Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 23


__ADS_3

"Ahh, sakit, ini sangat sakit."Ucap Yuri sambil memegang perut bagian bawah nya.


Ini adalah pertama kalinya, bagaimana mungkin dia bisa langsung berjalan dan tidak merasakan sakit.


Haikal yang kaget pun bergegas menghampiri Yuri.


"Apa kau baik-baik saja?"Tanya nya sambil menatap Yuri dan memegang lengan Yuri.


"Mengapa ini sangat sakit? Saat ingin melangkah saja aku merasakan rasa yang begitu menyiksa ku, ini perih."Ucap nya sambil menahan sakit dan mengengam erat tangan Haikal.


Haikal yang juga tidak menyangka jika Yuri akan merasa sakit seperti ini merasa sedikit iba dan khawatir.


"Apakah aku membuat itu sangat perih?"Ucap Haikal melontarkan pertanyaan polos nya.


"Tidak, ini salah ku."Ucap Yuri tak kuasa untuk menyalah kan Haikal.


Namun saat Yuri ingin berdiri lagi tampa, basa-basi Haikal pun mengedong Yuri, dan membawa nya ke kamar mandi.


"Astaga,lepas kan aku! Aku bisa sendiri,ini tidak nyaman lepas kan."Pinta Yuri sedikit memberontak karena Haikal tiba-tiba saja mengendong nya.


"Jangan banyak Brontak atau kau akan jatuh."Ucap Haikal sambil berjalan menuju kamar mandi.


Mendengar kata jatuh, Yuri pun tidak lagi bersuara atau memberontak, Haikal cukup tinggi,jika dia jatuh bisa saja dia akan mengalami patah tulang dan itu mengerikan.


Setelah tiba di kamar mandi, Haikal menaruh Yuri ke dalam bathtub dan menyalakan air pengisi bathtub.


"Mandi lah dengan cepat, pangil aku jika ada sesuatu."Ucap Haikal yang merasa sedikit cangung dan kemudian berjalan keluar kamar mandi sambil menutup kembali pintu kamar mandi.


Yuri yang merasa bingung akan sikap Haikal pun hanya bisa terdiam, dia bingung melihat sikap suaminya itu yabg bisa tiba-tiba peduli, tiba-tiba galak,dan tiba-tiba dingin.


Namun ia pun mulai menepis pikiran nya terhadap Haikal dan mulai mandi.


Selama mandi, Yuri hanya bisa larut dalam pikirannya, sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.

__ADS_1


"Ibu, aku tidak menyangka hal sesulit ini akan menimpa diriku, aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai dengan sebuah kontrak, tapi aku malah semakin menjerumuskan diriku sendiri dengan melakukan hal itu, meskipun itu di luar kesadaran tapi aku benar-benar bodoh, bagaimana jika aku hamil? Ibu maaf kan aku,jika kau sudah sembuh nanti aku akan menjelaskan semuanya kepada mu aku siap dengan apa yang akan kau ucapkan aku tau aku bukan putri yang baik untuk ibu dan ayah."Batin Yuri dengan air mata yang mulai mengalir.


Yuri benar-benar bingung akan takdir kehidupan nya yang menjadi rumit seperti ini, dia tidak pernah berfikir akan melakukan itu dengan Haikal, dulu dia selalu berfikir untuk menyerah kan tubuh nya kepada laki-laki yang dia cintai setelah menikah, tetapi mengapa takdir nya bertolak belakang dengan apa yang dia impikan.


"Mengapa dunia tidak adil? Tuhan mengambil ayah ku dengan kecelakaan itu, ibu ku sakit dan aku harus mengorbankan diri untuk kesembuhan nya? Itu benar-benar pengorbanan yang sulit di jelaskan,tapi mengapa aku harus melakukan hal itu dengan kontrak pernikahan yang hanya enam bulan ini? Tuhan,apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang b


harus aku lakukan? Ayah aku tidak bisa mengujut kan impian mu menjadi seorang designer terkenal dan memiliki butik sendiri."Tangis Yuri pecah di dalam kamar mandi kedap suara itu.


