Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 55


__ADS_3

"Ya pak, silahkan."Ucap mama Rania sudah tidak sabar lagi untuk mendengarkan isi surat wasiat itu.


"Di dalam surat wasiat ini, tertulis, bahwa ... perusahaan terbesar, mansion, dan beberapa aset lain nya resmi di serah kan kepada tuan muda ... Haikal Suhendra, dan perusahaan cabang serta sebuah Fila di kota (L) di serahkan kepada tuan muda Gavin dan nyonya Rania."Ucap pengacara itu dengan suara lantang dan cukup membuat mama Rania mendengar nya dengan jelas.


"Apa-apaan?"Batin mama Rania kaget.


"Bagaimana? Apa anda sudah mendengar nya dengan baik? Atau ada pertanyaan lain?"Tanya pengacara tersebut.


"Tidak, tapi aku berencana untuk pergi melihat anak tiriku beberapa hari lagi, apa boleh aku sendiri saja yang menyerahkan surat itu untuk nya?"Ucap mama Rania dengan wajah tulus nya.


"Tidak bisa nyonya, aku sendiri lah yang akan menyerahkan surat wasiat itu kepada tuan muda Haikal, atas permintaan mendiang tuan Hendra."Jawab sang pengacara dengan tegas.


"Berapa lama lagi kira-kira anda bisa sampai ke sana pak?"Tanya mama Rania.


"Sekitar sebulan lagi, karena aku juga harus mengurus beberapa hal lain yang belum selesai."Jawab pengacara itu dengan tenang.


"Baik lah, kalau begitu, saya permisi dulu, terima kasih banyak."Ucap mam Rania.


"Iya, sama-sama."Ucap sang pengacara tersenyum tipis.

__ADS_1


Setelah berpamitan,mama Rania pun keluar dari kantor pengacara tersebut, dan masuk ke dalam mobil nya.


"Tua bangka menyebalkan, sudah mati saja dia masih membuat aku kerepotan, selama ini aku dan anakku lah yang ada di sisi nya saat dia sakit dan mati, tapi mengapa dia menyerahkan perusahaan besar itu kepada anak sialan nya itu! Aku tidak boleh membiarkan ini semua terjadi!"Ucap mama Rania yang kemudian mengambil ponsel dari dalam tas nya dan menelpon seseorang.


Call on


"Hallo, ada yang bisa aku bantu?"Ucap orang di sebrang telpon tudepoin.


"Ya, aku memang membutuhkan bantuan mu, kau harus membantu ku sekarang juga."Ucap mama Rania dengan smrik jahat nya.


"Datang lah ke apertemen ku, aku menunggu mu."Ucap orang itu lagi seolah sangat menantikan kedatangan mama Rania.


Call of.


"Akhirnya, aku membutuhkan orang itu juga, malas sekali, tapi aku tidak punya pilihan lain."Ucap mama Rania yang kemudian menyalakan mesin mobil nya dan bergegas meninggalkan kantor pengacara papa Hendra.


Tidak butuh waktu lama, mama Rania pun tiba di sebuah apertemen, dia memarkirkan mobilnya dan buru-buru masuk ke dalam apertemen itu.


"Selamat datang, Rania, akhirnya kau menemaniku juga."Ucap seorang laki-laki yang saat itu sedang duduk santai di atas sofa ruang tengah apertemen nya.

__ADS_1


"Tidak usah banyak omong,aku ke sini hanya ingin kau membantuku mengubah surat wasiat dari Hendra."Ucap mama Rania tudepoin.


"Apa? Hendra sudah mati?"Tanya laki-laki itu kaget.


"Ya, dan dia menyerahkan seluruh kekayaan nya di kota xx untuk putra tunggal nya, dan kau tau Gavin hanya mendapatkan jatah untuk mengurus perusahaan cabang dan juga sebuah Fila yang sekarang kami tempati,itu benar-benar tidak adil, Herman, kau harus membantu anak mu!"Ucap mama Rania berjalan mendekati laki-laki itu dan duduk di sebelah nya.


Ya, laki-laki itu, dia adalah ayah kandung Gavin "Herman" Beberapa bulan lalu, dia pindah ke kota itu dan Tampa sengaja bertemu dengan mama Rania di sebuah mall, sejak itu lah, mereka kembali saling berhubungan satu sama lain.


"Sudah ku duga, Hendra adalah orang yang pintar, dia pasti tau jika Gavin bukan lah anak kandung nya."Ucap Herman kepada Rania.


"Apa? Bagaimana dia bisa tau?"Tanya mama Rania kebingungan.


"Sudah lah, lupakan soal itu, aku akan membantu kalian mendapatkan seluruh harta Hendra, karena Gavin adalah anak ku, dan ingat, setelah mendapat kan kau harus berjanji kepada ku untuk hidup bersama dengan ku dan Gavin juga."Ucap Herman memegang dagu mama Rania.


"Itu bukan lah hal sulit, yang penting kita harus mendapatkan harta dan semua yang di miliki oleh anak tunggal Hendra."Ucap mama Rania dengan sorot mata tajam nya yang mengerikan.


"Baik lah, malam ini kau cukup di sini menemani aku, aku pasti kan surat wasiat palsu nya akan jadi dua hari lagi."Ucap Herman dengan wajah licik nya.


Malam itu mama Rania pun menginap di apertemen Herman dan melayani apa yang di inginkan Herman, lagipula ini bukan pertama kalinya, mereka bahkan sudah berselingkuh sejak papa Hendra masih hidup.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2