Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Bertamu Kembali


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Tok .... Tok .... Tok ....


Suara ketukan di pintu terdengar nyaring di telinga Tasya yang saat itu sedang bersiap akan pergi. Rencananya hari ini ia akan menarik sejumlah uang dari ATM pribadinya pemberian sang kakek.


Tasya menarik uangnya untuk keperluan hidup sehari hari Cinta dan kedua saudaranya yaitu Bayu dan Mutiara. Selain keperluan sehari hari uang tersebut akan Tasya berikan juga untuk biaya pendidikan Bayu dan Mutiara hingga tamat sekolah dasarnya. Untuk jenjang lebih lanjut tentang masalah pendidikan kedua bocil tersebut, rencananya akan ia musyawarakan kepada sang kakek, supaya sang kakek mau menjadi donatur tetap untuk Bayu dan Mutiara. Syukur syukur kalau kakeknya mau mengadopsi ke dua bocil tersebut. Tasya merasa sangat senang, ia merasa tidak sendiri lagi, karena bisa memiliki saudara. Selama ini ia hidup hanya berdua dengan sang kakek sebagai keluarga kandungnya.


Membayangkan hal itu, senyum simpul menghiasi wajahnya yang cantik.


Tok .... Tok .... Tok ....


Suara letukan di pintu terdwngar kembali. Tasya bergegas membukakan pintu untuk sang tamu.


Krieett ....


Saat pintu terbuka Tasya kaget ternyata tamunya yang kemarin hari ini hadir kembali di muka rumahnya.


"Assalamualaikum," sapanya sembari memberi salam pada raga cantik yang telah terlihat rapi.


"Waalaikummussalam. Wr.wb, Ada apa ya tuan Ryan pagi pagi sudah bertandang ke rumah orang?" tanya Tasya dengan nada jutek.


"Aku mau mengambil sesuatu yang ketinggalan disini, waktu aku mampir kemarin!"


"Apa yang tertinggal?" tanya Tasya heran.


"Kelihatannya kamu mau pergi, bolehkah kalau kita pergi bareng?" Tawar Ryan pada raga ramping tersebut.


"Sepertinya kita tak searah!"


"Siapa bilang kita tak searah, coba sebutkan kau mau ke mana?" tanya Ryan sembari tersenyum dengan sangat manisnya.

__ADS_1


"Pokoknya kita tak searah, aku hanya mau ke ATM!"


"Oh, ke ATM. Mari aku antar. Dirimukan orang baru di negara ini. Biar aku antar agar tidak tersesat!" Tawar Ryan kembali.


"Aku takkan tersesat. Kan ada maps yang memandu jalanku!"


"Lebih enak Maps hidup, daripada maps mesin. Kau bisa langsung bertanya dan akan langsung mendapat jawabannya!" ujar Ryan mencoba memprovokasi nalar Tasya.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana!"


"Ayolah, kapan lagi kita akan bisa bertemu. Karena setelah ini kita mana tahu usia kita. Entah esok masih hidup atau sudah tiada!' Bujuk Ryan.


"Okelah kalau begitu aku ikut kamu, lumayan hemat bensin," ucap Tasya sembari nyengir, sifat bengalnya kembali muncul. "Ayo kita jalan sekarang!" Perintahnya.


"Ga pamit dulu sama kakakmu?"


"Sudah tadi pamitnya! Oh iya, katanya tadi tuan Ryan kemari mo ambil sesuatu yang tertinggal. Tidak mau diambil dulu barangnya yang tertinggal kemarin?" tawar Tasya.


"Ketemu? Dimana?" tanya Tasya heran. "Padahal kan dari tadi hanya berbicara padaku. Belum juga dicari apa yang tertinggal sudah bilang ketemu," gumam Tasya yang masih terdengar jelas di telinga Ryan.


Ryan tersenyum kala mendengar gumaman Tasya.


"Ayo kita berangkat sekarang!"


"Ayo ....!" ucap Tasya dan langsung menggandeng tangan Ryan.


Ryan terpaku kala menyadari raga ramping tersebut menggandeng tangannya.


"Ayo, kita pergi kenapa masih berdiri di sini. Kalau masih betah di sini, Biar aku pergi sendiri!" Tasya masih belum sadar jika raga tegap itu jantungnya saat ini dag, dig, dug. Dag, dig, dug, karena ulah Tasya. Tangan Tasya masih melingkar di lengan Ryan.


Hidup Tasya di kelilingi oleh kaum adam semenjak ia kecil, mulai dari kakeknya, pengasuhnya, penjaganya, ajudan kakeknya, dan para maid. Hanya beberapa yang berjenis kelamin perempuan. Jadi ia tak canggung lagi dengan yang namanya kaum adam. Tasya masih terbawa suasana saat bersama kakeknya. Hingga ia refleks menggandeng lengan kekar Ryan. Ia pikir biasa saja, tapi tidak buat Ryan. Entah seketika ia menjadi grogi sendiri, dan jantungnya seketika berdetak dengan cepat.

__ADS_1


"Astaghfirullah, ada ada saja kelakuan ni anak gadis orang. Ya Allah tolong hambamu ini. Jangan sampai saya khilaf," batinnya dalam hati.


"Ayo mo sampai kapan kita di sini. Jadi tidak perginya!" Suara Tasya kembali terdengar di indera pendengaran Ryan.


"Ok kita berangkat sekarang!" ucap Ryan pada akhirnya. Merekapun akhirnya pergi bersama.



Ana mulai terjaga dari tidurnya. Saat kesadarannya telah pulih. Netra nya memindai sekelilingnya. Ternyata sosok sang suami telah hilang entah ke mana.


"Dia itu kebiasaan, datang tak di undang. Pulang tak diantar," ujar Ana membatin.


"Inget sayangku, aku bisa mendengar apapun yang kau ucapkan tentangku. Aku pamit sebentar ada meeting dengan negara tetangga." Suara Chris menggema di indera pendengaran Ana.


"Iya ... Iya ... Aku ingat .... " jawab Ana, dan hanya di balas oleh hembusan semilir angin yang menerpa permukaan kulitnya.


...❤@@@@@❤...


Bersambung.



Judul : Halaman Terakhir Kisah Shabira


Napen : Smiling27


Setelah menyelesaikan halaman terakhir novelnya, Livia langsung mendapatkan banyak sekali hujatan dari para pembacanya. Hujatan itu mengakibatkan dirinya terseret masuk ke dalam dunia novelnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, Livia tersadar kini sudah masuk ke dalam raga Shabira Lawrence, tokoh utama yang telah ia buat menderita selama hidupnya.


Tantangan demi tantangan akan Livia hadapi kedepannya, jika tetap ingin melanjutkan kehidupan Shabira yang seharusnya mati di akhir ceritanya. Livia tahu betul bahwa semua orang selalu tidak berpihak pada Shabira, bahkan anggota keluarganya sendiri. Akankah Livia tetap melanjutkan hidupnya sebagai Shabira? Atau ia akan tetap mengakhiri halaman terakhir kisah Shabira dengan cara bunuh diri, sesuai alur cerita yang sudah ia tulis?


Ayo ikuti kisahnya!

__ADS_1



__ADS_2