Saat ini Yuri benar-benar menumpahkan rasa kesal, gelisah,dan juga kesedihan nya di dalam kamar mandi tersebut.


Sementara itu di kamar nya.


"Halo Oma."Ucap Haikal sambil menatap layar laptop nya.


"Haikal, anak nakal, mengapa baru menghubungi Oma sekarang? Di mana Yuri?"Tanya Oma dengan creocosan nya.


"Oma, maaf kan aku, tadi malam aku terlalu sibuk dan lelah, makanya aku tidak bisa menghubungi Oma, dan Yuri dia ada di kamar mandi."Ucap Haikal kepada Oma nya.


"Astaga Oma, jangan tanya hal itu."Ucap Haikal dengan wajah sedikit memerah karena malu.


"Yasudah, kalau begitu Oma tidak mau banyak menganggu kalian, Oma tutup dulu ya, sampai kan salam Oma kepada Yuri."Ucap Oma yang kemudian mematikan telpon Vidio itu secara sepihak.


"Oma tung ... "Ucap Haikal terhenti karena Oma sudah mematikan telepon Vidio tersebut.


Oma terlihat senang karena mendapat kabar dari Haikal, namun dirinya buru-buru mematikan terlapon tersebut karena tau jika seseorang saat ini sedang menguping dirinya.


"Huh, aku akan segera mendapatkan cicit dari Yuri."Ucap Oma dengan suara kuat nya.


"Dasar orang tua, menyebalkan sekali, dia pikir Haikal akan benar-benar menyentuh Yuri? Hah, harapan palsu saja, dan kau pun sebentar lagi akan aku buat pergi selama nya dari dunia ini."Batin Nisa yang ternyata sedari tadi sedang menguping di depan pintu kamar Oma.


"Hey, nona Hana, mengapa anda ada di depan pintu kamar Oma?"Tanya salah satu maid yang seperti nya ingin membawakan sarapan pagi untuk Oma.


"Oh,eh, em, kau ingin mengantar sarapan untuk Oma? Berikan padaku, biar aku saja yang membawa kan nya untuk Oma."Ucap Nisa terlihat kaget akan kedatangan maid tersebut.

__ADS_1


"Baik lah nona Hana, ini sarapan untuk Oma, terima kasih sudah mau membantu,aku akan kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan lain."Jelas maid itu dan kemudian pergi dari sana.


Nisa pun mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum palsu.


"Kesempatan Bagus."Batin nya sambil tersenyum miring menatap minuman yang ada di dalam nampan makanan tersebut.


Setelah melihat situasi sepi, Nisa pun menaruh makanan tersebut ke lantai terlebih dahulu dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana nya.


Dengan cepat dia pun menaruh seperti serbuk itu ke dalam makanan dan minuman yang akan dia berikan kepada Oma Sandra.


"Huh, ini tidak akan membuat mu mati sekarang, tapi cukup untuk membuat mu menderita perlahan."Batin Nisa yang kemudian kembali mengangkat nampan tersebut dan mulai mengetuk pintu kamar Oma.


Tok...tok...tok.


Suara ketukan di luar pintu kamar Oma.


"Silahkan masuk."Ucap Oma dari dalam kamar.


Nisa pun membuka pelan pintu kamar tersebut dan kemudian masuk sambil membawa nampan makanan di tangan nya.


"Oma, selama pagi."Ucap Nisa dengan wajah sok baik nya.


"Hana, mengapa kau?"Tanya Oma lagi.


"Tadi maid sedikit sibuk,dan meminta aku untuk mengantarkan makan ini kepada Oma."Bohong Nisa.


"Terima kasih, taruh saja di meja itu, aku akan memakan nya nanti."Ucap Oma.


"Oh, tidak apa-apa Oma, biar aku yang menyuapi Oma."Ucap Nisa terlihat memaksa Oma makan di depan matanya.


oma merasa sedikit bingung dengan raut wajah Nisa yang aneh seperti itu.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2