwudhu sembari menengadahkan tangannya.
Ashaduallah ilahailallah wa ashaduanna Muhammadarrasulullah. Allahummajalni minattawwabinna, waj'alni minal mutathohirin, waj'alni min ibadikah Sholihin. Lalu menghusap wajahnya menandakan ia telah selesai berdoa.
Saat berbalik tak sengaja ia menabrak raga di sampingnya. Raga itu terhuyung saat ditabrak raga tegapnya. Hampir saja raga tersebut jatuh. Refleks Ryan menangkap raga tersebut, agar tak terjatuh dan membentur lantai keramik yang dingin.
"Astaghfirullah..." Ucap Ryan langsung melepaskan tangannya. Saat raga tersebut telah kembali pada posisinya semula.
"Apa kataku tadi kan, gegara menyentuhmu. Aku harus mengulang kembali wudhu ku." Ucapnya dengan sedikit nada tinggi. Lalu ia melanjutkan kembali mengulang wudhunya.
Saat ini Ryan sangat berhati hati untuk tidak bersentuhan dengan raga ramping tersebut. Ryan menyadari jika raga tersebut sangat ramping saat tadi ia tak sengaja menangkap raganya agar tidak terjatuh.
Ryan berjalan keluar kamar mandi setelah selesai berwudhu.
...******...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, vote, dan rating bintang limanya ya guys.
Terima kasih sudah mampir ke karya recehku. Lupyu all๐
Oiya guys jangan lupa, mampir juga ke karya teman ku ya. moga kalian suka
Bersambung.
__ADS_1
.