
Delapan bulan berlalu, Faiha dan teman temannya mengikuti sekolah online yang di rasakan tidak maksimal. Dia dan teman temannya juga harus mengikuti Ujian Akhir Nasional secara Online.
Beruntunglah mereka yang mempunyai Ponsel yang canggih dan di dukung dengan Jaringan internet yang bagus seperti Faiha.
Entah bagaimana nasib teman teman lain yang kurang mampu untuk mengikuti Ujian Nasional kali ini.
Acara pengumuman kelulusan juga di lakukan secara Virtual, Begitupun acara wisuda dan penerimaan ijazah, hanya perwakilan sepuluh besar siswa dengan nilai terbaik yang akan datang ke sekolah bersama wali untuk menerima ijazah secara simbolis. Selebihnya siswa akan di jadwal untuk datang bergiliran di jam dan hari yang berbeda untuk menerima ijazah.
Ahmad menyarankan Faiha untuk datang ke sekolah di dampingi Ayah sebagai walinya, karna Ahmad sendiri juga akan datang ke sekolah Faiha sebagai tamu kehormatan di sekolah Faiha.
Faiha mendapat nilai terbaik pertama di sekolah. Faiha sangat bahagia, Ayah bangga begitupun dengan Ahmad sang suami. Kepala sekolah tak kalah bangga karna selain nilai terbaik pertama di sekolahnya, Faiha juga mendapat nilai terbaik ke dua seprovinsi.
" Selamat Pak, isteri anda memang luar biasa " ucap kepala sekolah usai wisuda
" Terima kasih pak " ucap Ahmad
Ayah, Ahmad dan Faiha pulang dengan bahagia.
" Apa rencanamu ke depan Nduk?" tanya Ayah
" Belum tahu yah " jawab Faiha
" Apa kamu gak mau kuliah sayang?" tanya Ahmad
" Aku belum berfikir ke situ bi " ucap Faiha
" Kenapa? " tanya Ahmad
" Aku ingin jadi ibu rumah tangga aja bi " jawab Faiha
" Jadi ibu itu tak boleh berhenti meraih cita cita sayang, gapai mimpimu selagi masih muda " ucap Ahmad
" Suamimu sudah memberi ijin Nduk, selagi kamu bisa membagi waktu tak ada salahnya kamu melanjutkan pendidikanmu " ucap Ayah
" Nanti Faiha pikirkan lagi Yah, Faiha tidak ingin titel atau gelar saja, Faiha pengennya cuma ilmu Faiha nanti manfaat untuk sesama " ucap Faiha
" Ya, sebaik baik ilmu adalah yang paling bermanfaat untuk sesama " ucap Ayah
Faiha dan Ahmad mengantarkan Ayah pulang ke kampung. Mereka menginap semalam di rumah Ayah, baru keesokan paginya mereka kembali ke kota.
" Bi, aku kepikiran omongan ibu ibu di masjid tadi subuh " ucap Faiha di tengah perjalanan pulangnya.
" Kenapa?" tanya Ahmad
" Soal Anak, kenapa sehabis curret kemarin aku belum hamil lagi ya, padahal sudah hampir setahun " ucap Faiha
Ahmad meraih tangan dan menggenggam tangan isterinya kemudian mencium punggung tangan isterinya.
" Sayang, kenapa kamu memikirkan ucapan mereka. Jodoh, rezeki, maut itu urusan Allah " ucap Ahmad
" Saat Allah belum memberikannya untuk kita berarti itu belum rezeki kita " ucap Ahmad
" Iya bi, tapi aku hanya seorang perempuan yang lemah, yang juga akan sedih saat aku belum bisa memberikan keturunan untukmu bi " ucap Faiha
__ADS_1
Dan tak terasa air mata Faiha jatuh
Tes
" Sayang...." ucap Ahmad mencium kembali punggung tangan sang isteri
" Pasrahkan sama Allah, karna sebagai hamba kewajiban kita hanya ikhtiyar dan berdo'a " ucap Ahmad
Faiha mengusap air matanya
" Hal ini selalu mengganggu pikiranku selama ini, hingga aku tak berpikir untuk melanjutkan kuliah " ucap Faiha terisak
" Aku ingin menjadi wanita seutuhnya, mengurus rumah tangga, melayanimu dan mengurus anak anak kita. Aku ingin meraih surga dengan menjadi isteri dan ibu yang baik untuk kalian " ucap Faiha kembali meneteskan air mata
Ahmad menepikan mobil yang di kemudikannya dan berhenti. Ahmad merangkul membawa sang isteri dalam pelukannya. Faiha menangis tersedu dalam pelukan dada kekar sang suami.
" Sayang, kita harus sabar, ini ujian dari Allah untuk kita " ucap Ahmad mengelus punggung dan mencium kening isterinya yang masih terisak dalam pelukannya.
