
Faiha tiba di rumah jam Empat sore, Papa dan Mama duduk di ruang tamu dengan Ayah dan juga bunda
" ternyata mama Rosi mamanya nak Ahmad to " ucap bunda
" Iya bun, saya juga tidak tahu kalau selama ini Faiha yang di ceritakan Ahmad itu Faiha putrinya bunda " jawab Mama
Bunda dan Mama tertawa kecil
" Mama dan Faiha sama sama kaget pertama kali ketemu tadi pagi" ucap Mama
" Apalagi kami di sini, Kok bisa barengan sama mama Ros dan juga Papa, tadi di telepon kata nak Ahmad, Faiha bersama orang tuanya. ternyata orang tuanya mama Ros dan Papa yang sudah kita kenal " jawab Bunda
" itulah namanya jodoh bunda " ucap Mama
" Ya, karna semua yang terjadi karena kehendak Allah " ucap Ayah
Tak lama, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah. Seorang Uztad turun di kursi penumpang di samping kemudi dengan Baju Koko, Sarung dan Pecinya.
Sedang dari kursi kemudi turunlah seorang laki laki dengan kemeja putih, sarung hitam dan peci hitamnya. Dialah Ahmad Sang calon Pengantin.
Keduanya melangkah mendekati pintu rumah sederhana tempat tinggal Faiha dan orang tuanya. Saat di depan pintu
"Assalamu'alaikum " ucap Ahmad dan uztad Rudi
" Wa'alaikum salam " jawab semuanya bersama
" Mari Uztad, Nak Ahmad silahkan " ucap Ayah mempersilahkan keduanya masuk dan duduk.
Papa, Mama, Uztad Rudi, Ayah, Ahmad dan berbincang ringan sambil menikmati suguhan kue kue ringan yang di bawa Sita tadi siang.
Ayah yang masih bimbang dan tak percaya ingin berbicara dengan Ahmad dan Faiha dari hati ke hati menanyakan keseriusan mereka tentang rencana Ijab dadakan ini akhirnya mengajak Ahmad ke dalam ruang tengah
" Nak Ahmad bisa ikut Ayah ke dalam sebentar? " tanya Ayah
" Baik Yah" jawab Ahmad
" Maaf Pak Uztad, Pak, Buk kami permisi sebentar " pamit Ayah
Semua mengangguk, Ayah berdiri dan melangkah ke dalam ruang tengah di ikuti Ahmad
Ayah meminta Ahmad untuk duduk lebih dulu karena Ayah akan memanggil Faiha yang sedang membantu bunda di dapur. Di pintu yang menghubungkan dapur dan uang tengah Ayah menyingkap kain yang menutupi keduanya
" Nduk Fai, sini sebentar " ucap Ayah yang hanya melongokkan sebagian badannya ke ruang dapur
Semua yang di dapur, melihat Ayah.
__ADS_1
" Njih Yah " ucap Faiha bergegas meletakkan piring dan serbet yang sedang dia pegang.
Ayah kembali berjalan mendekati Ahmad dan duduk di sampingnya, Faiha mengikuti Ayah dan duduk di samping Ayah
" Nak Ahmad, Apakah kamu benar benar Yakin dengan memilih Faiha sebagai istrimu? " tanya Ayah
" Insyaallah Ahmad Yakin Yah " jawab Ahmad
" Ayah pikir nak Ahmad sudah paham ketika Ijab Qobul sudah di ucapkan berarti ada janji di sana yang harus ditepati janji bukan hanya kepada Makluk tapi janji kepada sang pencipta Makhluk " ucap Ayah
" Saat itu juga Faiha adalah tanggung jawab Nak Ahmad maka segala apapun yang di lakukan Faiha yang selama ini menjadi tanggung jawab ayah menjadi berpindah ke bahumu. kamu bertanggung jawab membimbing agamanya dan menjaganya, memberikan nafkah kepadanya lahir dan batin, apa kamu siap?" ucap Ayah
" Insyaallah Yah, Ahmad Siap, saya niatkan ibadah untuk menyempurnakan agama saya, Do'akan kami yah, agar Allah ridho dengan pernikahan kami dan kami mendapat keberkahan dalam pernikahan kami nantinya " jawab Ahmad
" Aamiin " ucap semua dalam hati masing masing
Ayah menatap Faiha, Ayah tak membayangkan gadis kecilnya yang selama ini di sayanginya kini sudah dewasa dan akan segera menjadi seorang istri.
