Sang Ratu Malam.

Sang Ratu Malam.
Mengantar Pulang


__ADS_3

"Rumah kamu di mana, nanti langsung aku antar pulang ke rumahmu?"


"Tak perlu mengantarkan sampai rumah. Cukup turunkan saja aku di jalan XX."


"Kenapa turun di jalan?"


"Aku tak punya rumah. Jalanan adalah rumahku. Jadi turunkan saja aku di jalanXX." Ana menjawab tanpa melihat wajah Ryan. Netranya fokus menatap ke arah jalanan.


"Kalau tidak mau menyebutkan lokasi rumahmu. Maka kau akan ikut aku pulang ke apartemenku!"


"Enak saja, emang aku tahananmu!"


"Kalau ga mau, cepat katakan lokasi rumah mu!" Perintah Ryan.


"Ok, di jalan Xx, no.Xx, Rt.Xx. Sudah, puas lu!" ucap Ana berang.


Ryan melajukan kendaraannya menuju alamat yang telah disebutkan Ana barusan, tanpa memperhatikan ekspresi wajah Ana yang cemberut. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh.


...///******///...


Tok.... Tok.... Tok....


Cinta segera membuka pintu rumahnya. Saat terdengar suara ketukan di pintu rumahnya.


"Iya siapa ya?" tanya nya, saat ia membukakan pintu.


"Ananya ada?"


"Maaf dengan siapa ya?" tanya Cinta kembali.


"Saya Alex, temannya Ana. Ananya ada?" tanya Alex kepada Cinta.


"Maaf Ananya belum pulang. Ada yang bisa saya bantu atau mungkin ada yang mau disampaikan kepada Ana, nanti saya sampaikan saat ia pulang nanti," ucap Cinta memberi saran.


"Sepertinya tidak ada, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang." Alex lalu berlalu dari hadapan Cinta. Ia melangkah menuju kendaraannya yang terparkir di depan runah Ana.


"An, kamu dimana, ampe sekarang masih belum pulang juga. Moga tidak terjadi apa apa ya sama kamu. Terakhir kamu menghilang, pulangnya dalam keadaan babak belur. Moga kalu ini tidak ya An. Moga kali ini kamu pulang dengan selamat. Kakak selalu berdoa yang terbaik buatmu," batin Cinta bermonolog.


...///********///...


"Sudah sampai," ucap Ryan. Namun saat menatap raga di sampingnya, terlihat raga itu sedang terlelap.


"Hei, bangun...! Sudah sampai," ucap Ryan kembali sembari menyenggol raga itu. Beberapa kali di bangunkan masih tetap raga tersebut tak bergeming dari posisi tidur lelapnya.


Akhirnya Ryan hanya menunggui raga tersebut bangun, tanpa berniat membangunkan raga itu kembali.

__ADS_1


Tak berapa lama, baru terlihat pergerakkan dari raga ramping tersebut.


"Hoam.... Sudah sampai ya?" tanya Ana pada Ryan.


"Sudah dari tadi," ucap Ryan datar.


"Terima kasih sudah mengantarkanku," ucap Ana lalu membuka safetybealtnya. Dan membuka pintu mobil meninggalkan Ryan yang masih berada di belakang kemudi.


"Ngapain ngikutin langkahku?" tanya Ana saat melihat Ryan mengikuti langkahnya dari arah belakangnya.


"Hanya ingin memastikan, apakah ini benar alamat rumahmu, atau kau berbohong padaku," ucap Ryan masih terus mengikuti langkah Ana.


"Haish, terserahlah. Yang penting aku tidak berbohong padamu," jawab Ana tetap melajukan langkahnya menuju pintu rumah.


Tok.... Tok.... Tok....


Terdengar kembali suara ketukan di pintu, Cinta segera membuka pintu rumahnya.


"Ya ada apa lagi sih?" ucap Cinta. Di pikirnya Alex yang kembali mengetuk pintu rumahnya.


"Kakak...." Suara Ana menggangetkan Cinta yang terpaku di depan pintu.


"Ana, benarkah ini dirimu?" tanya Cinta.


"Iya kak, ini Ana. Baru beberapa hari juga Ana gak pulang, kakak udah lupa padaku," ucap Ana sembari memeluk raga mungil sang kakak.


"Siapa Alex?" Beo Ana.


"Dia bilang dia temanmu," jawab Cinta tanpa menyadari ada sesosok lagi raga seseorang bersama mereka saat itu.