" Kita di uji dengan belum hadirnya buah hati di tengah tengah kehidupan kita, mungkin pasangan lainnya sudah punya banyak anak namun mereka di uji dengan ekonomi yang sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ada juga yang sudah ada anak ekonomi stabil namun mereka di uji dengan pasangannya yang berkhianat.
Semua rumah tangga punya ujiannya masing masing, itulah cara Allah menguji kesabaran hambanya " ucap Ahmad
Faiha menghentikan tangisnya, mengurai pelukan sang suami dan mengusap air matanya.
" Bi, bantu aku melewatinya. entah apa jadinya aku tanpamu " ucap Faiha
" Sayang, kita akan melewatinya bersama, karna kita ditakdirkan bersama untuk saling menguatkan. Bersabarlah ! " ucap Ahmad
" Ke rumah sakit ? siapa yang sakit bi ? kita mau jenguk siapa ? " tanya Faiha saat Ahmad membelokkan mobilnya di halaman sebuah rumah sakit ternama di kota di mana mereka tinggal
" Tidak ada sayang " jawab Ahmad
" Terus kita mau ngapain ke sini?" tanya Faiha
Ahmad mematikan mesin mobilnya setelah mendapat tempat parkir untuk mobilnya. Ahmad menghadap sang isteri dan menggenggam tangannya.
" Sayang, kita konsultasi ke dokter kandungan ya. Ini juga bentuk ikhtiyar kita " ucap Ahmad
Mata Faiha berkaca kaca, ada air di pelupuk matanya yang tampak akan terjatuh air mata haru.
" Terima kasih bi " ucap Faiha mencium pipi sang suami
" Yang sini belum " ucap Ahmad menunjuk pipi nya yang satu lagi
Faiha tersenyum dan mencubit perut sang suami tapi cubitan yang lembut, kemudian Faiha mencium pipi sang suami.
" Nanti di lanjut di rumah ya " ucap Ahmad mengedipkan sebelah matanya genit
" Apanya yang di lanjut ? " tanya Faiha
" Ya ciumannya dong sayang, itu juga bentuk ikhtiyar kita lo " ucap Ahmad masih menggoda sang isteri
" Maunya ! " ucap Faiha
__ADS_1
" Ya tau sendirilah, kita sama sama mau kan? " ucap Ahmad
Faiha tak menanggapi godaan suaminya, dia lebih memilih melepas safety beltnya dan bersiap untuk turun
" Sayang, mau kan? " ucap Ahmad menahan tangan Faiha yang hendak turun
Faiha mengangguk dan tersenyum pada sang suami
" Terima kasih " ucap Ahamd mengecup kening sang isteri
Mereka turun dan menuju pendaftaran di poli obgyn. Sampai di sana mereka tak perlu mengantri lagi karena mereka adalah pasien terakhir untuk praktek pagi ini. Suster mempersilahkan keduanya masuk ke dalam ruangan dokter. Dokter menyuruh Faiha berbaring di bantu suster. Dokter memeriksa rahim Faiha.
" Tidak ada masalah di rahim ibu " ucap Dokter
" Memang pasca curret ada beberapa pasien yang langsung bisa hamil kembali, namun ada juga yang membutuhkan waktu untuk bisa hamil kembali " ucap Dokter
" Apa kami membutuhkan therapy kesuburan dok?" tanya Ahmad
" Saya rasa belum perlu pak, saya lihat 3 hari ke depan ibu dalam masa subur. Saya akan berikan vitamin saja untuk ibu dan juga bapak " ucap Dokter
" Usahakan dalam minggu ini mengkonsumsi sayuran hijau, Alpukat, jeruk, telur, madu, susu, dan juga yougurt dan jangan mengkonsumsi fastfood dulu " ucap Dokter
Faiha dan Ahmad mengangguk
" Yang paling penting pikiran juga harus rileks , bahagia dan juga tidak boleh stress ya " tambah dokter
" Baik dok " ucap Ahmad
Dokter memberikan resep Vitamin untuk di tebus. Ahmad dan Faiha keluar dari ruang periksa dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah menebus vitamin, Ahmad menggandeng tangan Faiha menuju mobilnya.
" Zam " panggil seseorang saat Ahmad dan Faiha berada di lobby
Ahmad melihat ke arah sumber suara, dan menemukan seseora ng yang dikenalnya berjalan menghampirinya
.
.
Mampir yuuk di Novel ke duaku...jangan lupa juga dukung Author...
...OTW Melupakanmu...
seru banget ceritanya tetap banyak pelajaran yang bisa di ambil dalam ceritanya....
Dukung Author ya, cuman author pemula masih belajar dan masih banyak yang harus di perbaiki...
kritik dan saran yang membangun akan author terima dengan senang hati teriring do'a Jazaakumullahu Khoiron khatsiro....
...-----😍-----...
..."Allahumma sholli ala sayyidina muhammad"...
...-----😍-----...
__ADS_1