" Nduk, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Ayah menatap Faiha
" Iya Yah, ini lebih baik dari pada menambah dosa Faiha dan juga Kak Ahmad" jawab Faiha
" Apa kamu tidak kuatir nak Ahmad mencampakkanmu nantinya jika pernikahanmu hanya SAH secara agama saja Nduk? " tanya Ayah
" Terima kasih Fai, kamu sudah percaya padaku" batin Ahmad
" Baiklah, kalau ini sudah menjadi keputusan kalian Ayah sebagai orang tua merestui dan meridhoi pernikahan ini " ucap Ayah.
" Nak Ahmad, Jaga dan didiklah putri ayah dengan baik, jika nak Ahmad tak sanggup lagi mendidiknya jangan sakiti hatinya, kembalikan lagi putri ayah pada Ayah " pesan Ayah
" Njih Yah, Insyallah Ahmad akan melakukannya " jawab Ahmad
Ayah lega sudah berbicara pada Ahmad dan Faiha. Ayah meminta Faiha untuk menyiapkan dan menyajikan makan untuk tamunya, sementara Ayah dan Ahmad kembali ke ruang tamu.
Faiha harus bolak balik mengambil makanan dari dapur ke ruang tamu. Dan Ahmad yang duduk sedari tadi tanpa sadar melihat terus ke arah Faiha yang terlihat kerepotan harus bolak balik membawa makanan
" Jaga pandanganmu, tiga jam lagi halal harus sabar " goda papa yang dari tadi melihat ke arah Anaknya yang senyum senyum melihat calon isterinya
Ahmad yang sadar dengan perkataaan papa yang sedang menggodanya secepat mungkin menundukkan kepalanya karena malu, semua tertawa melihat tingkah Ahmad
" Papa kayak gak pernah muda deh..." ucap Mama yang kasihan melihat anaknya Malu
" Makanya itu ma, bener kata mereka kalau ingin segera nikah karna gak mau nambah dosa hahaha " ucap Papa
Ayah dan Uztad Rudi tersenyum melihat kehangatan keluarga Ahmad.
__ADS_1
Mereka menyantap makanan yang di hidangkan oleh bunda, makanan kiriman Ahmad tadi siang yang di kirim bersama hantaran pernikahan mereka.
Bayangkan satu mobil box penuh dengan hantaran pernikahan. Ada sasrahan untuk pengantin perempuan dari tas, baju, sepatu, kosmetik, sampai alat masak, ada makanan dari rendang, kare ayam, semur daging, gule kambing, ayam panggang, ikan goreng, bali telur, kering tempe, tahu bacem, nasi kebuli, sampai kentang mustafa, belum aneka kue basah dan kue kering, belum kue khas acara mantenan kue cucur, onde onde, jenang wajik, jadah putih, jadah merah, rengginan, sampai krupuk terasi. Semua Ahmad kirim agar tidak merepotkan sang calon mertua karena acara yang dadakan.
kebayang bagaimana mbak sita tadi pagi menyiapkannya???
...***Sulap aja mbak ya.......
...tolong dibantu ya teman teman***........
...bim salabim jadi apa...
...prok prok prok 👏🏻👏🏻👏🏻...
" Makan yang banyak Le, karna Ijab Qobul juga butuh tenaga apalagi malam pertama malah butuh banyak tenaga hahaha " ucap Papa
mereka semua tersenyum lagi mendengar godaan seorang papa pada putranya.
" pa, udah pa makan dulu jangan godain Ahmad terus, tu pipinya kan jadi merah " ucap mama
" Papanya nak Ahmad suka bercanda ya ternyata " ucap Bunda yang heran melihat sisi lain Papa
" Ya begitulah bun, kalau di rumah mereka suka bercanda jadi rumah pasti rame kalau keduanya ngumpul maaf ya bun kalau mengganggu" ucap Mama
" tidak apa, silahkan di nikmati saya permisi sebentar " ucap Bunda
Mereka mengangguk, dan meneruskan menikmati hidangan. Bunda ke dapur untuk mempersilahkan bu Dhe Um dan juga lik Yati makan juga namun
" Apa tidak mencurigakan, mendadak nikah? " ucap lik Yati
" Kita lihat saja, kalau terbukti berarti ya sekarang memang sudah hamil " ucap bu Dhe Um
Bunda yang tak sengaja mendengar pembicaraan tetangganya yang sedang membantunya di dapur menjadi sedih.
" Ya Allah, semoga Faiha hamilnya setelah dua tahun menikah aja biar tidak membawa Fitnah " ucap Bunda dalam hati
Jeder !
...Suara petir menggelegar...
...Kumenangis.........
...jangan lupa like, komen n vote nya...
...biar Author gak menangis karena menulis sia sia..........
__ADS_1