"Maaf saya permisi dulu," ucap Ryan membuyarkan pertemuan antara Ana dan Cinta.


"Oh iya, silahkan," ucap Cinta. "Siapa dia?" tanya Cinta kepada Ana, setelah punggung Ryan terlihat menjauh dari hadapan mereka.


"Dia...?" tanya Ana memastikan.



"Iya dia. Siapa dia An?" tanya Cinta kembali.


"Bukan siapa siapa kak," jawab Ana seraya melangkah masuk ke dalam rumah setelah melerai pelukkannya.


"Seriusan, bukan siapa siapa. Trus ngapain dia ada di sini?" tanya Cinta kepo.


"Dia hanya mengantar Ana pulang kak," jelas Ana lalu melangkahkan kakinya memasuki bilik kamarnya.

__ADS_1


"Kalau bukan siapa siapa, ngapain juga dia repot repot mengantarmu pulang. Oh iya, ke mana saja kamu beberapa hari ini, gak pulang pulang. Kakak sampe marah sama Ivan, karena dia yang mengajakmu keluar, lalu tak kembali, baru sekarang kamu kembali. Tapi syukurlah kamu baik baik saja. Kakak sudah cemas memikirkan nasibmu. Kakak takut kejadian tempo hari terulang, kau pulang dalam keadaan babak belur," ucap Cinta panjang lebar meluapkan unek unek dalam hatinya.


"Maafkan Ana yang sudah membuat kakak khawatir. Ana ga bisa menghubungi kakak karrna ponsel Ana hilang. Dan Ana ga bawa uang untuk ongkos pulang."


"Jadi sebenarnya kamu ke mana. Dan ini baju siapa pula kau pakai. Tumben mau bedaster?" ucap Cinta masih penasaran.


"Oh ini daster bundanya Ryan kak, Ana ga bawa baju ganti. Untungnya bunya Ryan mo meminjamkan baju ini. Kalau tidak Ana ga ganti ganti baju hingga sekarang," jelas Ana.


"La kenapa pula bundanya Ryan meminjamkan bajunya. Kamu ke rumahnya Ryan?" tanya Cinta tambah curiga.


"Iya, Ana ga sengaja ngikut ke rumahnya Ryan. Saat itu Ayahnya Ryan kritis. lalu meninggal, Ana ga sadar ikut dalam mobil Ryan. Sampai ke rumahnya."


"La kenapa bisa ga sadar sih An, emang kamu pingsan?" tanya Cinta kembali.


"Ga tahu kak, Ana pusing. Nanti ya tanya jawabnya. Sekarang Ana mo mandi dulu. Mo bersih bersih," ucap Ana lalu memasukki kamar mandi.


"Hore kak Ana sudah pulang," ucap Bayu dan Mutiara saat melihat raga Ana yang baru keluar dari kamar mandi setelah bersih bersih.


"Hei, kakak ampir jatuh nih," ucap Ana menyeimbangkan tubuhnya. Saat dua raga mungil menubruknya, melepaskan rasa kangen dan rindu mereka.


"Kakak kemana saja. Bayu dan Mutiara kangen. Rumah jadi sepi ga ada kakak," ucap Bayu.


"Kakak ga ke mana mana kok. Kakak pergi melayat, ayahnya temen kakak meninggal dunia. Jadi beberapa hari ini kakak di rumahnya, hingga pemakaman jasad beliau." Ana menjelaskan kepada Bayu dan Mutiara prrihal kepergiannya.


"Oh jadi ayahnya temen kakak meninggal dunia," beo Bayu dan Mutiara.


"Iya sayang. Dan sekarang kakak mo ganti baju dulu. Mo ikut?" tawar Ana kepada kedua bocil itu.


"Ga ah, Bayu kan anak laki laki, masak mo ikut kak Ana ganti baju," jawab Bayu lalu melangkah pergi dari hadapan Ana.


"Mutiara mo ikut kakak, kita kan sama sama perempuan," ucap Mutiara sembari mengikuti langkah Ana yang memasuki bilik kamarnya kembali.


...///*******///...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, dan votenya. Yang BANYAK BANYAK yah..


Rating bintang lima nya juga jangan lupa ya.😂


Bunga dan kopinya juga boleh.


Terima kasih semuanya. Lupyu all.😍😍😍


Bersambung.


.

__ADS_1


.


__ADS_2